Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
Pengarang buku, sebaiknya semi famous.
Maksudnya, agak-agak terkenal, kira-kira begitulah. Karena keterkenalan membawa berkah. Bagi penulis dan juga bagi buku karyanya.
Bagaimana caranya menjadi agak-agak terkenal itu ? Menurut Burke Allen, apabila Anda mampu membuat proposisi yang unik dan menarik sehingga mampu menyentuh emosi, orang-orang akan antri untuk berbicara kepada Anda ketika tampil di televisi, radio, Internet dan di media cetak.
Hal yang menarik, lanjut Burke Allen, semua hal itu seringkali tidak terkait dengan buku Anda karena media tertarik mewawancarai Anda, bukan hendak membahas buku Anda. Tetapi semua media itu akan mengijinkan Anda untuk memamerkan buku Anda, sehingga buku Anda tersebut berkesempatan tampil dalami liputan yang menguntungkan.
Hari Selasa (12/7/2011) saya mengalami persis hal di atas. Saat itu saya mengikuti audisi Stand-Up Comedy Indonesia yang diselenggarakan oleh KompasTV. Lokasi audisi di Liquid Café, Jl. Magelang, Yogyakarta. Dalam foto saya bersama Imot a.k.a. Sigit Hariyo Seno, anak muda Yogya yang sengaja mau jatuh-bangun merintis karier sebagai komedian tunggal, dan akhirnya sering mengisi pagelaran di Kafe Jendelo, Yogya. Ia lolos audisi di Yogya itu.
Dari rumah Wonogiri saya berangkat jam 5 pagi. Di dalam tas saya berisi buku biografi Warkop, Main-Main Menjadi Bukan Main (2010) dan enam buku saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010).
Buku pertama itu akan saya mintakan tanda tangan kepada penulisnya, pelawak Indro Warkop, yang menjadi juri audisi. Sedang buku saya, rencananya akan saya berikan kepada Indro Warkop, Butet Kertarajasa (juri kedua), artis Astrid Tiar, dan host acara itu, Panji Pragiwaksono dan Raditya Dika.
Hal tak terduga kemudian terjadi. Sebelum audisi berlangsung, saya diwawancarai mBak Dossy dari Kompas TV. Ia bertanya mengenai minat saya mengenai dunia komedi dan apa saja yang telah saya kerjakan selama ini. Singkat cerita, saya juga menunjukkan buku saya ini.
Sejurus kemudian ia melakukan koordinasi dengan sutradara lapangan dan kameraman. Selanjutnya meminta saya keluar ruangan untuk syuting pembuatan videoklip yang menggambarkan profil diri saya.
Begitulah kejadiannya, berkat bawa-bawa buku, saya hari itu rupanya telah menjadi semi terkenal. Sebagian peserta audisi lainnya, yang baru pertama kali bertemu, malah ada yang bertanya tentang buku saya berikutnya.
Di bawah todongan kameranya Mas Oman, disutradai mas Arif, saya diminta akting menyeberang jalan, lalu berhenti menatap papan nama kafe, disusul menceritakan niat ikut audisi, dan juga membuat sampul buku saya nampak di-close-up habis-habisan.
Audisi saya hari itu memang tidak berhasil. Tetapi rencana-rencana saya terkait buku, berhasil saya laksanakan.
Saya bisa meminta tanda tangan, sekaligus berkenalan secara akrab, dengan Indro Warkop dan Butet Kertarejasa, yang walau baru saja “membantai” saya sehingga tidak lolos audisi. Kepada mereka, saya berikan pula buku saya, dan gentian Indro Warkop yang meminta tanda tangan saya.
Keluar dari panggung audisi, kejutan lain menunggu. Saat itu saya langsung diajak mengobrol dengan mBak Argalaras, associate producer dari KompasTV. Kami saling bertukar kartu nama. Dalam keremangan kafe (walau siang hari), saya sebut namanya indah. Ia juga cantik sekali.
Kita kemudian bertukar visi mengenai apa yang bisa kami kerjakan kelak untuk menunjang keberhasilan audisi komedian tunggal ini. Kepada dirinya, juga saya berikan buku saya. Konon, klip itu akan ditayangkan pada bulan September 2011 mendatang.
Pengalaman yang unik.
