Tampilkan postingan dengan label budiarto shambazy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budiarto shambazy. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 November 2010

Warkop dan Buku Penebusan Dosa

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


"Comedy is tragedy
that happens to other people.
"
-Angela Carter (1940-1992),
novelis Inggris.

Warkop nampaknya tidak mengenal ucapan itu.
Semoga dugaan di atas itu salah adanya.

Untuk membuktikannya, publik humor Indonesia dapat melongokinya dalam buku tentang Warkop yang terbit bulan ini. Diluncurkan di Jakarta, 10 November 2010, dengan judul Main-main Jadi Bukan Main, yang ditulis mantan wartawan Kompas, Rudy Badil, yang juga pendiri kelompok lawak bersama Indro Warkop.

Seperti dilansir Kompas.com, Indro Warkop menuturkan di tengah peluncuran buku tersebut bahwa komedi itu harus mencerdaskan dan juga berkonsep. Tidak cuma sekadar mengundang tawa dengan hanya mengolok-olok sesama rekan pelawak. Komedi juga, kata dia, adalah sesuatu yang serius, bukan main-main.

"Buat kami komedi itu adalah hal yang serius. Tanpa keseriusan tak akan lahir yang namanya komedi," ujarnya. Dikatakan oleh satu-satunya pelawak Warkop yang masih hidup itu-setelah dua rekannya Dono dan Kasino wafat beberapa waktu lalu, komedi bukan sekadar lucu-lucuan, melainkan juga harus punya muatan yang mencerdaskan. Keseriusan untuk menularkan kecerdasan itulah yang kemudian mendorong dibuatnya buku tersebut.

Buku setebal 300 halaman itu melibatkan delapan penulis yang mencoba menghadirkan perspektif dari masing-masing penulis terhadap grup lawak legendaris ini. Mereka di antaranya Rudy Badil, mantan wartawan Kompas yang juga pendiri grup lawak Warkop, pengamat politik Budiarto Shambazy ("Mas Bas ini telah menulis endorsement untuk buku saya, Komedikus Erektus"), pengamat musik Denny Sakrie, budayawan Mohamad Sobary, Johannes Soerjoko, Frans Sartono, dan Dahono Fitrianto.

Apakah tidak ada nama Effendi Gazali di sana ? Kalau benar, pantas disayangkan karena dirinya ("yang telah pula menulis endorsement untuk buku saya, Komedikus Erektus"), sangat mengenal Wahyu "Dono Warkop" Sardono. Tidak hanya sebagai sesama akademisi di FSIP-UI tetapi juga pernah terlibat dalam diskusi kritis mengenai arah lawakan Warkop saat itu.

Saya sendiri tidak mengenal Dono secara pribadi. Akhir tahun 70-an di gedung bioskop Fajar di Solo, ketika terbius oleh promosi koran untuk menonton film perdananya, judulnya lupa, saya menontonnya.Sesudah itu, saya merasakan betapa mudah ketika menahan diri untuk tidak lagi tergoda menonton ketika membaca iklan-iklan dan promosi film-film Warkop berikutnya.

Tahun 1980 ketika berkuliah di UI, sesekali saya melihat Dono, juga Imam Prasojo sampai Yusril Ihza Mahendra, lagi nongkrong di warungnya Tuti, di kompleks Asrama UI Daksinapati, Rawamangun.

Effendi Gazali seperti tertuang dalam artikelnya berjudul "Dono dan Tolak Politisi Busuk" di Kompas, 30/12/2003, menceritakan betapa Dono memimpikan hadirnya lawakan cerdas, tetapi saat itu belum mungkin. Hal ini, menurutnya, terjadi akibat tekanan kebijakan TVRI saat itu. Juga tekanan politik dan ekonomi di era Orde Baru yang represif.

Effendi Gazali yang di tahun 1983 ketika duduk di SMA adalah juara melawak se-Propinsi Sumatera Barat, kemudian mengutip pertanyaan Dono : "Mungkinkah bikin lawakan a la Jay Leno atau David Letterman Show ?" Effendi pun membalas : "Kalau rakyat kita selalu dianggap tidak mampu mengerti lawakan cerdas, cita-cita itu pun akan menjadi in your dreams."

Proklamasi klise. Promosi Indro di atas bahwa komedi itu serius, tentu saja bukan hal baru. Proklamasi lama. Malah klise. Kurang kredibel. Karena publik humor Indonesia lebih mengenal tokoh-tokoh seperti almarhum Gus Dur, almarhum Arwah Setiawan sampai Jaya Suprana yang belum almarhum sampai saat ini, bahkan di saat Warkop masih merajalela dengan film-film komedinya yang terkenal "tidak cerdas" itu, mereka sudah pula tak jemu-jemu mengatakannya.

