Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
Ingin belajar mendalami komedi ?
Merintis karier sebagai komedian ?
Belajarlah dari Internet. Memang nasehat klise. Karena di Internet Anda akan mudah menemukan berton-ton bahan lelucon yang siap Anda ceritakan di muka audiens. Tetapi harus Anda ingat, semua bahan itu tidak autentik dengan diri Anda. Bukan pula curahan hati terdalam Anda.
Kalau Anda sekadar pokoknya ingin tampil, selucu mungkin, dan bisa mengundang tawa, bahan-bahan itu semoga dapat menolong Anda.
Seorang Steve Silberberg, pengelola newsgroup komedi di alt.comedy.standup, mempunyai pendapat khas untuk para komedian di atas. Katanya, “If they bought/stole/used someone else's material, they'd be no more than a talking monkey on stage regurgitating other people's thoughts.” Bila mereka membeli/mencuri/menggunakan materi lawakan karya orang lain, maka mereka itu tidak ubahnya sosok kera yang mampu bicara, yang tampil di panggung, sekadar muntah-muntah mengeluarkan karya buah pikir orang lain.
Internet juga menyediakan materi melimpah ruah bagi mereka yang tidak ingin hanya menjadi “monyet” dalam cerita Steve Silberberg di atas. Sekitar 2-3 tahun ini saya mengikuti kursus komedi, dengan setiap minggu harus mengikuti posting-posting terbaru secara serial dari sang guru, John Cantu di Humormall.com. Kini sudah sampai pada materi bertopik marketing what you write, teknik-teknik pemasaran untuk karya-karya kreatif lawakan.
Bagi Anda yang suka komedi dan juga suka memikir-mikir konstruksi bangunan Internet itu sendiri, rumus lawak sebenarnya juga ada di konstruksi Internet pula. Majalah TIME edisi khusus tentang Internet (Mei 1995) telah memajang gambar sampul tentang hal itu. Berupa foto lawang sewu, pintu seribu, tetapi bertumpuk-tumpuk. Membentuk lorong dan labirin.
Itulah gambaran karakteristik hypertext, dokumen di Internet. Bila Anda memasuki sebuah pintu, Anda akan mampu meneruskan ke pintu lain, lainnya lagi dan lainnya lagi. Begitu seterusnya.
Dalam bahasa Internet, fasilitas dalam dokumen elektronik di Internet yang bisa mengarah untuk membuka pintu demi pintu atau akses itu lajim dikenal sebagai hyperlink, tautan. Fasilitas yang mirip fungsinya dalam media berbasis atom, kertas, bisa kita temukan berwujud catatan kaki atau daftar pustaka. Tetapi dalam kecepatan akses [“elektron mampu mengelilingi dunia 11 kali dalam setiap detiknya”], dokumen elektronik jelas jauh lebih unggul. Mutlak.
Tentang hal di atas, Robin Williams, komedian dan aktor pemenang Oscar, punya cerita menarik. Ketika majalah Yahoo Internet Life (2/1997) menanyakan apakah dirinya menggunakan email, jawabannya : “Ya. Email itu mengagumkan. Email membawa kita untuk kembali mengalami seni menulis surat…. Dalam surat kita dapat mengekspresikan diri kita pribadi secara mendalam dan penuh makna. Surat merupakan perpanjangan dari filosofi Anda.”
“Apakah kami yang pertama mengatakan bahwa pikiran Anda bekerja seperti Internet, hyperlinking untuk menuju tempat atau situs yang paling tidak terduga-duga ?,” tanya lanjut David Sheff dari Yahoo Internet Life .
“Itulah realitas diri saya,” jawab Robin Williams. “Itulah pula realitas dunia komedi. Inilah hiperkomedi yang nampaknya persis sama dengan hiperteks. Saya merujuk ke sesuatu hal dan lalu diri saya memuntir, memelintir, mengubahnya untuk menuju ke arah yang baru. Ketika pertama kali saya melihat hiperteks, saya langsung memahaminya. Inilah ujud asosiasi bebas.”
Terima kasih, Robin.
Sayangnya, kedahsyatan dari hyperlink ini sepertinya belum banyak disadari oleh para blogger atau para pengembang isi dalam dunia Internet kita. Bahkan banyak dari mereka yang boleh disebut sebagai para jawara dunia Internet di Indonesia, postingan mereka kebanyakan juga sangat senyap dari kehadiran tautan dan tautan itu pula.
Oleh karenanya, terkait hyperlink dan juga filosofinya, saya pribadi pernah terantuk pengalaman yang membuat saya senyum-senyum. Pengalaman yang pertama, beberapa saat lalu layar televisi kita gencar digerojok iklan tentang sosok tokoh muda yang berambisi menjadi presiden. Saya kemudian mengunjungi situsnya. Saya ingin tahu, apakah strategi Internetnya juga bersemangat muda, berpendekatan mutakhir, atau dengan mindset era dinosaurus.
Ternyata, menurut saya situs itu salah visi dan salah kelola. Lalu saya memberikan komentar, juga menyertakan tautan bahwa saya pernah menulis di harian Kompas (8/4/2004) tentang pemanfaatan Internet sebagai senjata kampanye presiden. hidup.”].
Beberapa hari kemudian, komentar saya tersebut tidak ada bekasnya sama sekali di situs bersangkutan. Saya berpikir, mungkin saya juga dianggap sebagai calon presiden olehnya, sehingga statusnya sebagai saingan yang harus tidak memperoleh tempat nongol di situsnya ?
Kini, peristiwa kedua. Ada seorang penulis buku yang produktif, bahkan hampir setiap bukunya diberi label sebagai buku laris. Ia terakhir menulis tentang buku humor. Data buku itu terpajang pada situsnya. Saya kemudian menulis komentar tentangnya.
Tentu saja, saya memasukkan dulu data nama, email dan URL blog saya. Isi komentar, pertama, saya memberikan apresiasi atas terbitnya buku dia tersebut. Kedua, saya bertanya, apakah saya boleh memintakan endorsement dia bagi calon buku humor saya, Komedikus Erektus. Begitu saya klik, komentar saya muncul di halaman, diimbuhi keterangan bahwa komentar tersebut menunggu dimoderasi.
Beberapa hari kemudian, ketika melihat-lihat situs bersangkutan, ternyata komentar saya tersebut malah hilang sama sekali. Momen yang justru membuat saya senyum-senyum. Saya menduga-duga. Misalnya, admin dari situs itu ngantuk sehingga komentar saya ter-delete secara tak sengaja.