Berkat buku, ketika sebuah pintu tertutup, ternyata masih ada jendela-jendela peluang lain yang kemudian terbuka. Apakah Anda pernah mengalami hal yang sama dengan buku-buku Anda ? Saya menantikan cerita Anda.
Wonogiri, 13/7/2011
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Rabu, 13 Juli 2011
Sabtu, 13 Maret 2010
Diana AV Sasa, Buku dan Saya
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
Pacitan dan pemberontakan.
Kaitan antara keduanya hidup dalam benak saya. Terbingkai dalam pigura kenangan, tentang siluet fajar yang mengancam, kala langit mencat dirinya untuk bergegas memerah.
Latar belakang itu menyajikan kontras dengan bukit-bukit menghitam yang ditenggeri barisan sosok-sosok pasukan pemberontak berkuda yang segera turun ke kota. Untuk melakukan penyerangan.
Pagi yang menggelisahkan
Pemberontak itu dipimpin Trunojoyo. Bukitnya, bukit Ngantang. Ia hidup dan memberikan bekas kepada saya berkat buku yang berjudul Babad Pacitan. Buku itu saya temukan di tahun 1964-an, di Kedunggudel, Sukoharjo.
Koleksi itu entah milik kakek saya Martowirono yang seorang bayan atau milik pakde saya, Sutono, yang seorang guru. Saya tidak ingat lagi nama pengarangnya. Apalagi penerbitnya.
Koleksi pustaka itu terhimpun bersama tumpukan majalah Penyebar Semangat dan Sosiawan, majalah Departemen Sosial yang sampulnya bergambar stilisasi sinar matahari dengan memajang slogan tat twam asi, yang bermakna asah, asih, asuh ? Saya tidak pasti.
Tetapi tiap kunjungan dari Wonogiri (rumah saya) ke Kedunggudel, pojok pustaka itu selalu menjadi incaran saya yang utama dan terutama. Termasuk buku Babad Pacitan yang juga bercerita seluk-beluk perdagangan candu di masa itu.
Terpendam selama puluhan tahun, suatu hari cerita tentang buku itu akhirnya, 14 Agustus 2009, bisa saya munculkan dengan salah seorang penduduk Pacitan yang sebenarnya.
Berontak melalui buku. Namanya Pak Nurus Son’ani. Seorang kepala sekolah SD di Pakisbaru, Pacitan. Sosoknya seperti Sean Connery ketika membintangi film Finding Forester (2000).
Pakisbaru merupakan daerah paling tinggi dari kabupaten yang melahirkan tokoh Budi Harjono, Haryono Suyono sampai Susilo Bambang Yudhoyono, presiden kita saat ini. Dinginnya menggigit tulang. Malam biasa turun kabut. Tetapi saya memberanikan diri untuk mandi ketika subuh baru saja tiba.
Sore itu, Pak Son'ani mengantar saya untuk kembali ke Wonogiri. Di tengah perjalanan di mana mobil mengulari jalan yang berkelok tajam, lumayan terjal, bahkan isi perut terpaksa ikut menari (saya diam-diam melakukan senam shiatsu agar tidak mual, muntah, lalu malu mengotori jok mobil) serta sepanjang mata memandang semata terantuk batu, terkepung jajaran pinus dan perdu, hadir obrolan warna-warni.
Selain tentang Babad Pacitan, juga mencuat tentang bagaimana terpuruknya pengajaran literasi di sekolah-sekolah kita. Anak-anak Indonesia yang tidak dibiasakan untuk menulis. Apalagi memiliki kegembiraan dalam berekspresi dengan menulis.
Tetapi di Pacitan saat itu, saya melihat dan mengalami bara pemberontakan untuk meretas kemiskinan budaya literasi itu. Pelopor dan pengompornya adalah Diana AV Sasa (foto di atas), putri dari Pak Son’ani tadi. Berkat keajaiban Internet, dan mungkin karena kosmis menggurat catatan betapa kita terbelenggu oleh obsesi yang sama, yang akhirnya mampu membuat saya bisa sampai di Pakisbaru ini. Atas prakarsa Diana.

