Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
Komedian itu mirip wartawan.
Sama-sama suka kabar buruk.
Tentang wartawan, saya akan mengutip isi blog kawan maya saya, Ira Lathief (foto). Ia telah menghasilkan buku-buku menarik.
Antara lain : Tukul Arwana : Kumis Lele Rezeki Arwana (Biografi, 2007), Kumpulan Rayuan Gombal (2007), Tebak-Tebakan Gokil Abiz Plus Humor Buat Gaul (2008), Kumpulan Rayuan Super Gombal (2009), Tebak-Tebakan & SMS Kocak (2009) dan Kumpulan Status Facebook Paling Seru (2009).
Ira yang memiliki blog dengan slogan “think globally, laugh locally” telah pula berkenan menulis endorsement yang inspiratif dan insinuatif untuk buku saya, Komedikus Erektus, yang kini dalam perampungan akhir oleh Faried Wijdan dan kawan-kawan di Etera Imania dan menunggu diluncurkan.
Ketika Ira Lathief menulis pengalamannya sebagai relawan di Aceh pasca-tsunami, ia sempat menyentil tentang membeludaknya kabar buruk tentang negeri ini yang mampir di benaknya dan atmosfir tempat dia bekerja. Ira menulis :
“Belakangan kayaknya kita ‘dibombardir’ rentetan berita buruk dari berbagai media massa. Ditambah lagi ….. orang “berlomba-lomba” mengkritik dan saling menyalahkan. ABCDEF. Aduh Booo…..Cape Deyyyy…Eikee Fusyiing!!! Koq…..seakan-akan bangsa ini gak berenti2 dirundung kemalangan :( TANYA KENAPA???
Berita buruk dan segala macam kritik adalah ‘makanan’ aku sehari-hari. Di lingkungan dunia pemberitaan yang bergelut dengan rating, tempatku mengais-ngais intan dan berlian, aku udah "kenyang" dikondisikan untuk mencari segala kekurangan dan kelemahan dari sebuah peristiwa atau juga orang lain. Well…bad news is always a good news, what can I say!
I love my job, I love what I’m doing. Tapi, sebenernya lingkungan seperti ini sangat memungkinkan aku untuk menjadi pribadi yang juga "negatif", kalo saja aku gak bisa ‘menyiasatinya.’ Untungnya, aku masih ‘diselamatkan’ oleh orang-orang luar biasa, yang selalu ‘menyadarkan,’ bahwa bertindak dan berbuat sesuatu adalah jauh lebih berarti daripada sekedar mengkritik.”
Ira yang beruntung. Beruntung pula mereka yang mau menjalani nasehat Andrew Weil, M.D. Ia ibarat sosok “nabi” dalam kancah pengobatan alternatif dunia, walau sebenarnya ia lulusan fakultas kedokteran Universitas Harvard. Dalam wawancara dengan majalah Housekeeping beberapa waktu lalu, di mana saya lupa mencatat nomor edisinya, tetapi saya fotokopi dari Perpustakaan LIA Jakarta Timur, 14 Januari 1998, ia mengajukan hal yang menarik dan kontroversial.
Sambil merujuk isi buku Weil terbaru yang laris, berjudul 8 Weeks to Optimum Health, Bonnie Rubin, si pewawancara, mengutarakan bahwa Andrew Weil menganjurkan agar orang puasa berita. Yaitu absen dari membaca media cetak, tidak mendengarkan radio dan absen nonton televisi, sebagai cara memperoleh ketenangan yang lebih optimal. “Tetapi bukankah terlibat secara aktif dengan keadaan yang terjadi di dunia merupakan nilai plus ?,” tanya Bonnie Rubin.
“Saya tidak menuntut agar orang menjadi buta informasi, tetapi kita harus melakukan pilihan terhadap asupan berita-berita itu,” jawabnya. “Mendengarkan berita dapat menjadi sumber agitasi atau gejolak mental yang tidak kita sadari. Terutama dengan membanjirnya cerita-cerita duka nestapa yang memicu perasaan marah, tidak berdaya dan keberingasan, di mana semua itu menjadi latar belakang kegaduhan bagi hidup kita, baik ketika kita sedang makan atau menyopir, sementara kita tidak memperhatikan dampak semua itu bagi kondisi mental kita.”
Betul juga. Mudah kita bayangkan apa yang terjadi bila tiap hari mental kita dihajar dengan asupan-asupan informasi semacam itu. Mungkin dampaknya berupa siklus tanpa henti : kekerasan, berita kekerasan, kekerasan yang lebih ganas lagi, berita kekerasan yang lebih mencekam lagi, dan seterusnya. Dan seterusnya lagi.
Bahan olok-olok. Lalu bagaimana kaitan antara kabar buruk dengan komedian ? Kabar buruk itu, utamanya yang menyangkut tokoh terkenal, baik artis, pebisnis, politisi atau birokrat yang korup, yang melakukan deviasi, senantiasa menjadi bahan santapan lezat para komedian untuk dijadikan bahan tertawaan secara bersama-sama.
Komedian terkenal Jon Stewart, menjelang tampil sebagai host penganugerahan Oscar di tahun 2006, mengatakan bahwa dirinya telah bersyukur kepada Tuhan. Pengarang buku humor politik laris America (The Book): A Citizen's Guide to Democracy Inaction itu merujuk munculnya peristiwa tragis yang tiba-tiba.
Ibarat ia dapat durian runtuh, karena melibatkan nama besar. Wakil Presiden Dick Cheney ketika itu berburu burung puyuh bersama rekan-rekannya. Lalu secara tidak sengaja justru menembak kawannya sendiri, pengacara sohor Harry Whittington. Jon Stewart melucukannya :
“Wapres AS Dick Cheney secara tidak sengaja menembak seseorang ketika berburu burung puyuh...membuat Harry Whittington sebagai orang pertama ditembak wakil presiden AS sejak Alexander Hamilton. Hamilton terlibat tembak-menembak dengan Aaron Burr demi mempertahankan kehormatan, integritas dan manuver politik. Whittington ? Tertembak karena dikira seekor burung !”