Bahkan, seperti ditunjukkan dalam sejarah hidup seorang Arwah Setiawan, dirinya telah bekerja keras dalam menyebarkan pemahaman yang luhur tersebut.

Walau pun demikian, terima kasih untuk Indro Warkop, yang telah sudi kembali mengingatkan hal penting itu. Merujuk penekanan itu kiranya publik humor Indonesia berharap sumbangan dari delapan penulis yang terkenal dan memiliki kapasitas yang terpercaya itu akan mampu mengelaborasi apa yang dikatakan Indro tersebut. Misalnya dalam bentuk memberikan tonggak-tonggak pemikiran yang cerdas demi menunjang perkembangan komedi Indonesia di masa datang.

Tetapi kita juga boleh ragu untuk mengharap terlalu banyak. Karena Rudy Badil sudah wanti-wanti, dengan berkata : "Pesan dari buku ini adalah pertemanan bagaimana mereka harus saling mengisi. Ini bisa dijadikan cerminan buat grup-grup lawak yang ada sekarang ini," kata Rudy Badil. Lanjutnya, "Buku ini lebih berisi suka duka dan fase kecil Warung Kopi. Ini bukan buku panduan bagaimana bisa melawak, tapi lebih pada proses kreativitas dan pertemanan."

Buku ini nampaknya memang tentang masa lalu.
Juga cocok untuk masa lalu.

Bahkan Indro Warkop menyebutnya sebagai buku kenangan. "Terus terang, obsesi saya hanya buku ini. Karena mungkin ini pelaku sejarahnya masih ada. Saya sudah kehilangan tiga sahabat. Kalau kemudian kehilangan lagi pelaku sejarahnya, mungkin saya nggak akan bikin buku," ujarnya lebih lanjut.

Buku ini nampaknya memang sebuah nyanyian angsa. Buku perpisahan. Karena publik Indonesia, bila mau jeli mencatat dan melihat aksi-aksi Indro sendiri dalam bermain komedi di televisi jauh sesudah dua rekannya tiada, nampaknya memang tidak banyak warisan berharga yang bisa kita harapkan lagi dari dirinya.

Buku itu kiranya menjadi warisan terakhirnya. Tentu saja berharga, dengan catatan : kalau isinya mampu membuat pembaca yang cerdas menjadi tertawa. Terutama mereka yang tidak bisa tertawa, apalagi muak, melihat suguhan komedi-komedi bodoh dari film-filmnya selama ini. Bila itu yang terjadi, maka buku ini bakal menjadi buku kenangan yang istimewa.

Terlebih lagi bila kita nanti disuguhi rentetan cerita-cerita true story yang kaya mengenai tragedi demi tragedi (dua personilnya meninggal karena kanker, antara lain karena ignoransi), juga paparan yang menghumori kekonyolan atau kebodohan, self-deprecating, dari personil Warkop yang selama ini mungkin melulu tersembunyi di balik layar. Paparan kisah semacam yang diogahi para pemimpin kita yang mengagung-agungkan pencitraan ini, jelas akan membuat kita sebagai manusia menjadi percaya bahwa Warkop juga mengenal inti ajaran luhur Angela Carter di atas.

Karena inilah saat terakhirnya, menurut hemat saya, melalui buku itu, sejarah hidup Warkop dibuka dan dipanggungkan dengan total untuk menjadi bulan-bulanan tawa audien pembacanya. Untuk menguak kesejatian darah humor dalam nadinya, sebagaimana seorang Bert Williams pernah menyabdakan bahwa "the man with the real sense of humor is the man who can put himself in the spectator's place and laugh at his own misfortune."

Karena hanya dengan sikap rendah hati itu, dengan selera humor yang sejati itu, maka akan semakin lengkap potret misi keberadaan mereka. Selain di panggung hiburan dan terutama di panggung kehidupan sebagai manusia, di mana kisah-kisah hidup mereka berpeluang mampu untuk merasuki kalbu-kalbu pembacanya.

Junk memory. Kalau tidak, boleh jadi kita akan hanya mampu mengenang saat film-film Warkop selalu diputar di televisi. Utamanya di saat-saat kita merayakan hari lebaran. Di saat kita dengan tulus saling bermaaf-maafan dengan sesama.

Tetapi tidak ada maaf untuk produsen film-film Warkop. Karena cakar merekalah yang membuat tiga atau empat insan kocak Warkop itu hanya menjadi ikon yang ndesel-ndesel, yang bersikeras memaksa masuk, tetapi akhirnya hanya sebagai junk memory dari khasanah kenangan budaya populer kita.