Keajaiban yang lain lalu terjadi jadi. Pak Son’ani (berseragam pramuka), Diana AV Sasa dan saya, ternyata bukan sosok yang benar-benar asing sama sekali. Urut punya urut, Diana Amaliyah Verawati Ningsih, begitu nama komplitnya, memiliki SD yang sama dengan saya. SD Wonogiri III. Ia pun pernah tinggal di kampung yang sama pula, Kajen, saat belajar di Wonogiri, dari SD sampai klas 2 SMA.
Pak Son’ani yang memiliki keahlian di bidang radio komunikasi, sehingga dipercaya menjaga dan mengelola menara radio citizen band di Pakisbaru. Menara ini melayani kebutuhan komunikasi warga Orari Wonogiri yang sebagian adalah teman, kenalan dan kerabat saya.
Di Pakisbaru, 14 Agustus 2009 itu, benar-benar terjadi acara kopi darat versi para pejuang literasi. Hadir pula Muhidin M. Dahlan dari Yogyakarta dan Eri Irawan dari Surabaya. Puncak acaranya adalah Gelaranbuku Pakis, meliputi peresmian perpustakaan Pakisbaru, peluncuran buku Kepada Yth : Ibu Negara di Istana Merdeka :151 Suara Hati Dari Anak Puncak Brengos Pacitan. Saya kebagian bercerita kepada audiens mengenai seluk-beluk manfaat menulis surat pembaca.
Kepada anak-anak penulis buku di atas, juga kepada guru, saya anjurkan agar mereka mau menuliskan mimpi-mimpinya. “Tulislah mimpi-mimpimu, cita-citamu, juga cita-cita teman terdekatmu, pada secarik kertas. Tempelkan di dekat meja belajarmu. Tuliskan kemudian ucapan : ’Yes, We Can !’ untuk saling menguatkan.”
Teriakan dari slogan terkenal saat berkampanye untuk menjadi presiden AS dari Barack Obama itu kemudian sering meronai hajatan budaya di Pakisbaru itu. Setiap anak yang menuliskan cita-citanya di buku itu, saya ajak ke panggung. Lalu menceritakan cita-citanya. Sejurus kemudian, seluruh hadirin akan ramai-ramai berseru :
“Yes, He Can !”
“Yes, She Can !”
“Yes, We Can !”
Dalam pengantarnya, sebelum saya tampil, nampak mata Diana AV Sasa berkaca-kaca. Ia menangis. Dalam keharuan. Dalam kebanggaan. Karena impian besarnya tercapai saat itu, sebagai putra daerah yang “menjadi jangkar bagi anak-anak di balik batu Gunung Brengos” seperti yang ia tulis dalam buku karyanya itu.
Juga menjadi inspirasi gerakan mulia yang sama, pendirian perpustakaan dan penyebaran budaya literasi berbasis masyarakat di kota-kota lain. Misalnya yang terbaru terjadi di Kediri. Pejuang buku dari Pakisbaru ini nampak sulit dihentikan. Dan saya bangga bisa mengenalnya.
Sepulang dari Pacitan itu saya memperoleh hadiah lagi darinya. Termasuk disangoni buku-buku hebat, seperti Para Penggila Buku : Seratus Catatan di Balik Buku (2009) yang ia garap bersama Muhidin M Dahlan, buku kumpulan surat anak-anak yang kaya inspirasi dan mengharukan tadi, juga buku-buku karya Muhidin M Dahlan.
Buku Gus Muh yang bagi saya terasa “berat” itu adalah Kabar Buruk Dari Langit (2005, novel), Adam Hawa (2005, novel), tetapi cukup tercekam menyusuri biografi penuh liku dan keperihan dalam Jalan Sunyi Seorang Penulis (2005) itu. Seperti melihat cermin. Mengingatkan humor hitam bahwa keluhan utama seorang penulis ketika ke dokter adalah tidak bisa buang air besar. Karena perutnya memang tidak berisi makanan.
Hadiah lain dari Diana itu adalah profil saya sebagai seorang epistoholik telah ia tulis dalam situs Indonesia Buku, media perjuangan yang ia gelorakan di media maya. Dengan judul, Bambang Haryanto: Membaca dan Menulis Seperti Donor Darah.
Terima kasih, mBak Diana.
Terima kasih, Gus Muh.
