Jumat, 12 Maret 2010

API-4, Harris Cinnamon dan Komedikus Erektus

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Tips sukses. Kalau Anda berada dalam kerumunan, berteriaklah.

Petunjuk penting ini saya peroleh dari tokoh perempuan bisnis atau tokoh bisnis perempuan (?) :-) Dewi Motik Pramono. Ia berteriak dengan media dandanan.

Favoritnya warna merah. Juga dengan pernah-pernik yang menyala, sekaligus menyalak.

Tip serupa juga dilakoni oleh Wimar Witoelar. Tak aneh, ia seorang tokoh kehumasan yang terampil membawa diri. Apalagi dengan bleger yang karismatik, flamboyan, dan berambut semi kribo. Juga sosok tubuhnya yang mungkin kalau bertemu dengan Ellen DeGeneres diperkirakan ia akan mencandai, bahwa kantong kanan dan kiri dari baju Bang Wimar itu memiliki ketua RT yang berbeda.

Begitulah. Di tengah-tengah banyak orang, yang berstatus penting-penting, ketika atensi semakin mahal, menjadi nampak atau menonjol dalam keriuhan adalah sebuah leverage yang bermakna. Barangkali juga mahal harganya. Saya mengalami keajaiban itu sebagai suporter sepakbola di Stadion Kallang, Singapura, 16 Januari 2005. Saat itu dilangsungkan leg kedua final Piala Tiger 2004, Indonesia melawan tuan rumah Singapura.

Begitu Mayor Haristanto (yang baru saja ikut Chingay Parade 2010 di Singapura) dan saya memasuki tribun pojok timur laut yang berisi suporter Indonesia, saya rasakan kimia menjadi berubah. Saat kami berdua membentangkan spanduk yang kami bawa dari Solo, bertuliskan slogan “Bangkit Indonesia !,” rasa nasionalisme sekitar 1000-an suporter Indonesia yang terkepung 55.000 suporter tuan rumah, ibarat api tersiram bensin. Lagu “Indonesia Raya” kami nyanyikan, bersemangat, dan air mata panas merebak di wajah-wajah kami saat itu.

Indonesia akhirnya memang kalah saat itu. Di Senayan sudah kalah 1-3, di Kallang kalah lagi, 2-1. Tetapi saya pribadi, mampu meraih kemenangan hiburan. Karena esok harinya, 17 Januari 2005, surat kabar terkemuka Singapura The Straits Times memuat pendapat saya.

Hal serupa terjadi tanggal 27 Januari 2005. Di tengah pesta hari ulang tahun MURI ke-15 di Semarang. Untuk memenangkan “persaingan” di tengah puluhan kandidat penerima rekor MURI yang lain, dari rumah saya mempersiapkan lembaran siaran pers. Saat di antara keriuhan itu saya yang harus memburu wartawan. Ketemu wartawan Radar Semarang, esoknya profil kemenangan MURI saya diwartakan.

Juga ketemu reporter televisi cantik dan menawan, Erika Diana Rizanti. Saya memberikan siaran pers saat itu seperti melempar batu ke kolam. Tak usah berharap batu akan menimbul ke permukaan. Ternyata beberapa minggu kemudian, Erika meliput kiprah saya sebagai seorang epistoholik untuk acara televisi a la Ripley’s Believe of Not ? , yaitu : Busssettt !

Ajaran Woody Allen. Menjadi nampak, visible, sehingga menjadi bahan liputan media, tidak lain merupakan ikhtiar agar cita-cita sampai nilai-nilai positif diri kita diketahui oleh dan agar berguna bagi masyarakat. Tak kenal, tak sayang, bukan ?

Dengan dikenal, juga membuka peluang bagi kita dalam membina pertemanan dengan orang lain. Itulah yang terjadi selepas saya tereliminasi dalam audisi API-4 di Yogyakarta, Sabtu, 26 Januari 2008. Memang saya gagal dalam acara seleksi pelawak itu, saya dalam kondisi remuk bubuk, tetapi pada hari-hari selanjutnya saya mampu merasakan manfaat di balik itu semua. Antara lain saya masih diberi berkah untuk mengenal sebagian awak kreatif dari TPI, stasiun televisi penyelenggara acara API tersebut.