Tidak ada maaf pula karena mereka telah rela menjadi tahanan jeruji besi industri tontonan komersial yang mencekik nalar sehat, yang tidak seperti diangankan oleh Indro Warkop saat ini, nyatanya memang jauh dari selera cerdas dan cendekia.

Sehingga buku ini, dengan memohon maaf, menurut saya sepertinya cocok bila kita anggap sebagai upaya Warkop untuk melakukan upacara ruwatan atau penebusan dosa. Walau sebenarnya akan lebih menyentuh lagi bila Indrojoyo Kusumonegoro pribadi, sebagai the last Mohican, yang menulisnya sendiri.

Tetapi sepertinya, sebagai hal kronis yang menyerimpung otak komedian-komedian lainnya di Indonesia, ia tidak mampu melakukannya. Nampaknya sosok Wahyu "Dono Warkop" Sardono merupakan tokoh dominan, termasuk sebagai penulis naskah dan otak terbaik dari sukses Warkop selama ini. Tetapi kita tahu, pada tanggal 30 Desember 2001, Dono telah mendahului kita semua.

Indro Warkop kini melakukannya dengan meminjam tangan-tangan orang lain. Bukan keputusan yang buruk. Sebelum semuanya menjadi sangat terlambat.

Semoga saja mereka-mereka itu mampu mengambil peran bukan sebagai tukang-tukang sepuh emas untuk mempercantik kaleng yang berkarat. Bila harapan itu terpenuhi, maka kehadiran buku langka ini pantas kita sambut hangat.


Wonogiri, 13 November 2010

Sabtu, 05 Juni 2010

Kita 100 Tahun Lagi Menanti Obama Tiba

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Rasan-rasan Budiarto Shambazy, wartawan senior Kompas, akhirnya menjadi kenyataan. Barack Obama gagal lagi berkunjung ke Indonesia. Rumor pun segera berseliweran.

Obama telah menelpon SBY (4/6/2010), meminta maaf, karena menunda kunjungannya ke Indonesia. Seharusnya ia tiba pertengahan Juni ini, tetapi memutuskan diundur pada bulan November 2010 mendatang.

Dengan alasan : Obama ingin berkonsentrasi mencari solusi atas bencana lingkungan hidup yang konon terdahsyat di AS hingga saat ini : tumpahan minyak pada ladang pengeboran milik British Petroleum (BP) di kawasan Teluk Meksiko.

Kabar burung pun segera menyebar. Penundaan kunjungan Obama itu konon dilakukan atas saran Indonesia. Terlebih lagi, karena situasi Indonesia sendiri memang kurang kondusif saat ini. Wartawan senior Kompas Budiarto Shambazy (foto) telah mengutarakan analisis yang menarik.

Ia yang piawai dan tajam menulis tentang politik, satir politik (dengan idola komedian politik top Bill Maher), sepakbola sampai musik 70-80-an terentang dari Led Zeppelin sampai The Rolling Stone, dan bersedia pula menulis endorsement untuk buku Komedikus Erektus saya ("isinya bikin kepala saya bengkak"- BH), dalam status di akun Facebooknya mengatakan bahwa dampak penyerbuan pasukan komando Israel terhadap kapal Mavi Marmara yang bermisikan kemanusiaan ke Gaza baru-baru ini hanya akan memicu panen raya demo ketika Obama tiba di Indonesia.

Rupanya Gedung Putih mendengar analisisnya itu, tetapi bencana di Teluk Meksiko yang mereka jadikan bemper alasan.

Kabar burung lain, Obama menunda kehadirannya karena dia tidak ingin mengusik kekhusukan rakyat Indonesia. Utamanya karena selama bulan Juni-Juli ini penduduk negara gila bola tetapi timnasnya memble di Asia Tenggara ini memilih untuk hanyut dan terbius oleh sajian laga pemain sepakbola top dunia di arena Piala Dunia 2010 Afrika Selatan.

Alasan ini, lagi-lagi, konon diusulkan oleh fihak Indonesia. Dengan alasan, demi strategi citra dan taktik kehumasan. Untuk hal satu ini, sejak SBY memerintah, Indonesia kini memang dikenal di dunia dengan strategi yang terkenal sebagai pemberdayaan kekuatan lunak, soft power itu, dan Gedung Putih pun nampak mengamininya.