Di tengah guncangan mobil yang disopiri seterampil pereli Sebastian Loeb, menjelang memasuki Purwantoro, saya sempat berbicara kepada Pak Son’ani. “Saya juga menyukai buku, tetapi baru sebatas sebagai konsumen. Belum setotal seperti yang dilakoni oleh putri Anda. Sebagai konsumen, juga sebagai produsen.”
Pak Son’ani tidak berkomentar apa-apa saat itu.
Tetapi saya bisa menangkap ada gurat rasa kebanggaan. Mungkin setara dengan rasa bangga saya ketika keinginan saya agar Diana AV Sasa bersedia menulis endorsement untuk buku Komedikus Erektus (Etera Imania, 2010) saya, dan permintaan itu telah ia sanggupi pula. Berkah dan sawab buku dari bukit-bukit Pakisbaru itu rupanya mulai mengalir ke Wonogiri.
Setelah tahun 1987, saya bisa lagi menulis buku kini.
Dalam satu halaman putih dari buku kumpulan surat-surat anak Pakisbaru itu, Diana AV Sasa menulis : “Untuk Pak Bambang Haryanto, Epistoholik Indonesia : Bukankah kita percaya bahwa menulis adalah alat perjuangan ? Never ending writing ! ”
Penulis (“saya lagi tergila-gila rock dan blues, tetapi juga lagi flu itu,” tulisnya dalam sms, 12/3/2010) dan pejuang literasi dari Pakisbaru ini, memang lajunya tidak bakal terhentikan. Menjadikan siluet barisan pemberontak Trunojoyo yang berjajaran di bukit Ngantang, Pacitan, yang selama ini hidup dalam kenangan masa kecil saya, kini saatnya memperoleh aksentuasi baru.
Pemberontak itu harus turun gunung, berbaur dengan sesamanya. Ketika ia dan kawan-kawannya mengangkat anak-anak pinggiran sebagai produser informasi, kita tahu betapa di era ekonomi Google sekarang ini, yang kecil-kecil itu merupakan hal besar yang baru.
Lanskap perjuangan kemanusiaan kini menghadirkan gambar baru. Konteks baru. Tantangan baru. Strategi pemberontakan baru. Senjata baru. Juga tokoh baru.
Saya berbangga bisa mengenalnya, sekaligus ingin terus mencoba mengikuti ledakan-ledakan pemberontakan literasi yang berikutnya.
Wonogiri, 13/3/2010.
Email : humorliner (at) yahoo.com
Pacitan dan pemberontakan.
Kaitan antara keduanya hidup dalam benak saya. Terbingkai dalam pigura kenangan, tentang siluet fajar yang mengancam, kala langit mencat dirinya untuk bergegas memerah.
Latar belakang itu menyajikan kontras dengan bukit-bukit menghitam yang ditenggeri barisan sosok-sosok pasukan pemberontak berkuda yang segera turun ke kota. Untuk melakukan penyerangan.
Pagi yang menggelisahkan
Pemberontak itu dipimpin Trunojoyo. Bukitnya, bukit Ngantang. Ia hidup dan memberikan bekas kepada saya berkat buku yang berjudul Babad Pacitan. Buku itu saya temukan di tahun 1964-an, di Kedunggudel, Sukoharjo.
Koleksi itu entah milik kakek saya Martowirono yang seorang bayan atau milik pakde saya, Sutono, yang seorang guru. Saya tidak ingat lagi nama pengarangnya. Apalagi penerbitnya.
Koleksi pustaka itu terhimpun bersama tumpukan majalah Penyebar Semangat dan Sosiawan, majalah Departemen Sosial yang sampulnya bergambar stilisasi sinar matahari dengan memajang slogan tat twam asi, yang bermakna asah, asih, asuh ? Saya tidak pasti.
Tetapi tiap kunjungan dari Wonogiri (rumah saya) ke Kedunggudel, pojok pustaka itu selalu menjadi incaran saya yang utama dan terutama. Termasuk buku Babad Pacitan yang juga bercerita seluk-beluk perdagangan candu di masa itu.
Terpendam selama puluhan tahun, suatu hari cerita tentang buku itu akhirnya, 14 Agustus 2009, bisa saya munculkan dengan salah seorang penduduk Pacitan yang sebenarnya.
Berontak melalui buku. Namanya Pak Nurus Son’ani. Seorang kepala sekolah SD di Pakisbaru, Pacitan. Sosoknya seperti Sean Connery ketika membintangi film Finding Forester (2000).