Lelucon Stewart yang satu ini menarik. Terutama karena peristiwa duel antara Alexander Hamilton (1755-1804) melawan Aaron Burr (1756-1836) itu sudah terjadi lebih dari 200 tahun yang lalu. Tetapi mengapa peristiwa tersebut masih hidup dalam ingatan bangsa Amerika ? Bahkan masih juga relevan menjadi bahan guyonan masa kini. Karena mereka memiliki fondamen budaya literasi, budaya baca dan tulis, yang telah kokoh.
Hikmahnya, bagi saya, barangkali itulah salah satu mukjijat humor. Sebagai media untuk melestarikan nurani bangsa agar tidak terkena amnesia sejarah. Sayangnya, nampaknya tidak banyak pemangku kepentingan dunia humor kita yang mampu merenung, lalu berusaha melahirkan, mengembangkan dan menanamkan keluhuran humor semacam ini sebagai penjaga moral kehidupan berbangsa dan bernegara selama ini.
Kita lebih sering seperti keledai, lupa dan lupa lagi, sehingga terantuk pada lubang yang sama lagi. Apalagi terhadap dinamika politik yang terjadi. Ingatan bangsa ini memang pendek, sentil sobat saya Effendi Gazali. Akibatnya, seperti kata filsuf George Santayana (1863–1952), “mereka yang tidak mampu mengingat masa lampau akan dikutuk untuk mengulanginya kembali.”
Sebagai pelaku aktif gejolak peradaban, komedian memang harus memiliki antena atau radar yang super peka terhadap gejolak masyarakat. Bekerjanya 24 jam per hari dan 7 hari seminggu pula. Karena hanya dengan metode ini pula leluconnya berpeluang memicu gelak, karena mampu seirama dengan detak jantung dan nurani audiensnya.
Sekadar contoh, adalah ulah komedian favorit saya Andy Borowitz. Di tengah heboh peluncuran gadget fenomenal karya Apple Corporations, yaitu iPad, pada tanggal 3 April 2010 yang lalu, ia pun mengiris dengan lelucon bergizi tinggi.
Katanya, sabak cerdas iPad itu diramalkan akan menjadi satu-satunya pemenang Hadiah Nobel Perdamaian yang bukan berwujud manusia. Seloroh tingkat tinggi dalam balutan idea-driven jokes dari lulusan magna cum laude Universitas Harvard (1980) ini sungguh mematikan. Katanya, “iPad yang baru diluncurkan 24 jam saja itu sudah dikabarkan mampu sebagai solusi untuk menyelamatkan industri surat kabar, industri penerbitan, dan bahkan menyelamatkan perkawinan Tiger Woods yang terancam berantakan.”
Komedi ular. Selain peka dan cerdas membingkai berita-berita hip yang hadir meledak-ledak, para komedian utamanya harus pula sensitif terhadap suasana hati rakyat yang sering menggumpal tetapi tidak serta merta muncul ke permukaan. Ketajaman dalam mengolah isu-isu yang menggumpal di benak rakyat itu, lalu menyuarakannya ketika banyak orang lain tidak berani, itulah yang membuat komedian sering disebut, meminjam istilah Jay Sankey (1998), sebagai sosok filsuf yang blak-blakan.
Sisanya, kepekaan komedian dalam menggarap sesuatu isu, sebenarnya juga dapat direncanakan sejak dini. Karena selain isu yang tiba-tiba hadir dan meledak, di kalangan masyarakat senantiasa juga dibeliti oleh isu-isu laten yang setiap rentang waktu akan hadir, atau muncul kembali, secara periodik. Saat hari raya, tahun baru, saat ujian nasional, penerimaan mahasiswa baru, saat tenggat membayar pajak, sampai saat musim kering atau musim hujan misalnya, semua gejolak dan atmosfirnya berpeluang dijadikan bahan lawakan.
Merujuk hal itu, di negara-negara yang industri humornya sudah mapan telah terdapat lembaga kajian lawakan dengan luaran jasa yang unik. Mereka setiap awal bulan selalu menerbitkan “ramalan cuaca humor” sebagai pemandu penciptaan lawakan sehingga isi atau pesannya mampu mencocoki suasana hati masyarakat ketika lawakan tersebut dipanggungkan.
Lembaga peramal cuaca humor semacam itu belum ada di Indonesia. Mungkin itu sebabnya, mengapa pemanggungan perdana acara humor Piala Duniatawa di stasiun televisi swasta TPI, tanggal 2 Mei 2010 yang lalu, memancing tanda tanya. Karena acara yang menurut direktur kreatifnya, yang juga sahabat saya, Harris Cinnamon, digagas mengambil momentum penyelenggaraan kejuaraan akbar sepakbola sejagat, Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, kok tiba-tiba justru tampil dengan kostum, dekor dan suasana berbau Cina.
Padahal, kita tahu, hari raya Imlek sudah lama berlalu. Apalagi dalam tayangan acara itu juga tak ada sentuhan terkait pertandingan sepak bola. Bahkan walau terbalut dekor dan kostum bernuansa Cina yang mewah dan mahal, saya telah menulis sentilan di wall-nya Harris Cinnamon antara lain berbunyi :
“Menurutku, sayang banget, totalitas sajian malam itu nampak tidak dirancang untuk mengeksploitasi kosmologi Cina secara komprehensif. Misalnya dimulai dari ajaran filsafat Cina yang luhur dan kaya, sampai sajian lelucon-lelucon khas Cina yang elegan, tanpa harus terjebak pendekatan berbau rasis atau stereotip yang dangkal.
Kostum dan dekor yang nampak mewah itu bagiku malah seperti membelenggu,memperkerdil para pelaku, juga karena tidak ada unsur-unsur yang dapat diolah secara cerdas sebagai sajian humor visual yang khas Cina pula.
Usul : kalau bisa, intro atau narasi ‘dalang’ oleh Oki dkk jangan sampai berkepanjangan. Mereka harus dibuatkan set (naskah lawakan) yang bernas dan terukur, muncul di saat tepat, membawakan 2-3 lelucon, lalu mundur lagi ke belakang. Jangan mereka dibiarkan ‘liar’ karena, maaf, stok lelucon yang ada di kepala dia nampak sangat-sangat terbatas.”