Atau mungkin pengarang bersangkutan kuatir berat, saya ini dianggap sebagai saingan yang berpotensi merebut 1 dari 100.000 pembeli bagi buku larisnya itu ? Atau, ia justru tidak tahu mukjijat dibalik keberadaan sebuah hyperlink, tautan, dalam kehidupan bebrayan agung Internet.
Terhapusnya komentar dan permintaan tadi,membuat saya ingat dua sosok. Wimar Witoelar dan Chris Anderson. Karena pada kejadian beberapa hari sebelumnya, saya telah meminta endorsement dari seorang Wimar Witoelar. Hari itu sudah hampir jam 11 malam. Dalam hitungan menit, saya segera memperoleh jawaban : “Saya akan menulis pada kesempatan pertama.”
Terima kasih, Bang Wimar.
Endorsement dari beliau akan hadir secara bermakna dalam buku saya.
Lalu tentang Chris Anderson ?
Dalam bukunya yang berjudul The Long Tail : Bagaimana Menciptakan Permintaan Tak Terbatas (2006), bersabda : “ Siapa pun yang membaca sesuatu dari Internet namun tidak memperluas wawasan kultural mereka berarti telah menemukan sebuah tempat yang kelewat gersang di dunia blog atau perlu menghadiri kursus penyegaran agar bisa memahami hyperlinks. Karena tak ada apa pun di Web yang memiliki kuasa mutlak, terserah kepada Anda untuk berkonsultasi dengan sumber-sumber yang memadai sehingga Anda dapat membulatkan keputusan Anda sendiri.”
Situs sang calon presiden tadi, juga pengarang buku-buku laris tadi, barangkali memang berambisi ingin hadir sebagai situs dengan kuasa mutlak. Bila benar itu yang mereka arah, bagi saya, inilah materi menarik sebagai bahan lelucon baru. Bukan dari jalur komedi, tetapi dari lorong-lorong tragedi.
Karena cakar otoriter Orde Baru terancam untuk kembali.
Utamanya bila impian calon presiden itu menjadi kenyataan !
Wonogiri, 24/3/2010
Tampilkan postingan dengan label etera imania. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label etera imania. Tampilkan semua postingan
Selasa, 23 Maret 2010
Jumat, 19 Maret 2010
Obama, Jaya Suprana dan Komedikus Erektus
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
Komplikasi.
Urusan jadi lebih rumit.
Obama yang menunda kunjungannya ke Indonesia memunculkan banyak komplikasi.
Dikabarkan, semua murid klas VI SDN 01 Menteng di Jalan Besuki 4, Jakarta Pusat, memilih tidak lulus. Mereka lebih memilih tinggal kelas, agar tetap berstatus sebagai murid SD itu. Dengan pilihan itu mereka bisa bertemu seniornya yang kini menjadi presiden Amerika Serikat itu. Secara resmi.
Komplikasi selanjutnya, pemerintahan SBY dibuat repot. Untuk meredam aksi-aksi penolakan sebagian umat terhadap Obama, perlu dilakukan konter dengan strategi kehumasan yang baru. Kabar burung yang beredar,pemerintah RI akan membuatkan patung Obama yang baru.
Kali ini Obama memakai sarung. Untuk menunjukkan dirinya juga pernah disunat di Indonesia. Bahkan akan pula disebarkan dokumen temuan baru, bahwa Obama pernah belajar pula di Ngruki, Solo, Jawa Tengah.
Di Sulawesi Selatan, polisi dan kejaksaan juga ketularan ikut repot. Mereka harus cepat-cepat menuntaskan kasus yang menimpa selebritis dan wakil rakyat, Rieke Dyah Pitaloka. Kita tahu, Rieke tiba-tiba dipeluk dari belakang dan bahkan dicium oleh dokter Rasyidin dari RSUD Labuang Baji, Sulawesi Selatan (8/3/2010). "Saya marah, tapi dia malah bilang Anda kan publik figur," ungkap Rieke.
Bila dokter “berdarah panas” itu sudah masuk penjara, seorang Obama ikut bisa merasa aman. Karena alasan itu pula, sebelum menunda kunjungannya ke Indonesia pada bulan Juni nanti, ia juga membatalkan keikutsertaan istrinya bila kunjungannya di bulan Maret ini terlaksana.
Karena Obama kuatir berat, istrinya yang jelas-jelas seorang public figure akan terancam ramai-ramai dipeluk para dokter Indonesia yang ketularan virus “panas” dari Sulawesi Selatan tadi. Apalagi virus hampir serupa, yaitu aksi gairah mencium punggung kini juga gencar disebar-sebarkan di Indonesia. Lewat televisi-televisi. Oleh Anang terhadap Syahrini.
Mabuk Berita Palsu. Anda dilarang percaya terhadap isi-isi tulisan di atas. Karena semuanya merupakan fake news. Berita palsu. Tetapi, anehnya, di Amerika Serikat acara-acara televisi yang menyiarkan berita-berita palsu itu justru disukai oleh pemirsa. Bahkan menjadi acara unggulan.
Salah satu host tersohor untuk acara fake news itu adalah Jon Stewart. Dahsyatnya lagi, atau gokil-nya lagi, dalam survei oleh majalah TIME (2009) komedian penyebar berita-berita palsu itu justru terpilih sebagai Andy Borowitz itu, juga membuat saya demam. Imbasnya, saya sendiri terus merintis, melanjutkan atau mempersubur daya-daya kreativitas dalam penciptaan berita-berita palsu tadi. Terkait dinamika politik dan ulah politikus Indonesia.
Blog Komedikus Erektus yang saya luncurkan sejak lima tahun lalu telah menjadi saksi hal tersebut. Kini, berkat ditunjang oleh keajaiban Internet, isi yang semula berwujud digital tersebut akan segera menjadi media berbasis atom. Menjadi buku. Judulnya : Komedikus Erektus. Penerbitnya adalah Etera Imania.
Bila telah terbit, ini merupakan buku humor saya yang ketiga. Momen itu membuat saya rada ngeh, ternyata humor memang merupakan salah satu panggilan hidup saya. Sedikit mengilas balik, kiranya percik itu barangkali semakin mulai membesar pada bulan September 1982 di Jakarta.
Ketika itu saya berkenalan dengan humorolog, kelirumolog, musikus, kartunis, pebisnis, asal Semarang : Jaya Suprana. Saat itu saya belum selesai berkuliah di Jakarta. Pertemuannya di Balai Budaya, Jakarta Pusat. Juga bertemu Arwah Setiawan, “Pak Raden” Suyadi, juga kartunis Tris Sakeh. Ditemani teman kuliah saya, Bakhuri Jamaluddin, saya menemui mereka.