Pakisbaru merupakan daerah paling tinggi dari kabupaten yang melahirkan tokoh Budi Harjono, Haryono Suyono sampai Susilo Bambang Yudhoyono, presiden kita saat ini. Dinginnya menggigit tulang. Malam biasa turun kabut. Tetapi saya memberanikan diri untuk mandi ketika subuh baru saja tiba.
Sore itu, Pak Son'ani mengantar saya untuk kembali ke Wonogiri. Di tengah perjalanan di mana mobil mengulari jalan yang berkelok tajam, lumayan terjal, bahkan isi perut terpaksa ikut menari (saya diam-diam melakukan senam shiatsu agar tidak mual, muntah, lalu malu mengotori jok mobil) serta sepanjang mata memandang semata terantuk batu, terkepung jajaran pinus dan perdu, hadir obrolan warna-warni.
Selain tentang Babad Pacitan, juga mencuat tentang bagaimana terpuruknya pengajaran literasi di sekolah-sekolah kita. Anak-anak Indonesia yang tidak dibiasakan untuk menulis. Apalagi memiliki kegembiraan dalam berekspresi dengan menulis.
Tetapi di Pacitan saat itu, saya melihat dan mengalami bara pemberontakan untuk meretas kemiskinan budaya literasi itu. Pelopor dan pengompornya adalah Diana AV Sasa (foto di atas), putri dari Pak Son’ani tadi. Berkat keajaiban Internet, dan mungkin karena kosmis menggurat catatan betapa kita terbelenggu oleh obsesi yang sama, yang akhirnya mampu membuat saya bisa sampai di Pakisbaru ini. Atas prakarsa Diana.
Keajaiban yang lain lalu terjadi jadi. Pak Son’ani (berseragam pramuka), Diana AV Sasa dan saya, ternyata bukan sosok yang benar-benar asing sama sekali. Urut punya urut, Diana Amaliyah Verawati Ningsih, begitu nama komplitnya, memiliki SD yang sama dengan saya. SD Wonogiri III. Ia pun pernah tinggal di kampung yang sama pula, Kajen, saat belajar di Wonogiri, dari SD sampai klas 2 SMA.
Pak Son’ani yang memiliki keahlian di bidang radio komunikasi, sehingga dipercaya menjaga dan mengelola menara radio citizen band di Pakisbaru. Menara ini melayani kebutuhan komunikasi warga Orari Wonogiri yang sebagian adalah teman, kenalan dan kerabat saya.
Di Pakisbaru, 14 Agustus 2009 itu, benar-benar terjadi acara kopi darat versi para pejuang literasi. Hadir pula Muhidin M. Dahlan dari Yogyakarta dan Eri Irawan dari Surabaya. Puncak acaranya adalah Gelaranbuku Pakis, meliputi peresmian perpustakaan Pakisbaru, peluncuran buku Kepada Yth : Ibu Negara di Istana Merdeka :151 Suara Hati Dari Anak Puncak Brengos Pacitan. Saya kebagian bercerita kepada audiens mengenai seluk-beluk manfaat menulis surat pembaca.
Kepada anak-anak penulis buku di atas, juga kepada guru, saya anjurkan agar mereka mau menuliskan mimpi-mimpinya. “Tulislah mimpi-mimpimu, cita-citamu, juga cita-cita teman terdekatmu, pada secarik kertas. Tempelkan di dekat meja belajarmu. Tuliskan kemudian ucapan : ’Yes, We Can !’ untuk saling menguatkan.”
Teriakan dari slogan terkenal saat berkampanye untuk menjadi presiden AS dari Barack Obama itu kemudian sering meronai hajatan budaya di Pakisbaru itu. Setiap anak yang menuliskan cita-citanya di buku itu, saya ajak ke panggung. Lalu menceritakan cita-citanya. Sejurus kemudian, seluruh hadirin akan ramai-ramai berseru :
“Yes, He Can !”
“Yes, She Can !”
“Yes, We Can !”
Dalam pengantarnya, sebelum saya tampil, nampak mata Diana AV Sasa berkaca-kaca. Ia menangis. Dalam keharuan. Dalam kebanggaan. Karena impian besarnya tercapai saat itu, sebagai putra daerah yang “menjadi jangkar bagi anak-anak di balik batu Gunung Brengos” seperti yang ia tulis dalam buku karyanya itu.