Antara lain dengan Harris Cinnamon (foto). Karena gara-gara saya menulis di blog saya, tentang pengalaman mengikuti audisi itu. Termasuk memajang foto dan komentar Harris Cinnamon saat itu, dengan jabatan sebagai produser eksekutif acara audisi tersebut, sedang memberikan pengarahan kepada para kontestan. Demikianlah ketika acara kontes itu selesai dan saya gagal, tetapi dengan membuat “keributan” di blog, saya merasakan kemenangan dalam membina pertemanan.

Mungkin ia dapat bocoran info dari Ade Tao, juri saya. Ia memiliki kelompok lawak Decaer Group. Saya terkaget, begitu saya usai memeragakan set lawakan tunggal, ia menyapa saya. Ia adalah teman yang saya kenal melalui Internet, melalui blog Komedikus Erektus pula. Kita pernah mengobrolkan cita-citanya yang ingin terjun sebagai komedian solo juga. Ade Sofyan Intan, nama lengkapnya, bersama kelompok “69” termasuk 16 besar GrenPinal API I/2005. Satu angkatan dengan SOS dan Bajaj, Ade sudah banyak berpentas dengan pelbagai personil lawak Jakarta lainnya.

“Kekalahanmu di API-4, kemenangan yang dahsyat!,” begitu tulis Harris Cinnamon dalam boks bengok blog saya, 31/1/2008. Saya kemudian membalasnya di blog dia, Sajadah Jiwa. Termasuk kemudian mengungkapkan rasa terkejut saya, ketika memperbandingkan sosoknya yang saya sebut mirip penampilan sangar pemusik cadas favorit saya, Ritchie Blackmore dari Deep Purple, tetapi isi-isi blognya itu tak kalah dalam dan indah dibandingkan isi khotbah para kyai-kyai muda di layar-layar televisi.

Dalam kesempatan obrolan melalui email, Harris bercita-cita menyutradarai film komedi. Malah judulnya pun telah ia tentukan. Momon, panggilan akrab dia, bahkan ingin melibatkan saya. Saya sih makmum saja, kataku. Tetapi karena dia adalah seorang pekerja televisi, yang terus berlari dan mencipta setiap hari, obrolan tentang proyek film itu menguap perlahan-lahan. Kami pun juga jarang bertegur sapa.

Tiba-tiba, Momon pada tanggal 10/2/2010, muncul kembali di blog komedi saya tersebut. “Piye kabar bang...salut sampeyan masih konsisten di sini...beberapa tulisanmu menjadi masukan buat aku,” begitu tulisnya.

Terima kasih, Momon. Syukurlah bila blog itu mampu memberi manfaat. Langsung Momon saya todong untuk sudi menulis endorsement untuk buku Komedikus Erektus saya. Ia pun telah memenuhi permintaan saya tersebut.

Bahkan saya memperoleh bonus. Nanti pada tanggal 2-4 April 2010, Momon meminta saya untuk bisa ketemuan di Yogya. “Tak ada topik, mBang. Kita ngerumpi saja,” jawab Momon melalui SMS.

Saya berharap bisa kembali ke Yogya. Kini bukan sebagai kontestan, tetapi sebagai rekan dan sahabat. Tak ada beban, tak ada stres, dan tak ada tuntutan untuk “berteriak-teriak” pula.

Kilas balik 2007. Ketika mengobrol dengan Ade Tao sesaat sebelum saya turun panggung, saya berujar : ““Dalam komedi, ada ilmu air dan ilmu madu. Ilmu air adalah teori, seperti yang saya tulis di blog saya, dan ilmu madu adalah milik Anda, praktisi dunia komedi. Saya kesini ingin belajar dari Anda.”

