Tampilkan postingan dengan label humor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label humor. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Maret 2010

Wimar Witoelar, Teror Negara dan Komedikus Erektus

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



“Negara seringkali merupakan organisasi teroris yang dilegitimasi melalui layar putih,” kata Bambang Haryanto dari lembah Gunung Sewu, tepatnya kota kecil Wonogiri.

Menurutnya dengan regulasi, sensor dan muatan propaganda yang massif, mereka melakukan cuci otak bangsa Indonesia demi tujuan langgengnya kekuasaan rezim teroris bertubuh negara, yaitu pemerintahan Orde Baru.

“Teror itu masih membekas tajam sampai saat ini,” tunjuknya setelah membaca karya Krishna Sen. Lihatlah, katanya, banyak sineas muda kita, yang pada era 1965 belum lahir, kini justru terobsesi membuat film-film bergenre hantu. Dan laku.

Pilihan itu boleh jadi merupakan ungkapan bawah sadar diri mereka dalam upaya menghilangkan hantu-hantu masa lalu, dari era represif, zaman gelap sarat aroma pembunuhan sampai penculikan, yang masih juga menghantui diri-diri mereka.

Film-film berjenis yang disebut Bambang Haryanto itu memang pernah menjadi “momok” yang dilegitimasi sebagai sebuah teror kesadaran akan musuh-musuh Negara semacam sebagaimana termaktub dalam film Pengkhianatan G 30 S/PKI (1984). Film ini tak dielaborasi Krishna Sen, tapi dikutip sambil lalu saja. Padahal inilah film yang paling sering diputar, tak hanya di layar perak tapi juga di layar kacar. Setiap tahun selama puluhan tahun.”

Itulah cuplikan dari artikel berjudul “Pandangan Dewan Pembaca: Teror Negara dalam Sinema” di situs Indonesia Buku. Artikel tersebut merupakan himpunan dari 6-7 komentator setelah membaca buku yang terpilih untuk dibedah secara beramai-ramai, yaitu karya Krishna Sen berjudul Kuasa Dalam Sinema (2007).

Pendapat bahwa negara merupakan sosok teroris di atas, saya peroleh idenya dari seorang Wimar Witoelar. Ketika Indonesia diguncang aksi terorisme, ledakan bom di Bali, 12 Oktober 2002, beberapa hari kemudian saya temukan artikel yang ditulis Wimar Witoelar di surat kabar Inggris, The Guardian (16/10/2002). Dalam tulisan berjudul “Wimar Witoelar’s World, Citizen Journalism dan Epistoholik Indonesia” saya telah mengutipnya, juga menyebutkan :

“Saya hanya mengenalnya melalui media massa. Artikelnya di atas boleh jadi merupakan persinggungan saya untuk yang kesekian kali dengan Wimar Witoelar. Tentu saja persinggungan pasif antara diri saya sebagai seorang konsumen media dengan seorang kolumnis yang banyak tampil di media massa. Bagi saya, tulisan-tulisan Wimar senantiasa menyuarakan hati nurani, walau tidak setiap orang mampu mendengarkan dan memahaminya.”

Setelah tulisan tersebut ia ketahui, sepertinya kemudian ia setengah “memerintahkan” seluruh punggawa InterMatrix, yaitu perusahaan kehumasan miliknya, untuk wajib membaca tulisan dalam blog saya tersebut. Sosoknya serasa makin dekat bagi diri saya, tatkala badai demam blog sedang melanda Indonesia. Tahun 2006.

Dirinya hadir sebagai salah satu kampiun yang memopulerkan jurnalisme warga. Dalam mosaik-mosaik media saat itu, selain Wimar Witoelar, juga berkelebat sosok Budi Putra, dan bahkan pemain biola menawan, Maylaffayza Fitri Wiguna.

Walau tidak sering menggalang kontak, syukurlah, rupanya saya masih memiliki sudut kecil dalam ingatan beliau. Ketika tiba-tiba saya tergerak menulis email untuknya, guna meminta dorongan dan endorsement untuk buku Komedikus Erektus, gayung pun bersambut.

Terima kasih, Bang Wimar.

Tetapi saya masih punya satu rasa penasaran. Saya pernah mengajukan pertanyaan dengan memajang di kotak komentar dalam artikelnya, belum ada jawaban tuntas. Wimar Witoelar yang menulis buku berjudul No Regret, yang merupakan memoar berisi sepak terjang dirinya ketika menjadi juru bicara Presiden Abdurrachman Wahid, belum menjawab rasa ingin tahu saya.

Yaitu, mengapa Gus Dur dan juga dirinya menyukai lagu berjudul “Me and Bobby McGee” dari penyanyi cewek urakan, petualang seks dan bahkan mati muda akibat obat bius, bernama Janis Joplin ?


Wonogiri, 9/3/2009

Mas Darminto, Planet Humor dan Komedikus Erektus

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Ciumlah Romeo ! Italia terkenal dengan penduduknya yang berdarah panas.

Saya pernah mengalami suasana panas itu ketika menonton drama Romeo dan Juliet yang dipentaskan di sebuah teater di Verona.