Pemilihan tema sampai setting dari Piala Duniatawa malam itu, menurut saya meleset terkait atmosfir yang hidup pada benak masyarakat. Ini jelas merupakan kabar buruk. Yang kemudian memicu lahirnya tulisan ini.
Tentu saja, bukan diniatkan sebagai ejekan atau aksi penistaan. Tetapi diajukan dengan harapan semoga mampu menjadi bahan diskusi, syukur-syukur menjadi bahan perenungan di sana-sini.
Komedi Indonesia harus bergerak seperti ular. Ia tak mampu bergerak maju bila berada di permukaan yang licin. Ia akan bergerak bila berada di permukaan yang kasar. Dalam konteks niatan memajukan dunia komedi kita, permukaan yang kasar itu bukan pujian, melainkan kritik.
Sayangnya, kritik seringkali didaulat oleh masyarakat kita sebagai bentuk perlawanan, bukan sebagai suatu bentuk kemitraan. Kita belum mampu menerima kritik secara elegan. Tak ayal, meniru teknik lawakan call back yang terkenal itu, bangsa yang tidak menghargai kritik berpeluang besar dikutuk untuk mengulangi kembali segala kesalahan dan kejahatannya sendiri di masa lampu.
Kabar buruk lagi.
Apakah kita akan menerimanya dengan senang hati ?
Wonogiri, 4-5/5/2010
Tampilkan postingan dengan label komedian indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komedian indonesia. Tampilkan semua postingan
Selasa, 04 Mei 2010
Minggu, 11 April 2010
Job Fair, Joker Fair dan Koneksi Sukses Anda
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
Buang Surat Lamaran Anda ! Acara Career Days yang pertama kali saya ikuti berlangsung tanggal 14-16 Februari 1989. Tempatnya di Balai Mahasiswa Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta. Penyelenggaranya, kalau tak salah, Senat Mahasiswa FEUI dan AISEC. Saya datang tidak untuk mencari pekerjaan. Tetapi untuk membuka wawasan. Mencari peluang kerja sama.
Tahun-tahun itu, sebagai infojunkie saya banyak membeli buku-buku, majalah, termasuk majalah bekas terbitan luar negeri, sampai print out pelbagai bank data komersial (belum ada Internet saat itu) di manca negara. Topiknya : strategi berburu pekerjaan.
Minat itu terpicu antara lain oleh sebuah buku koleksi perpustakaan PDII-LIPI. Lembaga ini saya tak tahu apa namanya sekarang, tetapi saat itu bernama PDIN-LIPI. Buku tersebut merupakan karya Warren J. Rosaluk, judulnya Throw Away Your Resume and Get That Job (1983). Buang saja surat-surat lamaran (juga CV Anda) dan dapatkan pekerjaan.
Bagi saya, buku ini revolusioner. Sayangnya, tidak banyak diketahui oleh jutaan pencari kerja kita yang sebagian besar menggantungkan masa depannya dengan cara-cara konvensional dalam berburu pekerjaan. Cara-cara lama ini senyatanya melelahkan, yang mudah menimbulkan rasa putus asa dan perasaan tidak berharga, dan bahkan juga mampu membinasakan dirinya itu pula.
Pengalaman kerja nol. Kembali ke acara di kampus UI tersebut. Pembicaranya antara lain Abdulgani (Bank Duta, “masih ada yang ingat bank satu ini ?”), Hamizar (Bakrie Brothers, “Aburizal Bakrie saat itu belum terkenal”) dan Fahmi Idris (KODEL Group). Pertanyaan yang muncul dari kalangan mahasiswa, yang klasik itu, menyangkut persyaratan pengalaman kerja. “Kami baru saja lulus, kok dimintai informasi seputar pengalaman kerja ?,” kira-kira begitulah protes mereka.
Terkait keluhan tipikal di atas, saya pernah menulis di kolom surat pembaca di Kompas Jawa Tengah, dengan judul “Pengalaman Kerja, Perlakuan Tak Adil ?” (23/11/2004). Saya tuliskan : “Yang dimaksud pengalaman kerja itu sebenarnya bukan hanya terbatas kepada pengalaman kerja yang memperoleh bayaran. Selama kuliah, dengan terjun dalam pelbagai aktivitas kemahasiswaan, baik kesenian, olahraga, sosial atau politik, mahasiswa bersangkutan juga telah memperoleh pengalaman kerja yang berguna.
Merancang isu demo, menggalang barisan peserta, membagi tugas, membuat spanduk baik isi sampai desain, menyebarkan siaran pers sampai melakukan demonya itu sendiri, adalah juga pengalaman kerja.
Problemnya adalah, tidak banyak mahasiswa kita yang selama kuliah sengaja melakukan aktivitas non-kuliah demi memperoleh pengalaman kerja yang kelak ia butuhkan. Tidak banyak pula yang mau terjun bekerja sebagai relawan tanpa bayaran.
Beda misalnya dengan mahasiswa di luar negeri, di mana misalnya pada masa kampanye pemilu mereka ramai-ramai bergabung sebagai relawan dalam tim sukses calon presiden. Mereka menjelajahi beragam pekerjaan yang memang terbuka saat itu guna memperoleh pengalaman, keterampilan, wawasan dan jaringan koneksi.”
Koneksi itu penting. Kalau kata ini terkesan berkonotasi KKN, bisalah Anda ganti dengan networking, menggalang jejaring. Dan itulah yang tidak nampak ketika acara seminar dalam Career Days itu berakhir. Tak ada gerombolan mahasiswa yang antusias datang menyalami para pembicara, bertanya atau berbincang, apalagi sambil bertukar kartu nama. Koneksi pun menjadi terputus. Momen langka dan berharga ini menjadi sia-sia,mubazir, bagi para mahasiswa yang suatu saat kelak akan terjun dalam aktivitas berburu pekerjaan.