Juga menjadi inspirasi gerakan mulia yang sama, pendirian perpustakaan dan penyebaran budaya literasi berbasis masyarakat di kota-kota lain. Misalnya yang terbaru terjadi di Kediri. Pejuang buku dari Pakisbaru ini nampak sulit dihentikan. Dan saya bangga bisa mengenalnya.
Sepulang dari Pacitan itu saya memperoleh hadiah lagi darinya. Termasuk disangoni buku-buku hebat, seperti Para Penggila Buku : Seratus Catatan di Balik Buku (2009) yang ia garap bersama Muhidin M Dahlan, buku kumpulan surat anak-anak yang kaya inspirasi dan mengharukan tadi, juga buku-buku karya Muhidin M Dahlan.
Buku Gus Muh yang bagi saya terasa “berat” itu adalah Kabar Buruk Dari Langit (2005, novel), Adam Hawa (2005, novel), tetapi cukup tercekam menyusuri biografi penuh liku dan keperihan dalam Jalan Sunyi Seorang Penulis (2005) itu. Seperti melihat cermin. Mengingatkan humor hitam bahwa keluhan utama seorang penulis ketika ke dokter adalah tidak bisa buang air besar. Karena perutnya memang tidak berisi makanan.
Hadiah lain dari Diana itu adalah profil saya sebagai seorang epistoholik telah ia tulis dalam situs Indonesia Buku, media perjuangan yang ia gelorakan di media maya. Dengan judul, Bambang Haryanto: Membaca dan Menulis Seperti Donor Darah.
Terima kasih, mBak Diana.
Terima kasih, Gus Muh.
Di tengah guncangan mobil yang disopiri seterampil pereli Sebastian Loeb, menjelang memasuki Purwantoro, saya sempat berbicara kepada Pak Son’ani. “Saya juga menyukai buku, tetapi baru sebatas sebagai konsumen. Belum setotal seperti yang dilakoni oleh putri Anda. Sebagai konsumen, juga sebagai produsen.”
Pak Son’ani tidak berkomentar apa-apa saat itu.
Tetapi saya bisa menangkap ada gurat rasa kebanggaan. Mungkin setara dengan rasa bangga saya ketika keinginan saya agar Diana AV Sasa bersedia menulis endorsement untuk buku Komedikus Erektus (Etera Imania, 2010) saya, dan permintaan itu telah ia sanggupi pula. Berkah dan sawab buku dari bukit-bukit Pakisbaru itu rupanya mulai mengalir ke Wonogiri.
Setelah tahun 1987, saya bisa lagi menulis buku kini.
Dalam satu halaman putih dari buku kumpulan surat-surat anak Pakisbaru itu, Diana AV Sasa menulis : “Untuk Pak Bambang Haryanto, Epistoholik Indonesia : Bukankah kita percaya bahwa menulis adalah alat perjuangan ? Never ending writing ! ”
Penulis (“saya lagi tergila-gila rock dan blues, tetapi juga lagi flu itu,” tulisnya dalam sms, 12/3/2010) dan pejuang literasi dari Pakisbaru ini, memang lajunya tidak bakal terhentikan. Menjadikan siluet barisan pemberontak Trunojoyo yang berjajaran di bukit Ngantang, Pacitan, yang selama ini hidup dalam kenangan masa kecil saya, kini saatnya memperoleh aksentuasi baru.
Pemberontak itu harus turun gunung, berbaur dengan sesamanya. Ketika ia dan kawan-kawannya mengangkat anak-anak pinggiran sebagai produser informasi, kita tahu betapa di era ekonomi Google sekarang ini, yang kecil-kecil itu merupakan hal besar yang baru.
Lanskap perjuangan kemanusiaan kini menghadirkan gambar baru. Konteks baru. Tantangan baru. Strategi pemberontakan baru. Senjata baru. Juga tokoh baru.
Saya berbangga bisa mengenalnya, sekaligus ingin terus mencoba mengikuti ledakan-ledakan pemberontakan literasi yang berikutnya.
Wonogiri, 13/3/2010.
Langganan:
Postingan (Atom)