Saat itu di Balai Budaya dipamerkan karya kartun anak-anak Wonogiri, termasuk karya Basnendar Heriprilosadoso adik terkecil saya. Mereka tergabung dalam komunitas kartunis cilik Brigade Kelompok Kecil, asuhan adik saya (juga) Mayor Haristanto. Disponsori oleh Mas Jaya Suprana.

Keterangan foto.Dari kanan, Jaya Suprana, Tris Sakeh (kartunis), Suyadi Pak Raden, tak dikenal, Arwah Setiawan dan Bambang Haryanto.
Pameran serupa berlangsung bulan Januari 1983, di Semarang. Dihadiri Soepardjo Roestam, gubernur Jawa Tengah saat itu. Suasana hati agak berbeda, karena ayah saya baru saja meninggal dunia, 9 Desember 1982.
C’est la vie, kata orang Perancis.
Itulah warna-warni kehidupan. Ada tragedi, juga ada komedi. Ketika beberapa hari lalu saya meminta endorsement dari Mas Jaya untuk buku Komedikus Erektus saya, ia membalas dengan cara khas. Bunyi email beliau :
“Mas Bambang yth, terima kasih atas perjuangan gigih Anda menghumorkan bangsa ini ! Kehormatan bagi saya untuk menulis apa yg disebut endorsement itu untuk buku heboh Anda.
Mohon petunjuk, apakah endorsement cukup berupa kalimat komentar untuk melariskan buku dahsyat Anda tersebut. Kalo endorsement saya kepanjangan saya kuatir dampaknya malah sebaliknya yakni, (calon pembaca akan) membatalkan niat membeli buku hebat Anda tersebut. Kami tunggu wahyu Anda ! “
Saya jawab, bahwa saya membebaskan Mas Jaya untuk menulis apa saja. “Saya juga siap bila nanti para calon pembeli buku saya memang membatalkan niat untuk membeli buku tersebut gara-gara membaca endorsement Anda !,” begitu tantang saya.
Beliau kemudian memang berbaik hati menuliskan endorsement tersebut. Saya membacanya dengan penuh komplikasi. Apakah Mas Jaya Suprana (mengaku akunnya di Facebook adalah palsu, karena ia tidak punya akun Facebook sama sekali !)sedang ketularan diri saya yang sedang mabuk suka menulis fake news ? Atau sebaliknya ? Anda dapat menilainya sendiri.
Setelah Anda kelak membaca buku itu, termasuk menikmati endorsement yang tak lajim tetapi menggigit a la Jaya Suprana, semoga Anda bersedia bermurah hati mengirimkan komentar atau pendapat Anda melalui email saya ini : humorliner (at) yahoo.com.
Saya tunggu. Terima kasih.
Dijamin pula tidak akan ada komplikasi.
Wonogiri, 20/3/2010
Email : humorliner (at) yahoo.com
Komplikasi.
Urusan jadi lebih rumit.
Obama yang menunda kunjungannya ke Indonesia memunculkan banyak komplikasi.
Dikabarkan, semua murid klas VI SDN 01 Menteng di Jalan Besuki 4, Jakarta Pusat, memilih tidak lulus. Mereka lebih memilih tinggal kelas, agar tetap berstatus sebagai murid SD itu. Dengan pilihan itu mereka bisa bertemu seniornya yang kini menjadi presiden Amerika Serikat itu. Secara resmi.
Komplikasi selanjutnya, pemerintahan SBY dibuat repot. Untuk meredam aksi-aksi penolakan sebagian umat terhadap Obama, perlu dilakukan konter dengan strategi kehumasan yang baru. Kabar burung yang beredar,pemerintah RI akan membuatkan patung Obama yang baru.
Kali ini Obama memakai sarung. Untuk menunjukkan dirinya juga pernah disunat di Indonesia. Bahkan akan pula disebarkan dokumen temuan baru, bahwa Obama pernah belajar pula di Ngruki, Solo, Jawa Tengah.
Di Sulawesi Selatan, polisi dan kejaksaan juga ketularan ikut repot. Mereka harus cepat-cepat menuntaskan kasus yang menimpa selebritis dan wakil rakyat, Rieke Dyah Pitaloka. Kita tahu, Rieke tiba-tiba dipeluk dari belakang dan bahkan dicium oleh dokter Rasyidin dari RSUD Labuang Baji, Sulawesi Selatan (8/3/2010). "Saya marah, tapi dia malah bilang Anda kan publik figur," ungkap Rieke.
Bila dokter “berdarah panas” itu sudah masuk penjara, seorang Obama ikut bisa merasa aman. Karena alasan itu pula, sebelum menunda kunjungannya ke Indonesia pada bulan Juni nanti, ia juga membatalkan keikutsertaan istrinya bila kunjungannya di bulan Maret ini terlaksana.
Karena Obama kuatir berat, istrinya yang jelas-jelas seorang public figure akan terancam ramai-ramai dipeluk para dokter Indonesia yang ketularan virus “panas” dari Sulawesi Selatan tadi. Apalagi virus hampir serupa, yaitu aksi gairah mencium punggung kini juga gencar disebar-sebarkan di Indonesia. Lewat televisi-televisi. Oleh Anang terhadap Syahrini.
Mabuk Berita Palsu. Anda dilarang percaya terhadap isi-isi tulisan di atas. Karena semuanya merupakan fake news. Berita palsu. Tetapi, anehnya, di Amerika Serikat acara-acara televisi yang menyiarkan berita-berita palsu itu justru disukai oleh pemirsa. Bahkan menjadi acara unggulan.
Salah satu host tersohor untuk acara fake news itu adalah Jon Stewart. Dahsyatnya lagi, atau gokil-nya lagi, dalam survei oleh majalah TIME (2009) komedian penyebar berita-berita palsu itu justru terpilih sebagai Andy Borowitz itu, juga membuat saya demam. Imbasnya, saya sendiri terus merintis, melanjutkan atau mempersubur daya-daya kreativitas dalam penciptaan berita-berita palsu tadi. Terkait dinamika politik dan ulah politikus Indonesia.