Momen mubazir serupa terlihat pula ketika saya mengikuti audisi API-4 (26/1/2008) dan audisi Piala Dunia Tawa (2/4/2010) di Gedung Wanitatama, Yogyakarta. Mungkin karena atmosfirnya sarat persaingan di antara peserta, membuat mereka terkondisikan untuk cenderung “kurang ramah” satu terhadap yang lainnya.
Begitu acara bubar, mereka-mereka itu nyaris tidak dapat dilacak lagi domisili masing-masing. Termasuk potensi yang mereka miliki. Isian dalam formulir pendaftaran memang tidak membuka peluang tersajinya keistimewaan masing-masing peserta audisi. Apalagi TPI, demi alasan bisnis, memang wajar bila nampak berkepentingan hanya dengan peserta yang lolos saja. Sisanya, data yang lebih banyak dari peserta audisi yang gagal itu, mungkin dinilai tak berguna lagi oleh fihak TPI.
Akibatnya, menurut saya, komunitas komedi kita kehilangan direktori yang mampu mengikat simpul-simpul sumber daya kreatif itu. Karena mungkin saja bila mereka memperoleh sentuhan secara berbeda (bukan audisi), dengan diberi bimbingan dan dibukakan wawasannya, boleh jadi akan menunjukkan sisi-sisi cemerlangnya.
“Delapan puluh persen rahasia sukses adalah mejeng,” demikian kata komedian, penulis dan sutradara pemenang Oscar, Woody Allen. Tetapi kalau peserta audisi itu sendiri eksistensinya, misalnya, tidak dapat terdeteksi di Internet, bagaimana bisa membuka peluang dirinya untuk sukses ? Ah, maaf, mungkinkah saya lagi mabuk dan melebih-lebihkan kedigdayaan Internet ?
Yang saya tahu, media Internet itu membuka terjadinya interaksi. Juga diskusi. Alangkah betapa semakin bergunanya Internet itu bila dalam acara semacam job fair, career days, sampai audisi a la TPI yang boleh kita beri label sebagai joker fair atau comedy fair, juga memperoleh pendampingan dengan diluncurkannya situs web atau blog tersendiri. Atau akun Facebook pula. Semuanya tersedia secara gratis, bukan ? Acara memang sudah selesai, tetapi diskusi bisa berjalan terus. Khasanah ilmu pengetahuan tentang komedi juga dapat terakumulasikan dari momen itu, dari waktu ke waktu.
Berdasarkan pola pikir atau mindset serupa, saya telah meluncurkan blog Komedikus Erektus : The Book ini. Blog ini saya luncurkan untuk mendampingi penerbitan buku kumpulan cerita humor dan bimbingan berkomedi, dengan judul yang sama. Insya Allah, Mei 2010 sudah terbit.
Saya berdoa semoga Faried Wijdan dan kawan-kawan di Etera Imania, sehat-sehat dan selalu bersemangat untuk merampungkan proyek kami bersama ini.
Melalui blog tersebut, saya ingin bisa mengobrol dengan sesama pencinta komedi. Menampung kritik dan saran atas buku saya itu. Siapa tahu, lewat diskusi pula, kita bisa meluncurkan acara komedi televisi yang baru ? Buku baru ? Sekolah komedi baru ? Hanya imajinasi saja yang dapat membatasi pelbagai kemungkinan itu.
Anda setuju ?
Wonogiri, 11 April 2010
Email : humorliner (at) yahoo.com
Buang Surat Lamaran Anda ! Acara Career Days yang pertama kali saya ikuti berlangsung tanggal 14-16 Februari 1989. Tempatnya di Balai Mahasiswa Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta. Penyelenggaranya, kalau tak salah, Senat Mahasiswa FEUI dan AISEC. Saya datang tidak untuk mencari pekerjaan. Tetapi untuk membuka wawasan. Mencari peluang kerja sama.
Tahun-tahun itu, sebagai infojunkie saya banyak membeli buku-buku, majalah, termasuk majalah bekas terbitan luar negeri, sampai print out pelbagai bank data komersial (belum ada Internet saat itu) di manca negara. Topiknya : strategi berburu pekerjaan.
Minat itu terpicu antara lain oleh sebuah buku koleksi perpustakaan PDII-LIPI. Lembaga ini saya tak tahu apa namanya sekarang, tetapi saat itu bernama PDIN-LIPI. Buku tersebut merupakan karya Warren J. Rosaluk, judulnya Throw Away Your Resume and Get That Job (1983). Buang saja surat-surat lamaran (juga CV Anda) dan dapatkan pekerjaan.
Bagi saya, buku ini revolusioner. Sayangnya, tidak banyak diketahui oleh jutaan pencari kerja kita yang sebagian besar menggantungkan masa depannya dengan cara-cara konvensional dalam berburu pekerjaan. Cara-cara lama ini senyatanya melelahkan, yang mudah menimbulkan rasa putus asa dan perasaan tidak berharga, dan bahkan juga mampu membinasakan dirinya itu pula.
Pengalaman kerja nol. Kembali ke acara di kampus UI tersebut. Pembicaranya antara lain Abdulgani (Bank Duta, “masih ada yang ingat bank satu ini ?”), Hamizar (Bakrie Brothers, “Aburizal Bakrie saat itu belum terkenal”) dan Fahmi Idris (KODEL Group). Pertanyaan yang muncul dari kalangan mahasiswa, yang klasik itu, menyangkut persyaratan pengalaman kerja. “Kami baru saja lulus, kok dimintai informasi seputar pengalaman kerja ?,” kira-kira begitulah protes mereka.
Terkait keluhan tipikal di atas, saya pernah menulis di kolom surat pembaca di Kompas Jawa Tengah, dengan judul “Pengalaman Kerja, Perlakuan Tak Adil ?” (23/11/2004). Saya tuliskan : “Yang dimaksud pengalaman kerja itu sebenarnya bukan hanya terbatas kepada pengalaman kerja yang memperoleh bayaran. Selama kuliah, dengan terjun dalam pelbagai aktivitas kemahasiswaan, baik kesenian, olahraga, sosial atau politik, mahasiswa bersangkutan juga telah memperoleh pengalaman kerja yang berguna.