Karena lucu juga, betapa kehadiran presiden negara adi daya itu nantinya justru dicuekkan oleh rakyat Indonesia yang lebih suka membicarakan Didier Drogba, Shunsuke Nakamura, sampai Lionel Messi. Penasehat kehumasan Obama rupanya maklum akan posisi itu dan mereka dengan rendah hati menyetujui usulan Indonesia yang masuk akal itu.

Tetapi ada juga alasan berbasis kekuatan lunak yang tidak banyak menyeruak ke telinga publik. Tetapi menggema di lingkaran industri musik dunia. Rumor yang santer beredar bahwa penundaan kunjungan Obama itu dilakukan karena rakyat Amerika Serikat mendengar kabar bahwa Presiden SBY akan menciptakan lagu-lagu spesial untuk mantan murid SD di Menteng itu. "Kita berikan waktu yang cukup sampai November, agar SBY lebih tenang dalam mencipta lagu agar berpeluang menjadi hit dunia," kata Roger Eissenblatt, redaktur majalah bisnis musik dunia Billabong Boards.

Ia merujuk isi majalah TIME edisi 8 March 2010 dalam sudut Short List (TIME's Picks For The Week) yang berisi daftar DVD, CD dan film yang ngetop. Lagu ciptaan SBY, "Ku yakin Sampai di Sana" (diterjemahkan menjadi "I'm Sure We'll Get There") berada di peringkat kedua dari lima nomor yang tampil. Bahkan telah dikomentari majalah itu sebagai "mediocre music, but a fabulous curiosity piece."

Lagu terbaru andalan SBY untuk menyambut Obama itu konon berjudul sementara "Menteng Dalam, Not Menteng Gedongan." Isi albumnya antara lain diperkaya dengan nomor-nomor populis berjudul "Kompor Gas Meleduk Ramai-Ramai," "Tarif PLN Nyetroom Lagi," "Meteor Ngibrit," "Anas Terpilih, Tapi Bukan Pilihanku," sampai judul "IBM-1 : Ibas Mallarangeng, Pemimpin Sinergi Masa Depan."

Untuk menunjukkan kelokalan, iramanya memang kental bergaya gambang kromong. Tetapi sebagian orang lingkaran dalam istana mengusulkan adanya sentuhan bernuansa global. "Sehingga harus juga kuat unsur hip-hop yang mendunia," katanya. Kata pendukung globalisasi ini, "itu lho, seperti lagunya K'naan, 'Waving Flag yang menjadi lagu tema Piala Dunia 2010 Afrika Selatan."

Suara yang mendukung lokal vs suara global itu kini sedang sengit berdiskusi. Dan seperti biasanya, seperti sering dikatakan oleh juru bicara kepresidenan, bahwa RI-1 akan menyerap segala pertimbangan dan akan memutuskannya bila waktunya sudah tepat dan secara terukur pula nantinya.

Yang pasti, rakyat Indonesia harus bersabar lagi, untuk kembali lagi menanti kedatangan Obama. Rakyat Indonesia punya kesabaran yang tinggi. Kita pun akan bertoleransi bila kunjungan Obama itu baru akan terlaksana 100 tahun lagi. Tetapi kalau ia menunda kunjungannya ke Indonesia dan Australia gara-gara ingin menyelesaikan dulu bencana lingkungan di Teluk Meksiko itu, barangkali kita semua bisa bercermin. Untuk mengambil hikmah.

Kalau saja pemimpin kita memiliki kepedulian seluhur dia, maka sejak meluapnya lumpur panas Lapindo di Porong empat tahun lalu itu maka seharusnya tidak ada kunjungan presiden-presiden kita ke luar negeri. Dan kalau bencana Lapindo itu diperkirakan akan baru surut 50-100 tahun lagi, mungkin nasib presiden-presiden kita seperti para pemimpin junta militer yang opresif di Birma.

Kita doakan Obama sukses menuntaskan bencana luberan minyak BP di Teluk Meksiko itu. Ketika ia datang, kita bisa banyak bertanya. Siapa tahu resepnya itu bisa pula dipergunakan untuk mengakhiri penderitaan rakyat Porong sejak 4 tahun itu. Atau mungkin kemudian "lelaki itu" yang tokoh kuat di Indonesia bisa mengajak Obama bercanda :

"Kalau orang seperti Sri Mulyani Indrawati bisa saya paksa pergi ke Amerika Serikat, lalu sebentar lagi Dino Patti Djalal diangkat menjadi duta besar Indonesia di Amerika Serikat, bagaimana kalau kita meminta bantuan Sukosrono agar bencana lumpur panas Sidoarjo itu bisa saya pindahkan ke Amerika Serikat juga ?"

Wonogiri, 5 Juni 2010