Kalimat yang sama rasanya nanti juga akan saya katakan ke Momon. Sehingga saya bisa berharap akan banyak cerita-cerita yang bisa kita bagi. Saya berjanji untuk menuliskannya. Siapa tahu, cerita-cerita kami itu dapat memberi manfaat guna memacu kemajuan bagi komedi Indonesia, bukan ?


Wonogiri, 12/3/2010

Selasa, 09 Maret 2010

Hari Humor dan Komedikus Erektus

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Lelucon Bapak. Hari Sabtu dan Minggu adalah hari humor keluarga.

Karena hari itu ayah saya, Kastanto Hendrowiharso (1928-1082), datang dari Yogya. Sebagai seorang prajurit TNI-AD, ia berdinas di Yogyakarta. Sementara keluarganya tetap tinggal di Wonogiri.

Saat itu, tahun 1966, saya duduk di bangku klas 6 SD Wonogiri III. Ketika lulus memperoleh piagam ketikan yang border-nya $$$$$$$. Piagam itu sebagai tanda “Pemegang kedjuaraan ketjakapan didalam kelasnja.”

Yang menandatangani adalah Pengurus POM, terdiri pimpinan sekolah Siswomihardjo (ayah dari pelukis Godod Sutejo), ketua Hadisoebroto (ayah dari teman saya, Sugeng Sudewo) dan secretaris (tertulis pakai huruf “c”), Samto (saat itu guru kelas 5).

Saya tidak ingat lagi pada momen apa piagam itu saya terima. Hanya berkat ketelatenan ayah saya yang menyimpan dan melaminasinya dengan, plastik walau toh sebagian pinggirnya sudah gripis dimakan rayap, kenangan tentang masa 44 tahun yang lalu itu dapat tertayang. Memang hanya sepotong-sepotong.

Yang pasti, kehadiran ayah setiap Sabtu dan Minggu merupakan hari kegembiraan bagi kami bertuju, anak-anaknya saat itu. Kini anaknya ada sepuluh. Antara lain, Mayor Haristanto, Bhakti Hendroyulianingsih, Broto Happy Wondomisnowo sampai Basnendar Heriprilosadoso yang kreator logo Galeri Nasional di Gambir, Jakarta. Dalam foto di bawah ini, saya paling kiri, diambil tahun 1960. Ke kanan : Budi, Bari dan Mayor bersama Ibu.


Karena absennya figur bapak antara Senin sampai Sabtu, yang orangnya disiplin dan cermat, mungkin justru yang agak memberi “hawa bebas” bagi kami. Guna menyuburkan perilaku sikap-sikap kreatif bagi anak-anaknya. Berhumor, berkartun, melukis, dan menulis. Misalnya, tak ada satu pun anaknya yang mengikuti jejaknya sebagai tentara, sosok yang “tidak kreatif” di mata kami.

Kegembiraan karena kedatangan ayah itu berkesan terutama bagi saya, anak pertama. Karena kami akan memperoleh cerita dan cerita baru yang dibawa beliau dari kota. Juga terkadang dongengan mengantar tidur.

Misalnya dongeng tentang Joko Kusnun.

Pemuda desa itu berkerjanya berjualan layang-layang. Suatu hari, naas, dirinya tertimpa hujan deras. Sehingga barang dagangannya rusak. Karena takut dimarahi ayahnya, ia tidak pulang ke rumah. Ia menggelandang di kota, tidurnya di pohon. Kalau Anda melihat dua pohon di depan gerbang kebon rojo, Taman Sriwedari Solo, saya selalu membayangkan Joko Kusnun memang tidur di sana. Ia ditemukan sang raja ketika hendak bercengkerma di taman raja itu. Ia lalu mengabdi, sebagai punggawa istana.

Cerita lucu dari ayah saya meledak di mata anak-anaknya bila ia melakukan act out, yaitu menirukan beberapa aksi temannya sesama tentara. Misalnya ada tentara yang disebut nyentrik, yang seperti ayah saya setiap Sabtu akan pulang kampung. Ketika disapa, si teman tersebut akan selalu menjawab : “Biasa dik, minggon !”