Blog Komedikus Erektus yang saya luncurkan sejak lima tahun lalu telah menjadi saksi hal tersebut. Kini, berkat ditunjang oleh keajaiban Internet, isi yang semula berwujud digital tersebut akan segera menjadi media berbasis atom. Menjadi buku. Judulnya : Komedikus Erektus. Penerbitnya adalah Etera Imania.
Bila telah terbit, ini merupakan buku humor saya yang ketiga. Momen itu membuat saya rada ngeh, ternyata humor memang merupakan salah satu panggilan hidup saya. Sedikit mengilas balik, kiranya percik itu barangkali semakin mulai membesar pada bulan September 1982 di Jakarta.
Ketika itu saya berkenalan dengan humorolog, kelirumolog, musikus, kartunis, pebisnis, asal Semarang : Jaya Suprana. Saat itu saya belum selesai berkuliah di Jakarta. Pertemuannya di Balai Budaya, Jakarta Pusat. Juga bertemu Arwah Setiawan, “Pak Raden” Suyadi, juga kartunis Tris Sakeh. Ditemani teman kuliah saya, Bakhuri Jamaluddin, saya menemui mereka.
Saat itu di Balai Budaya dipamerkan karya kartun anak-anak Wonogiri, termasuk karya Basnendar Heriprilosadoso adik terkecil saya. Mereka tergabung dalam komunitas kartunis cilik Brigade Kelompok Kecil, asuhan adik saya (juga) Mayor Haristanto. Disponsori oleh Mas Jaya Suprana.
Keterangan foto.Dari kanan, Jaya Suprana, Tris Sakeh (kartunis), Suyadi Pak Raden, tak dikenal, Arwah Setiawan dan Bambang Haryanto.
Pameran serupa berlangsung bulan Januari 1983, di Semarang. Dihadiri Soepardjo Roestam, gubernur Jawa Tengah saat itu. Suasana hati agak berbeda, karena ayah saya baru saja meninggal dunia, 9 Desember 1982.
C’est la vie, kata orang Perancis.
Itulah warna-warni kehidupan. Ada tragedi, juga ada komedi. Ketika beberapa hari lalu saya meminta endorsement dari Mas Jaya untuk buku Komedikus Erektus saya, ia membalas dengan cara khas. Bunyi email beliau :
“Mas Bambang yth, terima kasih atas perjuangan gigih Anda menghumorkan bangsa ini ! Kehormatan bagi saya untuk menulis apa yg disebut endorsement itu untuk buku heboh Anda.
Mohon petunjuk, apakah endorsement cukup berupa kalimat komentar untuk melariskan buku dahsyat Anda tersebut. Kalo endorsement saya kepanjangan saya kuatir dampaknya malah sebaliknya yakni, (calon pembaca akan) membatalkan niat membeli buku hebat Anda tersebut. Kami tunggu wahyu Anda ! “
Saya jawab, bahwa saya membebaskan Mas Jaya untuk menulis apa saja. “Saya juga siap bila nanti para calon pembeli buku saya memang membatalkan niat untuk membeli buku tersebut gara-gara membaca endorsement Anda !,” begitu tantang saya.
Beliau kemudian memang berbaik hati menuliskan endorsement tersebut. Saya membacanya dengan penuh komplikasi. Apakah Mas Jaya Suprana (mengaku akunnya di Facebook adalah palsu, karena ia tidak punya akun Facebook sama sekali !)sedang ketularan diri saya yang sedang mabuk suka menulis fake news ? Atau sebaliknya ? Anda dapat menilainya sendiri.
Setelah Anda kelak membaca buku itu, termasuk menikmati endorsement yang tak lajim tetapi menggigit a la Jaya Suprana, semoga Anda bersedia bermurah hati mengirimkan komentar atau pendapat Anda melalui email saya ini : humorliner (at) yahoo.com.
Saya tunggu. Terima kasih.
Dijamin pula tidak akan ada komplikasi.
Wonogiri, 20/3/2010
Jumat, 12 Maret 2010
API-4, Harris Cinnamon dan Komedikus Erektus
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
Tips sukses. Kalau Anda berada dalam kerumunan, berteriaklah.
Petunjuk penting ini saya peroleh dari tokoh perempuan bisnis atau tokoh bisnis perempuan (?) :-) Dewi Motik Pramono. Ia berteriak dengan media dandanan.
Favoritnya warna merah. Juga dengan pernah-pernik yang menyala, sekaligus menyalak.
Tip serupa juga dilakoni oleh Wimar Witoelar. Tak aneh, ia seorang tokoh kehumasan yang terampil membawa diri. Apalagi dengan bleger yang karismatik, flamboyan, dan berambut semi kribo. Juga sosok tubuhnya yang mungkin kalau bertemu dengan Ellen DeGeneres diperkirakan ia akan mencandai, bahwa kantong kanan dan kiri dari baju Bang Wimar itu memiliki ketua RT yang berbeda.
Begitulah. Di tengah-tengah banyak orang, yang berstatus penting-penting, ketika atensi semakin mahal, menjadi nampak atau menonjol dalam keriuhan adalah sebuah leverage yang bermakna. Barangkali juga mahal harganya. Saya mengalami keajaiban itu sebagai suporter sepakbola di Stadion Kallang, Singapura, 16 Januari 2005. Saat itu dilangsungkan leg kedua final Piala Tiger 2004, Indonesia melawan tuan rumah Singapura.
Begitu Mayor Haristanto (yang baru saja ikut Chingay Parade 2010 di Singapura) dan saya memasuki tribun pojok timur laut yang berisi suporter Indonesia, saya rasakan kimia menjadi berubah. Saat kami berdua membentangkan spanduk yang kami bawa dari Solo, bertuliskan slogan “Bangkit Indonesia !,” rasa nasionalisme sekitar 1000-an suporter Indonesia yang terkepung 55.000 suporter tuan rumah, ibarat api tersiram bensin. Lagu “Indonesia Raya” kami nyanyikan, bersemangat, dan air mata panas merebak di wajah-wajah kami saat itu.
Indonesia akhirnya memang kalah saat itu. Di Senayan sudah kalah 1-3, di Kallang kalah lagi, 2-1. Tetapi saya pribadi, mampu meraih kemenangan hiburan. Karena esok harinya, 17 Januari 2005, surat kabar terkemuka Singapura The Straits Times memuat pendapat saya.
Hal serupa terjadi tanggal 27 Januari 2005. Di tengah pesta hari ulang tahun MURI ke-15 di Semarang. Untuk memenangkan “persaingan” di tengah puluhan kandidat penerima rekor MURI yang lain, dari rumah saya mempersiapkan lembaran siaran pers. Saat di antara keriuhan itu saya yang harus memburu wartawan. Ketemu wartawan Radar Semarang, esoknya profil kemenangan MURI saya diwartakan.