“Cium aku Romeo, dan aku akan pulang,” desis Juliet di panggung.
“Tidak, Juliet,” balas Romeo.
“Cium, cium aku Romeo dan aku akan pulang.”
“Aku tidak bisa, Juliet !”
“Oh, Romeo ciumlah aku Romeo dan aku akan pulang.”

Tiba-tiba dari arah penonton terdengar teriakan keras : “Cium dia, Romeo. Ayo cium saja, Romeo, dan sesudah itu kita semua akan pulang !”

Lelucon itu dimuat di halaman “Jenakarta,” pada harian Jayakarta, Kamis Pon, 14 Juli 1988. Redaktur halaman koran yang melulu berisi lelucon teks dan kartun tersebut adalah Darminto M Sudarmo. Saya yang mengirimkannya. Mas Darminto pula yang menyerahkan honor ketika saya menagihnya, di kawasan Jl. Otto Iskandardinata III, Jakarta.

Saat itu kita sama-sama tinggal di Jakarta. Saat menagih honor, sering saya ketemu dengan kartunis Martono Loekito. Dia dan Mas Dar lebih akrab dengan adik saya Basnendar Heriprilosadoso, karena sama-sama kartunis. Sedang saya tidak bisa menggambar, apalagi mengkartun.

Saat mengirimkan lelucon itu saya menggunakan inisial “BH” dan kadang “bhfs.” Kepanjangan dari inisial terakhir ini adalah “bambang haryanto features syndicate.” Tak tahu ide dari mana, kiranya saya pernah mengobrol sama Mas Dar tentang pembentukan sindikat itu.

Bermimpi bisa mensinergikan antara penulis dan kartunis, lalu meniru kiprah Charles M Schulz dengan “Snoopy”-nya, di mana sindikat itu bisa memasuk beragam filler, baik kartun atau pun lelucon, ke pelbagai media massa. Ketika Mas Darminto menjadi pemimpin redaksi Majalah Humor, berkantor di Palmerah, saya juga pernah mengirimkan lelucon seputar dunia hukum.

Yang rada aneh, mungkin karena lingkar edar planet kita “tertakdir” (?) berbeda, membuat planetnya Mas Darminto (salah satu bukunya terpajang di atas) dan planet saya, walau pun sama-sama punya nomor polisi bertanda humor, jarang terjadi encounter, pertemuan, antara keduanya.

Lucu juga. Mungkin ini tanda kebesaran humor, di mana galaksinya betapa amat luas, sehingga setiap insan jenaka yang memiliki aspirasi humor baginya masih selalu tersedia kapling tak terbatas untuk berkiprah. Untuk memberi. Untuk berprestasi. Juga untuk menggaruk rejeki.

Syukurlah, berkat jasa Internet, kini kita bisa mendekatkan garis edar planet-planet humor kita tersebut. Bahkan khusus untuk buku saya, Komedikus Erektus, Mas Darminto telah berbaik hati menyumbangkan advance praise sebagai berikut :

“Membaca hampir semua tulisan Bambang Haryanto di blog Komedikus Erektus, saya merasakan ada sesuatu yang menyelinap bersijingkat bukan saja ke otak saya, tetapi juga ke rasa, ke hati, ke pori-pori, bahkan ke pembuluh darah. Sesuatu itu seperti mendesak-desak, mencubit-cubit, kadang bahkan menggaruk-garuk perasaan intelektual saya. Sesuatu itu apa sebenarnya, saya tidak tahu pasti; yang jelas, ia begitu rewel, mengajuk-ajuk, mengulik-ulik, lalu saya tergiring untuk duduk termenung-menung, terbengong-bengong dan seringkali bahkan tidak mampu melakukan apa-apa karena pengaruh “sihir”-nya.

Ya, sihir itu! Terjadi karena tuturan bahasanya yang elok, lincah, segar bahkan “baik dan benar” menurut kaidah perbahasaan. Menyentak dan bikin cingak karena akurasinya yang ampuh. Mencengangkan krena gagasan dan wawasannya sanggup menembus batas ruang, waktu dan hegemoni disiplin ilmu. Akhirnya saya pun “terkapar”, klepek-klepek, sebagai sesama penggemar humor, saya memperoleh banyak nuansa dari pikiran-pikiran unik seorang sahabat yang langka ini.

Intinya.... selain luas dan beraneka ragam, Anda juga akan memperoleh manfaat yang khas dalam hal seni humor. Khususnya lagi seni memupuk rasa humor dalam diri dan seni melihat berbagai peristiwa dari sudut pandang humor. Anda akan kaget sendiri setelah membuktikannya. Saya selalu berdebar-debar menunggu tulisan-tulisan dia berikutnya....tentu Anda, juga, kan?

(Darminto M Sudarmo, centeng di http://www.facebook.com/l/31726 ; www.kolomhumor.com dan peminat seni humor).


Semoga saja kepala saya tidak terkena sakit hidrocefalus.
Terima kasih, Mas Darminto.
Sukses selalu.


Wonogiri, 9 Maret 2010