Merancang isu demo, menggalang barisan peserta, membagi tugas, membuat spanduk baik isi sampai desain, menyebarkan siaran pers sampai melakukan demonya itu sendiri, adalah juga pengalaman kerja.
Problemnya adalah, tidak banyak mahasiswa kita yang selama kuliah sengaja melakukan aktivitas non-kuliah demi memperoleh pengalaman kerja yang kelak ia butuhkan. Tidak banyak pula yang mau terjun bekerja sebagai relawan tanpa bayaran.
Beda misalnya dengan mahasiswa di luar negeri, di mana misalnya pada masa kampanye pemilu mereka ramai-ramai bergabung sebagai relawan dalam tim sukses calon presiden. Mereka menjelajahi beragam pekerjaan yang memang terbuka saat itu guna memperoleh pengalaman, keterampilan, wawasan dan jaringan koneksi.”
Koneksi itu penting. Kalau kata ini terkesan berkonotasi KKN, bisalah Anda ganti dengan networking, menggalang jejaring. Dan itulah yang tidak nampak ketika acara seminar dalam Career Days itu berakhir. Tak ada gerombolan mahasiswa yang antusias datang menyalami para pembicara, bertanya atau berbincang, apalagi sambil bertukar kartu nama. Koneksi pun menjadi terputus. Momen langka dan berharga ini menjadi sia-sia,mubazir, bagi para mahasiswa yang suatu saat kelak akan terjun dalam aktivitas berburu pekerjaan.
Momen mubazir serupa terlihat pula ketika saya mengikuti audisi API-4 (26/1/2008) dan audisi Piala Dunia Tawa (2/4/2010) di Gedung Wanitatama, Yogyakarta. Mungkin karena atmosfirnya sarat persaingan di antara peserta, membuat mereka terkondisikan untuk cenderung “kurang ramah” satu terhadap yang lainnya.
Begitu acara bubar, mereka-mereka itu nyaris tidak dapat dilacak lagi domisili masing-masing. Termasuk potensi yang mereka miliki. Isian dalam formulir pendaftaran memang tidak membuka peluang tersajinya keistimewaan masing-masing peserta audisi. Apalagi TPI, demi alasan bisnis, memang wajar bila nampak berkepentingan hanya dengan peserta yang lolos saja. Sisanya, data yang lebih banyak dari peserta audisi yang gagal itu, mungkin dinilai tak berguna lagi oleh fihak TPI.
Akibatnya, menurut saya, komunitas komedi kita kehilangan direktori yang mampu mengikat simpul-simpul sumber daya kreatif itu. Karena mungkin saja bila mereka memperoleh sentuhan secara berbeda (bukan audisi), dengan diberi bimbingan dan dibukakan wawasannya, boleh jadi akan menunjukkan sisi-sisi cemerlangnya.
“Delapan puluh persen rahasia sukses adalah mejeng,” demikian kata komedian, penulis dan sutradara pemenang Oscar, Woody Allen. Tetapi kalau peserta audisi itu sendiri eksistensinya, misalnya, tidak dapat terdeteksi di Internet, bagaimana bisa membuka peluang dirinya untuk sukses ? Ah, maaf, mungkinkah saya lagi mabuk dan melebih-lebihkan kedigdayaan Internet ?
Yang saya tahu, media Internet itu membuka terjadinya interaksi. Juga diskusi. Alangkah betapa semakin bergunanya Internet itu bila dalam acara semacam job fair, career days, sampai audisi a la TPI yang boleh kita beri label sebagai joker fair atau comedy fair, juga memperoleh pendampingan dengan diluncurkannya situs web atau blog tersendiri. Atau akun Facebook pula. Semuanya tersedia secara gratis, bukan ? Acara memang sudah selesai, tetapi diskusi bisa berjalan terus. Khasanah ilmu pengetahuan tentang komedi juga dapat terakumulasikan dari momen itu, dari waktu ke waktu.
Berdasarkan pola pikir atau mindset serupa, saya telah meluncurkan blog Komedikus Erektus : The Book ini. Blog ini saya luncurkan untuk mendampingi penerbitan buku kumpulan cerita humor dan bimbingan berkomedi, dengan judul yang sama. Insya Allah, Mei 2010 sudah terbit.
Saya berdoa semoga Faried Wijdan dan kawan-kawan di Etera Imania, sehat-sehat dan selalu bersemangat untuk merampungkan proyek kami bersama ini.
Melalui blog tersebut, saya ingin bisa mengobrol dengan sesama pencinta komedi. Menampung kritik dan saran atas buku saya itu. Siapa tahu, lewat diskusi pula, kita bisa meluncurkan acara komedi televisi yang baru ? Buku baru ? Sekolah komedi baru ? Hanya imajinasi saja yang dapat membatasi pelbagai kemungkinan itu.
Anda setuju ?
Wonogiri, 11 April 2010
Jumat, 09 April 2010
Budaya Literasi dan Dunia Komedi Kita
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
Calon pelawak itu kebanyakan orang miskin.
George Burns (1896-1996), contohnya.
“Kami tahu, ayah berasal dari keluarga yang sangat miskin. Dia memiliki saudara lelaki dan perempuan sebanyak sebelas orang, semuanya tidur pada karpet yang sama pada apartemen satu kamar. Tetapi ayah tidak menceritakan semua itu dengan cara biasa. Semua itu tidak menyenangkan. Semua itu tidaklah lucu.”
Sebaliknya, demikian cerita putranya, Ronnie Burns, ayahnya “membuat semua kisah penderitaan itu sebagai cerita-cerita yang lucu. Sebagai tukang cerita ia menyajikan cerita-cerita ringan yang bersumberkan dari realitas hidupnya.”
Sebagaimana dikutip oleh Martin Gottfried dalam buku biografi berjudul George Burns And The Hundred Year Dash (1996), George Burns mengatakan : “Bagi saya, kehidupan nyata adalah bisnis pertunjukan.”