Juga ketemu reporter televisi cantik dan menawan, Erika Diana Rizanti. Saya memberikan siaran pers saat itu seperti melempar batu ke kolam. Tak usah berharap batu akan menimbul ke permukaan. Ternyata beberapa minggu kemudian, Erika meliput kiprah saya sebagai seorang epistoholik untuk acara televisi a la Ripley’s Believe of Not ? , yaitu : Busssettt !
Ajaran Woody Allen. Menjadi nampak, visible, sehingga menjadi bahan liputan media, tidak lain merupakan ikhtiar agar cita-cita sampai nilai-nilai positif diri kita diketahui oleh dan agar berguna bagi masyarakat. Tak kenal, tak sayang, bukan ?
Dengan dikenal, juga membuka peluang bagi kita dalam membina pertemanan dengan orang lain. Itulah yang terjadi selepas saya tereliminasi dalam audisi API-4 di Yogyakarta, Sabtu, 26 Januari 2008. Memang saya gagal dalam acara seleksi pelawak itu, saya dalam kondisi remuk bubuk, tetapi pada hari-hari selanjutnya saya mampu merasakan manfaat di balik itu semua. Antara lain saya masih diberi berkah untuk mengenal sebagian awak kreatif dari TPI, stasiun televisi penyelenggara acara API tersebut.
Antara lain dengan Harris Cinnamon (foto). Karena gara-gara saya menulis di blog saya, tentang pengalaman mengikuti audisi itu. Termasuk memajang foto dan komentar Harris Cinnamon saat itu, dengan jabatan sebagai produser eksekutif acara audisi tersebut, sedang memberikan pengarahan kepada para kontestan. Demikianlah ketika acara kontes itu selesai dan saya gagal, tetapi dengan membuat “keributan” di blog, saya merasakan kemenangan dalam membina pertemanan.
Mungkin ia dapat bocoran info dari Ade Tao, juri saya. Ia memiliki kelompok lawak Decaer Group. Saya terkaget, begitu saya usai memeragakan set lawakan tunggal, ia menyapa saya. Ia adalah teman yang saya kenal melalui Internet, melalui blog Komedikus Erektus pula. Kita pernah mengobrolkan cita-citanya yang ingin terjun sebagai komedian solo juga. Ade Sofyan Intan, nama lengkapnya, bersama kelompok “69” termasuk 16 besar GrenPinal API I/2005. Satu angkatan dengan SOS dan Bajaj, Ade sudah banyak berpentas dengan pelbagai personil lawak Jakarta lainnya.
“Kekalahanmu di API-4, kemenangan yang dahsyat!,” begitu tulis Harris Cinnamon dalam boks bengok blog saya, 31/1/2008. Saya kemudian membalasnya di blog dia, Sajadah Jiwa. Termasuk kemudian mengungkapkan rasa terkejut saya, ketika memperbandingkan sosoknya yang saya sebut mirip penampilan sangar pemusik cadas favorit saya, Ritchie Blackmore dari Deep Purple, tetapi isi-isi blognya itu tak kalah dalam dan indah dibandingkan isi khotbah para kyai-kyai muda di layar-layar televisi.
Dalam kesempatan obrolan melalui email, Harris bercita-cita menyutradarai film komedi. Malah judulnya pun telah ia tentukan. Momon, panggilan akrab dia, bahkan ingin melibatkan saya. Saya sih makmum saja, kataku. Tetapi karena dia adalah seorang pekerja televisi, yang terus berlari dan mencipta setiap hari, obrolan tentang proyek film itu menguap perlahan-lahan. Kami pun juga jarang bertegur sapa.
Tiba-tiba, Momon pada tanggal 10/2/2010, muncul kembali di blog komedi saya tersebut. “Piye kabar bang...salut sampeyan masih konsisten di sini...beberapa tulisanmu menjadi masukan buat aku,” begitu tulisnya.
Terima kasih, Momon. Syukurlah bila blog itu mampu memberi manfaat. Langsung Momon saya todong untuk sudi menulis endorsement untuk buku Komedikus Erektus saya. Ia pun telah memenuhi permintaan saya tersebut.
Bahkan saya memperoleh bonus. Nanti pada tanggal 2-4 April 2010, Momon meminta saya untuk bisa ketemuan di Yogya. “Tak ada topik, mBang. Kita ngerumpi saja,” jawab Momon melalui SMS.
Saya berharap bisa kembali ke Yogya. Kini bukan sebagai kontestan, tetapi sebagai rekan dan sahabat. Tak ada beban, tak ada stres, dan tak ada tuntutan untuk “berteriak-teriak” pula.
Kilas balik 2007. Ketika mengobrol dengan Ade Tao sesaat sebelum saya turun panggung, saya berujar : ““Dalam komedi, ada ilmu air dan ilmu madu. Ilmu air adalah teori, seperti yang saya tulis di blog saya, dan ilmu madu adalah milik Anda, praktisi dunia komedi. Saya kesini ingin belajar dari Anda.”
Kalimat yang sama rasanya nanti juga akan saya katakan ke Momon. Sehingga saya bisa berharap akan banyak cerita-cerita yang bisa kita bagi. Saya berjanji untuk menuliskannya. Siapa tahu, cerita-cerita kami itu dapat memberi manfaat guna memacu kemajuan bagi komedi Indonesia, bukan ?
Wonogiri, 12/3/2010
Email : humorliner (at) yahoo.com
Tips sukses. Kalau Anda berada dalam kerumunan, berteriaklah.
Petunjuk penting ini saya peroleh dari tokoh perempuan bisnis atau tokoh bisnis perempuan (?) :-) Dewi Motik Pramono. Ia berteriak dengan media dandanan.
Favoritnya warna merah. Juga dengan pernah-pernik yang menyala, sekaligus menyalak.
Tip serupa juga dilakoni oleh Wimar Witoelar. Tak aneh, ia seorang tokoh kehumasan yang terampil membawa diri. Apalagi dengan bleger yang karismatik, flamboyan, dan berambut semi kribo. Juga sosok tubuhnya yang mungkin kalau bertemu dengan Ellen DeGeneres diperkirakan ia akan mencandai, bahwa kantong kanan dan kiri dari baju Bang Wimar itu memiliki ketua RT yang berbeda.