Suatu saat lain, sang tentara teman ayah saya yang nyentrik itu berseru : Tai asu ! Tai asu !” Rupanya ia menemukan kotoran anjing di halaman asrama tentara. Kami sudah terserap perhatiannya, misalnya, apa yang akan terjadi dengan kotoran anjing tersebut ? Dalam dunia mengkreasi lawakan, itu lajim disebut sebagai sebuah set up, jebakan. Disusul kemudian titik ledak yang mengguncang kejutan, juga tawa, yang biasa diberi label sebagai punchline. Pak tentara nyentrik ternyata lalu bilang :

Nggo rabuk !”
Untuk pupuk.
Guna mempersubur tanaman.

Begitulah, ucapan “Biasa dik, minggon !” sampai kisah heboh kotoran anjing itu tetap sering muncul dalam cerita-cerita keluarga kami. Sampai kini.

Mendongeng di kelas Momen lomba melucu antaranak juga terjadi ketika kami bermain remi. Ayah melawan anak-anaknya. Karena merasa memiliki status setara, maka ketika sang ayah kalah permainan, dan harus menjadi pengocok kartu, ejekan pun berhamburan. Kami sering menyebut-nyebut merek minyak obat gosok, yang berkhasiat menyembuhkan rasa capek bapak ketika harus dihukum sebagai pengocok kartu.

Reuni lomba melucu antaranak itu, bahkan sejak tahun 1987 memperoleh arena yang lebih luas. Melibatkan keluarga besar keturunan kakek-nenek dari garis Sukarni (1933-1993), ibu saya, yang bernama Trah Martowirono. Reuni tahun 2009 berlangsung di Benteng Vrederburg, Yogyakarta.

Mungkin karena gojlokan memperoleh cerita dan cerita itu, membuat salah satu pelajaran favorit di sekolah dasar adalah bercerita di depan kelas. Seingat saya, kalau teman-teman lain sering mengulang cerita mengenai kucing kurus melawan kucing gemuk, seingat saya saya pernah bercerita tentang Pemberontakan di Kapal Tujuh, Tenggelamnya Kapal RI RI Matjan Tutul, sampai Hikayat Indera Bangsawan.

Cerita dan dongeng rupanya menyemaikan kegemaran saya terhadap bacaan Buku favorit saya saat itu adalah serial novel Nogososro Sabukinten, karya S.H. Mintardjo. Saya ingat pada jilid pertama, pembukanya berupa kalimat “Awan hitam bergulung-gulung di langit Mataram,” yang kemudian sering saya contek dan saya modifikasi ketika ikut lomba mengarang.

Mungkin Pak Mintardjo terilhami oleh kalimat yang sering disebut-sebut sebagai contoh baris pembuka dalam pelajaran mengarang, yang berbunyi : “It was a dark and stormy night” yang terkenal itu.

Setiap awal bulan, ketika novel tentang Maheso Djenar itu terbit, saya menulis dalam sebuah kertas kecil. Misalnya, “Nogososro Sabukinten, jilid 10.” Lalu kertas itu saya masukkan diam-diam di kantung baju seragam ayah saya. Di hari Minggu sore. Sebelum ia kembali bertugas ke Yogya. Mungkin dari hanya terbiasa menulis judul –judul buku di kertas kecil itu, saya kini menjadi memiliki kegemaran untuk menulis. Hingga mampu menghadirkan buku Komedikus Erektus ini untuk Anda.

Pasalnya, kertas kecil di saku baju tentara ayah saya itu, memang menghadirkan mukjijat. Karena pada hari Sabtu sore minggu depan saya telah memiliki buku baru dan bacaan baru, yang sangat saya idamkan.

Terima kasih, Pak Kastanto. Juga Ibu Kastanto.
Semoga beliau kini tentram dan selalu sejahtera di sisiNya.


Wonogiri, 10 Maret 2010

Wimar Witoelar, Teror Negara dan Komedikus Erektus

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



“Negara seringkali merupakan organisasi teroris yang dilegitimasi melalui layar putih,” kata Bambang Haryanto dari lembah Gunung Sewu, tepatnya kota kecil Wonogiri.