Cerita serupa, atau yang kurang lebih sama, boleh jadi juga akan kita temui pada pelbagai buku biografi untuk pelawak-pelawak kita. Tetapi ketika menerjuni arena audisi Piala Dunia Tawa-nya TPI di Yogyakarta (2/4/2009), dan momen sesudahnya, saya merasakan adanya “kemiskinan” jenis lain pada calon-calon penghibur, termasuk calon pelawak-pelawak kita.
Hal yang sama mungkin sekaligus diderita para pemangku kepentingan terhadap dunia tarik tawa kita selama ini. Tegasnya adalah : kemiskinan dalam budaya literasi.
Bukan pesta intelektual. Stasiun televisi swasta TPI telah menyelenggaraan 5 kali audisi untuk merekrut bibit-bibit baru pelawak Indonesia. Yang bertajuk Audisi Pelawak TPI (API) sudah berlangsung 4 kali (2004, 2005, 2006, 2008) dan yang kelima dengan tajuk Piala Dunia Tawa (2010) sekarang ini.
Kesan yang saya peroleh, semua acara ini kemasannya zakelijk kegiatan audisi semata. Anda datang, mendaftar, melakukan audisi, dan lalu menunggu keputusan tentang lolos atau tidak. Selesai.
Padahal dalam waktu-waktu kosong, baik saat menunggu audisi atau menunggu saat pengumuman, dapat diadakan beragam kegiatan yang bersifat informasional dan edukasional. Katakanlah, pengelola televisi yang membidang dunia lawak-melawak itu membuka isi jeroan-nya kepada masyarakat luas.
Misalnya dengan mengadakan pemutaran film-film pendek komedi, pameran skrip-skrip komedi di televisi, film dokumentasi dibalik layar tentang penyiapan tayangan komedi, pameran bahan-bahan pustaka komedi, sampai pengenalan terhadap situs-situs bimbingan komedi di Internet.
Diramaikan misalnya dengan acara open mic bagi peserta untuk bisa saling mengenalkan diri atau membuang stres, sesi diskusi dengan penulis komedi sampai sutradara acara komedi, sampai arena penjualan pelbagai benda kenangan acara bersangkutan.
Dengan hadirnya beragam kegiatan ini, yang hadir diharapkan bukan hanya para calon-calon komedian, tetapi juga beragam pemangku kepentingan terhadap perkembangan dunia komedi kita. Sebaiknya pada acara pengumuman tentang siapa-siapa saja yang lolos bisa dibuatkan panggung tersendiri, dengan seremoni tertentu pula.
Syukur-syukur pula bila bisa diadakan lomba menulis catatan di Facebook, baik bagi peserta audisi tentang kesan dan pesan mereka, atau pun yang melibatkan audiens, sehingga secara tidak langsung akan menjadi publikasi yang meluas untuk acara bersangkutan.
Merujuk hal-hal di atas, saya agak heran juga : mengapa para penerbit/penulis buku-buku humor dan komedi, sampai buku seputar panduan berkarier sebagai komedian, tidak membuat lapak dalam acara seperti ini ? Bahkan ada lembaga yang berambisi sebagai pusat dokumentasi komedi, tetapi mengapa mereka juga tidak memiliki perhatian terhadap hajatan sebesar ini pula ?
Apakah justru para calon komedian itu bukan dianggap sebagai pasar bagi produk-produk mereka ?
Saya tidak tahu. Kalau saja buku humor/komedi saya Komedikus Erektus saya sudah terbit, saya akan membuka lapak. Kalau di dalam arena tidak boleh atau tidak bisa, di trotoar pun jadi.
Indonesia butuh komedian. Seusai mengikuti audisi Piala Dunia Tawa di Gedung Wanitatama Yogya sore itu, saya memutuskan berjalan kaki sampai Janti. Saya melihat pusat pertokoan, kantor perusahaan swasta dan pemerintah, sampai restoran, kafe dan hotel. Hemat saya, semua lembaga itu memerlukan kehadiran para komedian.
Bahkan di era demokrasi ini, Indonesia sebenarnya semakin banyak membutuhkan jasa komedian. Utamanya komedian yang pemarah a la Lewis Black, untuk garang melucukan, menghardik dan sekaligus melecehkan para pejabat negara dan juga penegak hukum yang melakukan tindak korupsi yang membuat kita terkejut-kejut akhir-akhir ini. Semua tindakan culas sampai sikap munafik mereka itu pantas diberi hukuman secara sosial.Mereka harus menjadi bahan tertawaan. Agar nurani bangsa ini tetaplah waras.
Kata Jay Sankey dalam bukunya Zen and The Art of Stand-Up Comedy (1998), bahwa setiap lelucon yang dahsyat haruslah mampu menimbulkan korban bergelimpangan. Semakin jelas korban yang dimaksud, semakin menggigit pula lawakan bersangkutan.
Tetapi untuk mampu mencapai taraf itu, bukan hal yang mudah. Utamanya bagi pelawak kita. Karena lawakan yang mampu menggigit ulah pejabat-pejabat culas itu, merujuk kaidah piramid komedi dari Steve Ray, merupakan puncak dari pencapaian komedi itu sendiri. Ia telah menggolongkan komedi dalam tujuh tingkat, yaitu komedi fisik, komedi porno, storyline, bahasa, imitasi, kontradiksi karakter dan yang paling puncak adalah satir.
Agar mampu meraih keandalan dalam menyajikan satir, bahkan juga pada enam tingkat komedi di bawahnya, fondamennya kurang lebih tetaplah sama : dibutuhkan topangan budaya literasi, budaya baca-tulis yang kuat. Kevin Kelly, seorang maverick dari majalah gaya hidup digital Wired mengatakan dalam salah satu artikelnya betapa orang yang tumbuh dalam lingkungan teknologi baca dan tulis berfikir dengan cara berbeda.
“Saya tidak bermaksud mengatakakan bahwa orang berfikir berbeda ketika membaca. Membaca dan menulis merupakan sarana kognitif yang begitu kita kuasai akan merubah cara otak dalam mengingat fakta dan mengkonseptualisasikan gagasan, dan pelbagai perubahan tersebut akan merangsang kinerja pemikiran secara abstraks.”
Terima kasih, Kevin.