Begitulah. Di tengah-tengah banyak orang, yang berstatus penting-penting, ketika atensi semakin mahal, menjadi nampak atau menonjol dalam keriuhan adalah sebuah leverage yang bermakna. Barangkali juga mahal harganya. Saya mengalami keajaiban itu sebagai suporter sepakbola di Stadion Kallang, Singapura, 16 Januari 2005. Saat itu dilangsungkan leg kedua final Piala Tiger 2004, Indonesia melawan tuan rumah Singapura.
Begitu Mayor Haristanto (yang baru saja ikut Chingay Parade 2010 di Singapura) dan saya memasuki tribun pojok timur laut yang berisi suporter Indonesia, saya rasakan kimia menjadi berubah. Saat kami berdua membentangkan spanduk yang kami bawa dari Solo, bertuliskan slogan “Bangkit Indonesia !,” rasa nasionalisme sekitar 1000-an suporter Indonesia yang terkepung 55.000 suporter tuan rumah, ibarat api tersiram bensin. Lagu “Indonesia Raya” kami nyanyikan, bersemangat, dan air mata panas merebak di wajah-wajah kami saat itu.
Indonesia akhirnya memang kalah saat itu. Di Senayan sudah kalah 1-3, di Kallang kalah lagi, 2-1. Tetapi saya pribadi, mampu meraih kemenangan hiburan. Karena esok harinya, 17 Januari 2005, surat kabar terkemuka Singapura The Straits Times memuat pendapat saya.
Hal serupa terjadi tanggal 27 Januari 2005. Di tengah pesta hari ulang tahun MURI ke-15 di Semarang. Untuk memenangkan “persaingan” di tengah puluhan kandidat penerima rekor MURI yang lain, dari rumah saya mempersiapkan lembaran siaran pers. Saat di antara keriuhan itu saya yang harus memburu wartawan. Ketemu wartawan Radar Semarang, esoknya profil kemenangan MURI saya diwartakan.
Juga ketemu reporter televisi cantik dan menawan, Erika Diana Rizanti. Saya memberikan siaran pers saat itu seperti melempar batu ke kolam. Tak usah berharap batu akan menimbul ke permukaan. Ternyata beberapa minggu kemudian, Erika meliput kiprah saya sebagai seorang epistoholik untuk acara televisi a la Ripley’s Believe of Not ? , yaitu : Busssettt !
Ajaran Woody Allen. Menjadi nampak, visible, sehingga menjadi bahan liputan media, tidak lain merupakan ikhtiar agar cita-cita sampai nilai-nilai positif diri kita diketahui oleh dan agar berguna bagi masyarakat. Tak kenal, tak sayang, bukan ?
Dengan dikenal, juga membuka peluang bagi kita dalam membina pertemanan dengan orang lain. Itulah yang terjadi selepas saya tereliminasi dalam audisi API-4 di Yogyakarta, Sabtu, 26 Januari 2008. Memang saya gagal dalam acara seleksi pelawak itu, saya dalam kondisi remuk bubuk, tetapi pada hari-hari selanjutnya saya mampu merasakan manfaat di balik itu semua. Antara lain saya masih diberi berkah untuk mengenal sebagian awak kreatif dari TPI, stasiun televisi penyelenggara acara API tersebut.
Antara lain dengan Harris Cinnamon (foto). Karena gara-gara saya menulis di blog saya, tentang pengalaman mengikuti audisi itu. Termasuk memajang foto dan komentar Harris Cinnamon saat itu, dengan jabatan sebagai produser eksekutif acara audisi tersebut, sedang memberikan pengarahan kepada para kontestan. Demikianlah ketika acara kontes itu selesai dan saya gagal, tetapi dengan membuat “keributan” di blog, saya merasakan kemenangan dalam membina pertemanan.
Mungkin ia dapat bocoran info dari Ade Tao, juri saya. Ia memiliki kelompok lawak Decaer Group. Saya terkaget, begitu saya usai memeragakan set lawakan tunggal, ia menyapa saya. Ia adalah teman yang saya kenal melalui Internet, melalui blog Komedikus Erektus pula. Kita pernah mengobrolkan cita-citanya yang ingin terjun sebagai komedian solo juga. Ade Sofyan Intan, nama lengkapnya, bersama kelompok “69” termasuk 16 besar GrenPinal API I/2005. Satu angkatan dengan SOS dan Bajaj, Ade sudah banyak berpentas dengan pelbagai personil lawak Jakarta lainnya.
“Kekalahanmu di API-4, kemenangan yang dahsyat!,” begitu tulis Harris Cinnamon dalam boks bengok blog saya, 31/1/2008. Saya kemudian membalasnya di blog dia, Sajadah Jiwa. Termasuk kemudian mengungkapkan rasa terkejut saya, ketika memperbandingkan sosoknya yang saya sebut mirip penampilan sangar pemusik cadas favorit saya, Ritchie Blackmore dari Deep Purple, tetapi isi-isi blognya itu tak kalah dalam dan indah dibandingkan isi khotbah para kyai-kyai muda di layar-layar televisi.
Dalam kesempatan obrolan melalui email, Harris bercita-cita menyutradarai film komedi. Malah judulnya pun telah ia tentukan. Momon, panggilan akrab dia, bahkan ingin melibatkan saya. Saya sih makmum saja, kataku. Tetapi karena dia adalah seorang pekerja televisi, yang terus berlari dan mencipta setiap hari, obrolan tentang proyek film itu menguap perlahan-lahan. Kami pun juga jarang bertegur sapa.
Tiba-tiba, Momon pada tanggal 10/2/2010, muncul kembali di blog komedi saya tersebut. “Piye kabar bang...salut sampeyan masih konsisten di sini...beberapa tulisanmu menjadi masukan buat aku,” begitu tulisnya.
Terima kasih, Momon. Syukurlah bila blog itu mampu memberi manfaat. Langsung Momon saya todong untuk sudi menulis endorsement untuk buku Komedikus Erektus saya. Ia pun telah memenuhi permintaan saya tersebut.
Bahkan saya memperoleh bonus. Nanti pada tanggal 2-4 April 2010, Momon meminta saya untuk bisa ketemuan di Yogya. “Tak ada topik, mBang. Kita ngerumpi saja,” jawab Momon melalui SMS.
Saya berharap bisa kembali ke Yogya. Kini bukan sebagai kontestan, tetapi sebagai rekan dan sahabat. Tak ada beban, tak ada stres, dan tak ada tuntutan untuk “berteriak-teriak” pula.