Menurutnya dengan regulasi, sensor dan muatan propaganda yang massif, mereka melakukan cuci otak bangsa Indonesia demi tujuan langgengnya kekuasaan rezim teroris bertubuh negara, yaitu pemerintahan Orde Baru.

“Teror itu masih membekas tajam sampai saat ini,” tunjuknya setelah membaca karya Krishna Sen. Lihatlah, katanya, banyak sineas muda kita, yang pada era 1965 belum lahir, kini justru terobsesi membuat film-film bergenre hantu. Dan laku.

Pilihan itu boleh jadi merupakan ungkapan bawah sadar diri mereka dalam upaya menghilangkan hantu-hantu masa lalu, dari era represif, zaman gelap sarat aroma pembunuhan sampai penculikan, yang masih juga menghantui diri-diri mereka.

Film-film berjenis yang disebut Bambang Haryanto itu memang pernah menjadi “momok” yang dilegitimasi sebagai sebuah teror kesadaran akan musuh-musuh Negara semacam sebagaimana termaktub dalam film Pengkhianatan G 30 S/PKI (1984). Film ini tak dielaborasi Krishna Sen, tapi dikutip sambil lalu saja. Padahal inilah film yang paling sering diputar, tak hanya di layar perak tapi juga di layar kacar. Setiap tahun selama puluhan tahun.”

Itulah cuplikan dari artikel berjudul “Pandangan Dewan Pembaca: Teror Negara dalam Sinema” di situs Indonesia Buku. Artikel tersebut merupakan himpunan dari 6-7 komentator setelah membaca buku yang terpilih untuk dibedah secara beramai-ramai, yaitu karya Krishna Sen berjudul Kuasa Dalam Sinema (2007).

Pendapat bahwa negara merupakan sosok teroris di atas, saya peroleh idenya dari seorang Wimar Witoelar. Ketika Indonesia diguncang aksi terorisme, ledakan bom di Bali, 12 Oktober 2002, beberapa hari kemudian saya temukan artikel yang ditulis Wimar Witoelar di surat kabar Inggris, The Guardian (16/10/2002). Dalam tulisan berjudul “Wimar Witoelar’s World, Citizen Journalism dan Epistoholik Indonesia” saya telah mengutipnya, juga menyebutkan :

“Saya hanya mengenalnya melalui media massa. Artikelnya di atas boleh jadi merupakan persinggungan saya untuk yang kesekian kali dengan Wimar Witoelar. Tentu saja persinggungan pasif antara diri saya sebagai seorang konsumen media dengan seorang kolumnis yang banyak tampil di media massa. Bagi saya, tulisan-tulisan Wimar senantiasa menyuarakan hati nurani, walau tidak setiap orang mampu mendengarkan dan memahaminya.”

Setelah tulisan tersebut ia ketahui, sepertinya kemudian ia setengah “memerintahkan” seluruh punggawa InterMatrix, yaitu perusahaan kehumasan miliknya, untuk wajib membaca tulisan dalam blog saya tersebut. Sosoknya serasa makin dekat bagi diri saya, tatkala badai demam blog sedang melanda Indonesia. Tahun 2006.

Dirinya hadir sebagai salah satu kampiun yang memopulerkan jurnalisme warga. Dalam mosaik-mosaik media saat itu, selain Wimar Witoelar, juga berkelebat sosok Budi Putra, dan bahkan pemain biola menawan, Maylaffayza Fitri Wiguna.

Walau tidak sering menggalang kontak, syukurlah, rupanya saya masih memiliki sudut kecil dalam ingatan beliau. Ketika tiba-tiba saya tergerak menulis email untuknya, guna meminta dorongan dan endorsement untuk buku Komedikus Erektus, gayung pun bersambut.

Terima kasih, Bang Wimar.