Sebagai orang yang berusaha menumbuh-numbuhkan embrio lawakan berdasarkan gagasan, idea-driven jokes, pendapat Kevin Kelly itu semakin membuat saya percaya diri. Saya rupanya, mudah-mudahan, telah menempuh arah yang benar.
Belajar dari CSI. Beberapa hari kemudian, saya memperoleh sms. Rupanya dari peserta audisi di Yogya yang gagal, tetapi nampaknya ia ingin mengikuti lagi di Bandung. Semangat yang pantas dihargai.
Ia bertanya apakah saya memiliki konsep lawakan. Maksudnya mungkin set, naskah lawakan. Saya bilang, saya tidak punya. Lalu saya usulkan : silakan baca koran dan lihat TV. Di sana banyak materi untuk bisa dijadikan bahan lawakan. Setiap berita headline berpeluang ditekuk sana-sini menjadi materi komedi !
Sekadar contoh, koran Kompas Minggu (4/4/2010) memajang laporan tentang kisah-kisah di balik pembuatan film seri terkenal, CSI, di Amerika Serikat. Yang menonjol antara lain cerita bahwa, begitu muncul berita tentang tindakan kriminal tertentu, di media massa, para awak kreatif dan penulis naskah dari film seri itu segera mendiskusikannya sebagai bahan cerita serial film itu berikutnya.
Usul saya itu mungkin membuatnya patah hati. Tetapi, itulah realitanya. Jalan untuk menjadi komedian memang seringkali juga bukan jalan yang mudah. Utamanya bagi mereka yang miskin. Tentu saja tidak hanya menyangkut masalah miskin dalam harta, tetapi terutama yang miskin wawasan, miskin semangat untuk teguh dan kukuh, miskin untuk terus dan terus belajar memperkaya isi kepala mereka dengan wawasan-wawasan baru pula.
Pesan singkat yang lain, kemudian juga saya terima. Dari nomor berbeda. Balasan dari sebuah kelompok yang berhasil lolos ke Jakarta, yang sebelumnya saya usulkan agar memiliki akun Facebook dan blog untuk menulis kisahnya di sana. Sebagai sarana promosi mereka sejak dini. Pimpinan kelompok itu hanya menjawab dengan “ha-ha-ha.” Sembari mengaku dirinya sebagai gaptek, apa adanya.
Masih muda kok mistek.Miskin teknologi.
Apa kata dunia ?
Wonogiri, 9/4/2010
Email : humorliner (at) yahoo.com
Calon pelawak itu kebanyakan orang miskin.
George Burns (1896-1996), contohnya.
“Kami tahu, ayah berasal dari keluarga yang sangat miskin. Dia memiliki saudara lelaki dan perempuan sebanyak sebelas orang, semuanya tidur pada karpet yang sama pada apartemen satu kamar. Tetapi ayah tidak menceritakan semua itu dengan cara biasa. Semua itu tidak menyenangkan. Semua itu tidaklah lucu.”
Sebaliknya, demikian cerita putranya, Ronnie Burns, ayahnya “membuat semua kisah penderitaan itu sebagai cerita-cerita yang lucu. Sebagai tukang cerita ia menyajikan cerita-cerita ringan yang bersumberkan dari realitas hidupnya.”
Sebagaimana dikutip oleh Martin Gottfried dalam buku biografi berjudul George Burns And The Hundred Year Dash (1996), George Burns mengatakan : “Bagi saya, kehidupan nyata adalah bisnis pertunjukan.”
Cerita serupa, atau yang kurang lebih sama, boleh jadi juga akan kita temui pada pelbagai buku biografi untuk pelawak-pelawak kita. Tetapi ketika menerjuni arena audisi Piala Dunia Tawa-nya TPI di Yogyakarta (2/4/2009), dan momen sesudahnya, saya merasakan adanya “kemiskinan” jenis lain pada calon-calon penghibur, termasuk calon pelawak-pelawak kita.
Hal yang sama mungkin sekaligus diderita para pemangku kepentingan terhadap dunia tarik tawa kita selama ini. Tegasnya adalah : kemiskinan dalam budaya literasi.
Bukan pesta intelektual. Stasiun televisi swasta TPI telah menyelenggaraan 5 kali audisi untuk merekrut bibit-bibit baru pelawak Indonesia. Yang bertajuk Audisi Pelawak TPI (API) sudah berlangsung 4 kali (2004, 2005, 2006, 2008) dan yang kelima dengan tajuk Piala Dunia Tawa (2010) sekarang ini.
Kesan yang saya peroleh, semua acara ini kemasannya zakelijk kegiatan audisi semata. Anda datang, mendaftar, melakukan audisi, dan lalu menunggu keputusan tentang lolos atau tidak. Selesai.
Padahal dalam waktu-waktu kosong, baik saat menunggu audisi atau menunggu saat pengumuman, dapat diadakan beragam kegiatan yang bersifat informasional dan edukasional. Katakanlah, pengelola televisi yang membidang dunia lawak-melawak itu membuka isi jeroan-nya kepada masyarakat luas.
Misalnya dengan mengadakan pemutaran film-film pendek komedi, pameran skrip-skrip komedi di televisi, film dokumentasi dibalik layar tentang penyiapan tayangan komedi, pameran bahan-bahan pustaka komedi, sampai pengenalan terhadap situs-situs bimbingan komedi di Internet.
Diramaikan misalnya dengan acara open mic bagi peserta untuk bisa saling mengenalkan diri atau membuang stres, sesi diskusi dengan penulis komedi sampai sutradara acara komedi, sampai arena penjualan pelbagai benda kenangan acara bersangkutan.
Dengan hadirnya beragam kegiatan ini, yang hadir diharapkan bukan hanya para calon-calon komedian, tetapi juga beragam pemangku kepentingan terhadap perkembangan dunia komedi kita. Sebaiknya pada acara pengumuman tentang siapa-siapa saja yang lolos bisa dibuatkan panggung tersendiri, dengan seremoni tertentu pula.