Kilas balik 2007. Ketika mengobrol dengan Ade Tao sesaat sebelum saya turun panggung, saya berujar : ““Dalam komedi, ada ilmu air dan ilmu madu. Ilmu air adalah teori, seperti yang saya tulis di blog saya, dan ilmu madu adalah milik Anda, praktisi dunia komedi. Saya kesini ingin belajar dari Anda.”
Kalimat yang sama rasanya nanti juga akan saya katakan ke Momon. Sehingga saya bisa berharap akan banyak cerita-cerita yang bisa kita bagi. Saya berjanji untuk menuliskannya. Siapa tahu, cerita-cerita kami itu dapat memberi manfaat guna memacu kemajuan bagi komedi Indonesia, bukan ?
Wonogiri, 12/3/2010
Kamis, 04 Maret 2010
Dinding Ijazah Kaum Drakula
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
Drakula mengajari saya keindahan Clair de lune, karya Claude Debussy. Komponis musik terkenal asal Perancis itu lahir 22 Agustus 1862 di Saint-Germain-en-Laye, Perancis. Meninggal dunia, 25 Maret 1918 di Paris.
Moonlight.
Sinar bulan.
Kalau Anda warga Solo di tahun 1980-an, nama Moonlight. ini terkenal di Alun-Alun Utara Solo. Merupakan merek cairan pemutih gigi yang dijajakan di bawah pohon cemara, promosinya diumbar dengan pengeras suara.
Nomor Clair de lune itu muncul dalam film Twilight, film tentang kehidupan para drakula. Peran utamanya memunculkan sosok Drakula yang vegetarian dalam diri seorang pemuda bernama Edward. Artinya, dia hanya meminum darah hewan. Bukan darah manusia.
Kehidupan Edward yang panjang, yang mampu mencapai umur hingga ratusan tahun itu, disajikan dengan lelucon yang menarik. Dinding rumahnya diisi pajangan puluhan ijazah perguruan tinggi. Saya tidak bisa membayangkan bila dirinya seseorang yang gila gelar, seperti yang lajim terjadi di sekitar kita saat ini, dan tergiur untuk menuliskan semua gelarnya tersebut di kartu nama atau pada papan nama.
Terkait gelar dobel-dobel-dobel itu, saya pernah mengobrol dengan Pak Aggi Tjetje. Tahun 2005, di tengah hari ulang tahun ke-15 Museum Rekor Indonesia, 27 Januari 2005, di Semarang. Ia memperoleh piagam MURI. Saya juga, sebagai pencetus Hari Epistoholik Nasional 27 Januari. Pak Aggi yang berasal dari Jakarta, saat itu tercatat memiliki 8 gelar akademis. Saya memperoleh kartu namanya. Tetapi saat ini, entah ketelisut di mana.
Data 8 gelar itu kemudian saya bocorkan kepada Erika Diana Rizanti, reporter acara televisi Buseeettt. Beberapa saat kemudian Pak Aggi muncul dalam acara yang bergaya Ripley’s Believe or Not itu. Saya juga ikut muncul, dalam kesempatan lain, sebagai seorang epistoholik.
Kisah Pak Aggi Tjetje itu sebenarnya menunjukkan betapa hebatnya otak manusia itu. Hal itu juga tergambar dalam film Phenomenon (1996) yang dibintangi oleh John Travolta (George Malley). Kalau Anda pernah menonton, semoga Anda masih ingat adegan saat dirinya mampu belajar bahasa Portugis secara cepat. Hanya dalam waktu 20 menit.
Ia juga mampu menerjemahkan bunyi gelombang radio, yang ternyata sinyal-sinyal komunikasi rahasia milik militer. Ketika ia mencoba membalas sinyal-sinyal tersebut, dirinya segera menjadi perburuan fihak militer AS untuk ditangkap dan diinterogasi.
“Keajaiban” semacam itu juga bisa Anda miliki. Harry Lorayne dalam bukunya Rahasia Dari Kekuatan Pikiran menegaskan kunci untuk mampu meraih sukses dan prestasi, termasuk dalam belajar, adalah antusiasme. “Tidak seorang pun yang pernah memperoleh pengetahuan yang mengagumkan tanpa semangat ketika melakukannya,” tuturnya.
Lanjutnya : “Apakah Anda pernah menulis esai ? Bila Anda mendekatinya sebagai tugas, atau dengan rasa benci, Anda tidak memerlukan saya untuk mengingatkan Anda betapa sulit pekerjan itu. Bila Anda mampu membangkitkan sedikit antusiasme mengenai pekerjaan itu, hasilnya bukan hanya esai yang lebih baik, tetapi mungkin sama sekali tidak menyerupai tugas. Anad merasa tugas itu bahkan dapat dinikmati.
Bila Anda termasuk orang yang tidak suka menulis surat, berhentilah menganggap itu sebagai tugas. Dekati pekerjaan itu dengan antusiasme dan Anda akan mulai menunggu saat untuk menulis surat. “
Apakah Anda juga memiliki antusias yang tinggi, misalnya dalam mengisi blog Anda ? Juga kapling My Note dalam akun Facebook Anda ?
Sedikit membuka rahasia : karena kecintaan, juga karena kegiatan menulis sebagai kegiatan belajar, maka sungguh suatu doping tersendiri bagi jiwa kalau saya bisa menulis sesuatu esai untuk blog-blog saya.
Kemarin malam (3/3/2010), sekitar jam 21.30, saya memperoleh bonusnya. Hal itu terjadi ketika saya mengirimkan email kepada Bang Wimar Witoelar. Saya meminta catatan atau endorsement dari beliau untuk suatu naskah buku.
“Siap. Saya akan menuliskannya dalam kesempatan pertama.”
Begitulah jawab Bang Wimar.
Dan beliau kemudian benar-benar melakukannya.
Terima kasih, Bang Wimar.
Semoga nanti tidak hanya nama dan pemikiran seorang Wimar Witoelar yang bakal Anda temui dalam buku tersebut. Semoga juga ada Antyo Rentjoko. Arswendo Atmowiloto. Diana AV Sasa. Effendi Gazali. Ira Lathief. Isman H Suryaman. Sampai Sarlito W. Sarwono.
Semua momen kejutan itu bisa terjadi berawal ketika blog saya diketemukan oleh seorang Faried Wijdan. Dari Etera Imania, Jakarta.
Siapa tahu, walau tidak hendak berniat menyaingi deretan ijazah di dinding rumah Edward Sang Drakula, minimal di dinding kamar saya kelak, saya bisa menikmati deretan beberapa karya buku. Yang embrionya dimulai dari blog, dari Facebook, juga dari percik antusias dan gelegak cinta sepenuh hati.