Tetapi saya masih punya satu rasa penasaran. Saya pernah mengajukan pertanyaan dengan memajang di kotak komentar dalam artikelnya, belum ada jawaban tuntas. Wimar Witoelar yang menulis buku berjudul No Regret, yang merupakan memoar berisi sepak terjang dirinya ketika menjadi juru bicara Presiden Abdurrachman Wahid, belum menjawab rasa ingin tahu saya.

Yaitu, mengapa Gus Dur dan juga dirinya menyukai lagu berjudul “Me and Bobby McGee” dari penyanyi cewek urakan, petualang seks dan bahkan mati muda akibat obat bius, bernama Janis Joplin ?


Wonogiri, 9/3/2009

Mas Darminto, Planet Humor dan Komedikus Erektus

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Ciumlah Romeo ! Italia terkenal dengan penduduknya yang berdarah panas.

Saya pernah mengalami suasana panas itu ketika menonton drama Romeo dan Juliet yang dipentaskan di sebuah teater di Verona.

“Cium aku Romeo, dan aku akan pulang,” desis Juliet di panggung.
“Tidak, Juliet,” balas Romeo.
“Cium, cium aku Romeo dan aku akan pulang.”
“Aku tidak bisa, Juliet !”
“Oh, Romeo ciumlah aku Romeo dan aku akan pulang.”

Tiba-tiba dari arah penonton terdengar teriakan keras : “Cium dia, Romeo. Ayo cium saja, Romeo, dan sesudah itu kita semua akan pulang !”

Lelucon itu dimuat di halaman “Jenakarta,” pada harian Jayakarta, Kamis Pon, 14 Juli 1988. Redaktur halaman koran yang melulu berisi lelucon teks dan kartun tersebut adalah Darminto M Sudarmo. Saya yang mengirimkannya. Mas Darminto pula yang menyerahkan honor ketika saya menagihnya, di kawasan Jl. Otto Iskandardinata III, Jakarta.

Saat itu kita sama-sama tinggal di Jakarta. Saat menagih honor, sering saya ketemu dengan kartunis Martono Loekito. Dia dan Mas Dar lebih akrab dengan adik saya Basnendar Heriprilosadoso, karena sama-sama kartunis. Sedang saya tidak bisa menggambar, apalagi mengkartun.

Saat mengirimkan lelucon itu saya menggunakan inisial “BH” dan kadang “bhfs.” Kepanjangan dari inisial terakhir ini adalah “bambang haryanto features syndicate.” Tak tahu ide dari mana, kiranya saya pernah mengobrol sama Mas Dar tentang pembentukan sindikat itu.

Bermimpi bisa mensinergikan antara penulis dan kartunis, lalu meniru kiprah Charles M Schulz dengan “Snoopy”-nya, di mana sindikat itu bisa memasuk beragam filler, baik kartun atau pun lelucon, ke pelbagai media massa. Ketika Mas Darminto menjadi pemimpin redaksi Majalah Humor, berkantor di Palmerah, saya juga pernah mengirimkan lelucon seputar dunia hukum.

Yang rada aneh, mungkin karena lingkar edar planet kita “tertakdir” (?) berbeda, membuat planetnya Mas Darminto (salah satu bukunya terpajang di atas) dan planet saya, walau pun sama-sama punya nomor polisi bertanda humor, jarang terjadi encounter, pertemuan, antara keduanya.

Lucu juga. Mungkin ini tanda kebesaran humor, di mana galaksinya betapa amat luas, sehingga setiap insan jenaka yang memiliki aspirasi humor baginya masih selalu tersedia kapling tak terbatas untuk berkiprah. Untuk memberi. Untuk berprestasi. Juga untuk menggaruk rejeki.