Syukur-syukur pula bila bisa diadakan lomba menulis catatan di Facebook, baik bagi peserta audisi tentang kesan dan pesan mereka, atau pun yang melibatkan audiens, sehingga secara tidak langsung akan menjadi publikasi yang meluas untuk acara bersangkutan.
Merujuk hal-hal di atas, saya agak heran juga : mengapa para penerbit/penulis buku-buku humor dan komedi, sampai buku seputar panduan berkarier sebagai komedian, tidak membuat lapak dalam acara seperti ini ? Bahkan ada lembaga yang berambisi sebagai pusat dokumentasi komedi, tetapi mengapa mereka juga tidak memiliki perhatian terhadap hajatan sebesar ini pula ?
Apakah justru para calon komedian itu bukan dianggap sebagai pasar bagi produk-produk mereka ?
Saya tidak tahu. Kalau saja buku humor/komedi saya Komedikus Erektus saya sudah terbit, saya akan membuka lapak. Kalau di dalam arena tidak boleh atau tidak bisa, di trotoar pun jadi.
Indonesia butuh komedian. Seusai mengikuti audisi Piala Dunia Tawa di Gedung Wanitatama Yogya sore itu, saya memutuskan berjalan kaki sampai Janti. Saya melihat pusat pertokoan, kantor perusahaan swasta dan pemerintah, sampai restoran, kafe dan hotel. Hemat saya, semua lembaga itu memerlukan kehadiran para komedian.
Bahkan di era demokrasi ini, Indonesia sebenarnya semakin banyak membutuhkan jasa komedian. Utamanya komedian yang pemarah a la Lewis Black, untuk garang melucukan, menghardik dan sekaligus melecehkan para pejabat negara dan juga penegak hukum yang melakukan tindak korupsi yang membuat kita terkejut-kejut akhir-akhir ini. Semua tindakan culas sampai sikap munafik mereka itu pantas diberi hukuman secara sosial.Mereka harus menjadi bahan tertawaan. Agar nurani bangsa ini tetaplah waras.
Kata Jay Sankey dalam bukunya Zen and The Art of Stand-Up Comedy (1998), bahwa setiap lelucon yang dahsyat haruslah mampu menimbulkan korban bergelimpangan. Semakin jelas korban yang dimaksud, semakin menggigit pula lawakan bersangkutan.
Tetapi untuk mampu mencapai taraf itu, bukan hal yang mudah. Utamanya bagi pelawak kita. Karena lawakan yang mampu menggigit ulah pejabat-pejabat culas itu, merujuk kaidah piramid komedi dari Steve Ray, merupakan puncak dari pencapaian komedi itu sendiri. Ia telah menggolongkan komedi dalam tujuh tingkat, yaitu komedi fisik, komedi porno, storyline, bahasa, imitasi, kontradiksi karakter dan yang paling puncak adalah satir.
Agar mampu meraih keandalan dalam menyajikan satir, bahkan juga pada enam tingkat komedi di bawahnya, fondamennya kurang lebih tetaplah sama : dibutuhkan topangan budaya literasi, budaya baca-tulis yang kuat. Kevin Kelly, seorang maverick dari majalah gaya hidup digital Wired mengatakan dalam salah satu artikelnya betapa orang yang tumbuh dalam lingkungan teknologi baca dan tulis berfikir dengan cara berbeda.
“Saya tidak bermaksud mengatakakan bahwa orang berfikir berbeda ketika membaca. Membaca dan menulis merupakan sarana kognitif yang begitu kita kuasai akan merubah cara otak dalam mengingat fakta dan mengkonseptualisasikan gagasan, dan pelbagai perubahan tersebut akan merangsang kinerja pemikiran secara abstraks.”
Terima kasih, Kevin.
Sebagai orang yang berusaha menumbuh-numbuhkan embrio lawakan berdasarkan gagasan, idea-driven jokes, pendapat Kevin Kelly itu semakin membuat saya percaya diri. Saya rupanya, mudah-mudahan, telah menempuh arah yang benar.
Belajar dari CSI. Beberapa hari kemudian, saya memperoleh sms. Rupanya dari peserta audisi di Yogya yang gagal, tetapi nampaknya ia ingin mengikuti lagi di Bandung. Semangat yang pantas dihargai.
Ia bertanya apakah saya memiliki konsep lawakan. Maksudnya mungkin set, naskah lawakan. Saya bilang, saya tidak punya. Lalu saya usulkan : silakan baca koran dan lihat TV. Di sana banyak materi untuk bisa dijadikan bahan lawakan. Setiap berita headline berpeluang ditekuk sana-sini menjadi materi komedi !
Sekadar contoh, koran Kompas Minggu (4/4/2010) memajang laporan tentang kisah-kisah di balik pembuatan film seri terkenal, CSI, di Amerika Serikat. Yang menonjol antara lain cerita bahwa, begitu muncul berita tentang tindakan kriminal tertentu, di media massa, para awak kreatif dan penulis naskah dari film seri itu segera mendiskusikannya sebagai bahan cerita serial film itu berikutnya.
Usul saya itu mungkin membuatnya patah hati. Tetapi, itulah realitanya. Jalan untuk menjadi komedian memang seringkali juga bukan jalan yang mudah. Utamanya bagi mereka yang miskin. Tentu saja tidak hanya menyangkut masalah miskin dalam harta, tetapi terutama yang miskin wawasan, miskin semangat untuk teguh dan kukuh, miskin untuk terus dan terus belajar memperkaya isi kepala mereka dengan wawasan-wawasan baru pula.
Pesan singkat yang lain, kemudian juga saya terima. Dari nomor berbeda. Balasan dari sebuah kelompok yang berhasil lolos ke Jakarta, yang sebelumnya saya usulkan agar memiliki akun Facebook dan blog untuk menulis kisahnya di sana. Sebagai sarana promosi mereka sejak dini. Pimpinan kelompok itu hanya menjawab dengan “ha-ha-ha.” Sembari mengaku dirinya sebagai gaptek, apa adanya.
Masih muda kok mistek.Miskin teknologi.
Apa kata dunia ?
Wonogiri, 9/4/2010
Langganan:
Postingan (Atom)