Termasuk yang ditulis di ujung-ujung puncak malam saat kota kecil Wonogiri diselimuti Clair de lune, karya indah dari Claude Debussy.
Wonogiri, 4 Maret 2010
Email : humorliner (at) yahoo.com
Drakula mengajari saya keindahan Clair de lune, karya Claude Debussy. Komponis musik terkenal asal Perancis itu lahir 22 Agustus 1862 di Saint-Germain-en-Laye, Perancis. Meninggal dunia, 25 Maret 1918 di Paris. Moonlight.
Sinar bulan.
Kalau Anda warga Solo di tahun 1980-an, nama Moonlight. ini terkenal di Alun-Alun Utara Solo. Merupakan merek cairan pemutih gigi yang dijajakan di bawah pohon cemara, promosinya diumbar dengan pengeras suara.
Nomor Clair de lune itu muncul dalam film Twilight, film tentang kehidupan para drakula. Peran utamanya memunculkan sosok Drakula yang vegetarian dalam diri seorang pemuda bernama Edward. Artinya, dia hanya meminum darah hewan. Bukan darah manusia.
Kehidupan Edward yang panjang, yang mampu mencapai umur hingga ratusan tahun itu, disajikan dengan lelucon yang menarik. Dinding rumahnya diisi pajangan puluhan ijazah perguruan tinggi. Saya tidak bisa membayangkan bila dirinya seseorang yang gila gelar, seperti yang lajim terjadi di sekitar kita saat ini, dan tergiur untuk menuliskan semua gelarnya tersebut di kartu nama atau pada papan nama.
Terkait gelar dobel-dobel-dobel itu, saya pernah mengobrol dengan Pak Aggi Tjetje. Tahun 2005, di tengah hari ulang tahun ke-15 Museum Rekor Indonesia, 27 Januari 2005, di Semarang. Ia memperoleh piagam MURI. Saya juga, sebagai pencetus Hari Epistoholik Nasional 27 Januari. Pak Aggi yang berasal dari Jakarta, saat itu tercatat memiliki 8 gelar akademis. Saya memperoleh kartu namanya. Tetapi saat ini, entah ketelisut di mana.
Data 8 gelar itu kemudian saya bocorkan kepada Erika Diana Rizanti, reporter acara televisi Buseeettt. Beberapa saat kemudian Pak Aggi muncul dalam acara yang bergaya Ripley’s Believe or Not itu. Saya juga ikut muncul, dalam kesempatan lain, sebagai seorang epistoholik.
Kisah Pak Aggi Tjetje itu sebenarnya menunjukkan betapa hebatnya otak manusia itu. Hal itu juga tergambar dalam film Phenomenon (1996) yang dibintangi oleh John Travolta (George Malley). Kalau Anda pernah menonton, semoga Anda masih ingat adegan saat dirinya mampu belajar bahasa Portugis secara cepat. Hanya dalam waktu 20 menit.
Ia juga mampu menerjemahkan bunyi gelombang radio, yang ternyata sinyal-sinyal komunikasi rahasia milik militer. Ketika ia mencoba membalas sinyal-sinyal tersebut, dirinya segera menjadi perburuan fihak militer AS untuk ditangkap dan diinterogasi.
“Keajaiban” semacam itu juga bisa Anda miliki. Harry Lorayne dalam bukunya Rahasia Dari Kekuatan Pikiran menegaskan kunci untuk mampu meraih sukses dan prestasi, termasuk dalam belajar, adalah antusiasme. “Tidak seorang pun yang pernah memperoleh pengetahuan yang mengagumkan tanpa semangat ketika melakukannya,” tuturnya.
Lanjutnya : “Apakah Anda pernah menulis esai ? Bila Anda mendekatinya sebagai tugas, atau dengan rasa benci, Anda tidak memerlukan saya untuk mengingatkan Anda betapa sulit pekerjan itu. Bila Anda mampu membangkitkan sedikit antusiasme mengenai pekerjaan itu, hasilnya bukan hanya esai yang lebih baik, tetapi mungkin sama sekali tidak menyerupai tugas. Anad merasa tugas itu bahkan dapat dinikmati.
Bila Anda termasuk orang yang tidak suka menulis surat, berhentilah menganggap itu sebagai tugas. Dekati pekerjaan itu dengan antusiasme dan Anda akan mulai menunggu saat untuk menulis surat. “
Apakah Anda juga memiliki antusias yang tinggi, misalnya dalam mengisi blog Anda ? Juga kapling My Note dalam akun Facebook Anda ?
Sedikit membuka rahasia : karena kecintaan, juga karena kegiatan menulis sebagai kegiatan belajar, maka sungguh suatu doping tersendiri bagi jiwa kalau saya bisa menulis sesuatu esai untuk blog-blog saya.
Kemarin malam (3/3/2010), sekitar jam 21.30, saya memperoleh bonusnya. Hal itu terjadi ketika saya mengirimkan email kepada Bang Wimar Witoelar. Saya meminta catatan atau endorsement dari beliau untuk suatu naskah buku.
“Siap. Saya akan menuliskannya dalam kesempatan pertama.”
Begitulah jawab Bang Wimar.
Dan beliau kemudian benar-benar melakukannya.
Terima kasih, Bang Wimar.
Semoga nanti tidak hanya nama dan pemikiran seorang Wimar Witoelar yang bakal Anda temui dalam buku tersebut. Semoga juga ada Antyo Rentjoko. Arswendo Atmowiloto. Diana AV Sasa. Effendi Gazali. Ira Lathief. Isman H Suryaman. Sampai Sarlito W. Sarwono.
Semua momen kejutan itu bisa terjadi berawal ketika blog saya diketemukan oleh seorang Faried Wijdan. Dari Etera Imania, Jakarta.
Siapa tahu, walau tidak hendak berniat menyaingi deretan ijazah di dinding rumah Edward Sang Drakula, minimal di dinding kamar saya kelak, saya bisa menikmati deretan beberapa karya buku. Yang embrionya dimulai dari blog, dari Facebook, juga dari percik antusias dan gelegak cinta sepenuh hati.
Termasuk yang ditulis di ujung-ujung puncak malam saat kota kecil Wonogiri diselimuti Clair de lune, karya indah dari Claude Debussy.
Wonogiri, 4 Maret 2010
Langganan:
Postingan (Atom)