Syukurlah, berkat jasa Internet, kini kita bisa mendekatkan garis edar planet-planet humor kita tersebut. Bahkan khusus untuk buku saya, Komedikus Erektus, Mas Darminto telah berbaik hati menyumbangkan advance praise sebagai berikut :

“Membaca hampir semua tulisan Bambang Haryanto di blog Komedikus Erektus, saya merasakan ada sesuatu yang menyelinap bersijingkat bukan saja ke otak saya, tetapi juga ke rasa, ke hati, ke pori-pori, bahkan ke pembuluh darah. Sesuatu itu seperti mendesak-desak, mencubit-cubit, kadang bahkan menggaruk-garuk perasaan intelektual saya. Sesuatu itu apa sebenarnya, saya tidak tahu pasti; yang jelas, ia begitu rewel, mengajuk-ajuk, mengulik-ulik, lalu saya tergiring untuk duduk termenung-menung, terbengong-bengong dan seringkali bahkan tidak mampu melakukan apa-apa karena pengaruh “sihir”-nya.

Ya, sihir itu! Terjadi karena tuturan bahasanya yang elok, lincah, segar bahkan “baik dan benar” menurut kaidah perbahasaan. Menyentak dan bikin cingak karena akurasinya yang ampuh. Mencengangkan krena gagasan dan wawasannya sanggup menembus batas ruang, waktu dan hegemoni disiplin ilmu. Akhirnya saya pun “terkapar”, klepek-klepek, sebagai sesama penggemar humor, saya memperoleh banyak nuansa dari pikiran-pikiran unik seorang sahabat yang langka ini.

Intinya.... selain luas dan beraneka ragam, Anda juga akan memperoleh manfaat yang khas dalam hal seni humor. Khususnya lagi seni memupuk rasa humor dalam diri dan seni melihat berbagai peristiwa dari sudut pandang humor. Anda akan kaget sendiri setelah membuktikannya. Saya selalu berdebar-debar menunggu tulisan-tulisan dia berikutnya....tentu Anda, juga, kan?

(Darminto M Sudarmo, centeng di http://www.facebook.com/l/31726 ; www.kolomhumor.com dan peminat seni humor).


Semoga saja kepala saya tidak terkena sakit hidrocefalus.
Terima kasih, Mas Darminto.
Sukses selalu.


Wonogiri, 9 Maret 2010

Kamis, 04 Maret 2010

Dinding Ijazah Kaum Drakula

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Drakula mengajari saya keindahan Clair de lune, karya Claude Debussy. Komponis musik terkenal asal Perancis itu lahir 22 Agustus 1862 di Saint-Germain-en-Laye, Perancis. Meninggal dunia, 25 Maret 1918 di Paris.

Moonlight.
Sinar bulan.

Kalau Anda warga Solo di tahun 1980-an, nama Moonlight. ini terkenal di Alun-Alun Utara Solo. Merupakan merek cairan pemutih gigi yang dijajakan di bawah pohon cemara, promosinya diumbar dengan pengeras suara.

Nomor Clair de lune itu muncul dalam film Twilight, film tentang kehidupan para drakula. Peran utamanya memunculkan sosok Drakula yang vegetarian dalam diri seorang pemuda bernama Edward. Artinya, dia hanya meminum darah hewan. Bukan darah manusia.

Kehidupan Edward yang panjang, yang mampu mencapai umur hingga ratusan tahun itu, disajikan dengan lelucon yang menarik. Dinding rumahnya diisi pajangan puluhan ijazah perguruan tinggi. Saya tidak bisa membayangkan bila dirinya seseorang yang gila gelar, seperti yang lajim terjadi di sekitar kita saat ini, dan tergiur untuk menuliskan semua gelarnya tersebut di kartu nama atau pada papan nama.

Terkait gelar dobel-dobel-dobel itu, saya pernah mengobrol dengan Pak Aggi Tjetje. Tahun 2005, di tengah hari ulang tahun ke-15 Museum Rekor Indonesia, 27 Januari 2005, di Semarang. Ia memperoleh piagam MURI. Saya juga, sebagai pencetus Hari Epistoholik Nasional 27 Januari. Pak Aggi yang berasal dari Jakarta, saat itu tercatat memiliki 8 gelar akademis. Saya memperoleh kartu namanya. Tetapi saat ini, entah ketelisut di mana.

Data 8 gelar itu kemudian saya bocorkan kepada Erika Diana Rizanti, reporter acara televisi Buseeettt. Beberapa saat kemudian Pak Aggi muncul dalam acara yang bergaya Ripley’s Believe or Not itu. Saya juga ikut muncul, dalam kesempatan lain, sebagai seorang epistoholik.

Kisah Pak Aggi Tjetje itu sebenarnya menunjukkan betapa hebatnya otak manusia itu. Hal itu juga tergambar dalam film Phenomenon (1996) yang dibintangi oleh John Travolta (George Malley). Kalau Anda pernah menonton, semoga Anda masih ingat adegan saat dirinya mampu belajar bahasa Portugis secara cepat. Hanya dalam waktu 20 menit.

Ia juga mampu menerjemahkan bunyi gelombang radio, yang ternyata sinyal-sinyal komunikasi rahasia milik militer. Ketika ia mencoba membalas sinyal-sinyal tersebut, dirinya segera menjadi perburuan fihak militer AS untuk ditangkap dan diinterogasi.

“Keajaiban” semacam itu juga bisa Anda miliki. Harry Lorayne dalam bukunya Rahasia Dari Kekuatan Pikiran menegaskan kunci untuk mampu meraih sukses dan prestasi, termasuk dalam belajar, adalah antusiasme. “Tidak seorang pun yang pernah memperoleh pengetahuan yang mengagumkan tanpa semangat ketika melakukannya,” tuturnya.

Lanjutnya : “Apakah Anda pernah menulis esai ? Bila Anda mendekatinya sebagai tugas, atau dengan rasa benci, Anda tidak memerlukan saya untuk mengingatkan Anda betapa sulit pekerjan itu. Bila Anda mampu membangkitkan sedikit antusiasme mengenai pekerjaan itu, hasilnya bukan hanya esai yang lebih baik, tetapi mungkin sama sekali tidak menyerupai tugas. Anad merasa tugas itu bahkan dapat dinikmati.

Bila Anda termasuk orang yang tidak suka menulis surat, berhentilah menganggap itu sebagai tugas. Dekati pekerjaan itu dengan antusiasme dan Anda akan mulai menunggu saat untuk menulis surat. “

Apakah Anda juga memiliki antusias yang tinggi, misalnya dalam mengisi blog Anda ? Juga kapling My Note dalam akun Facebook Anda ?

Sedikit membuka rahasia : karena kecintaan, juga karena kegiatan menulis sebagai kegiatan belajar, maka sungguh suatu doping tersendiri bagi jiwa kalau saya bisa menulis sesuatu esai untuk blog-blog saya.

Kemarin malam (3/3/2010), sekitar jam 21.30, saya memperoleh bonusnya. Hal itu terjadi ketika saya mengirimkan email kepada Bang Wimar Witoelar. Saya meminta catatan atau endorsement dari beliau untuk suatu naskah buku.

“Siap. Saya akan menuliskannya dalam kesempatan pertama.”
Begitulah jawab Bang Wimar.
Dan beliau kemudian benar-benar melakukannya.
Terima kasih, Bang Wimar.

Semoga nanti tidak hanya nama dan pemikiran seorang Wimar Witoelar yang bakal Anda temui dalam buku tersebut. Semoga juga ada Antyo Rentjoko. Arswendo Atmowiloto. Diana AV Sasa. Effendi Gazali. Ira Lathief. Isman H Suryaman. Sampai Sarlito W. Sarwono.

Semua momen kejutan itu bisa terjadi berawal ketika blog saya diketemukan oleh seorang Faried Wijdan. Dari Etera Imania, Jakarta.

Siapa tahu, walau tidak hendak berniat menyaingi deretan ijazah di dinding rumah Edward Sang Drakula, minimal di dinding kamar saya kelak, saya bisa menikmati deretan beberapa karya buku. Yang embrionya dimulai dari blog, dari Facebook, juga dari percik antusias dan gelegak cinta sepenuh hati.

Termasuk yang ditulis di ujung-ujung puncak malam saat kota kecil Wonogiri diselimuti Clair de lune, karya indah dari Claude Debussy.


Wonogiri, 4 Maret 2010