Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
Muhammad “Teroris Blackberry” Nazaruddin.
Anas “Langit Biru” Urbaningrum. Marzuki “Yang Mahakuasa” Alie.
Andi “Fox Lumpuh Indonesia” Mallarangeng.
Ani “Misteri Capres 2014” Yudhoyono.
“Tablet Porno” Arifinto. Gayus “Hey Jude” Tambunan.
Malinda “Bukit Silikon” Dee.
Aburizal “Lapindo” Bakrie.
Norman “Budaya Kriminalitas” Kamaru.
Prabowo “Dinasti” Subianto. SBY. Tifatul “Getol Sensor” Sembiring. Ulil “Teror Bom Buku” Abshar Abdalla juga ada.
Menggebrak perubahan. Mereka yang meroket di panggung republik semangkin kacau balau ini menjadi sasaran bidik buku humor politik unik ini. Bambang Haryanto, jebolan Universitas Indonesia (UI), setelah sukses dengan Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010), semakin serius mempertajam humor sebagai lahan kreativitas untuk menggebrak Anda.
Agar meledak dalam bahak,
berpikir, dan melakukan perubahan.
PERINGATAN KERAS. Hati-hatilah meniti tebaran ranjau-ranjau humornya yang brilian. Satirnya setajam sembilu, bervoltase tinggi dan membuka wawasan Anda.
Bila selamat, Anda akan menemukan oasis: humor politik adalah pelumas gerak roda peradaban dalam proses perubahan yang konstan. Tanpa berdarah-darah. Tetapi sarat tawa-tawa cerdas dari Anda, pribadi insan berintelijensia.
Buktikan sekarang juga!
Komentar untuk buku ini. “Saya yakin judul buku ini tidak kalah heboh ketimbang buku berjudul ‘Gurita Sebuah Lokasi’ itu. Penulis lihai bermain secara bukan main-main dengan logika.”
- Jaya Suprana, Pendiri,
Ketua dan Anggota Perhimpunan Pecinta Humor
“Menjadi pelopor bukanlah pekerjaan mudah dan inilah yang diawali buku ini. Ia bukan hanya berisikan humor biasa, tetapi satir politik jenis baru yang segar, mencerahkan dan cerdas yang sudah lama diakrabi masyarakat Barat. Secara perlahan-lahan namun pasti, satir politik jenis ini akan semakin menarik minat pembaca, terutama generasi muda. Selamat untuk Sang Pelopor.”
- Budiarto Shambazy, Wartawan Senior
“Anda harus membeli buku ini. Baca sebelum Kiamat 2012!”
-Arista Budyono, Blogger Jakarta
Judul buku : Komedikus Erektus : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau!
Pengarang : Bambang Haryanto
Format : 13 x 20,5 cm
ISBN : 978-602-97648-6-4
Jumlah halaman : 219
Harga : Rp 39.000,-
Terbit : Februari 2012
Kategori : Humor Politik
Soft cover
Wonogiri, 27/2/2012
Tampilkan postingan dengan label buku humor politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku humor politik. Tampilkan semua postingan
Minggu, 26 Februari 2012
Minggu, 04 Desember 2011
Buku "Komedikus Erektus" Dikoleksi Perpustakaan Universitas Ohio Amerika Serikat
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
The SBY Effect.
The Manmohan Singh Effect.
Dan The Komedikus Erektus Effect.
Nama pertama, SBY, adalah singkatan nama untuk presiden kita. Manmohan Singh adalah nama perdana menteri India. Komedikus Erektus, adalah judul buku humor politik saya.
Ketiganya bisa dimirip-miripkan memiliki kesamaan. Yaitu, ketiganya tidak begitu memperoleh apresiasi secara optimal di dalam negeri walau dihargai di manca negara.
Mungkin analogi itu berlebihan.
Tetapi untuk nasib buku Komedikus Erektus, semoga efek di atas itu menjadi kabar yang cukup bagus bagi para pencinta buku humor di Indonesia. Juga komunitas komedi di Indonesia.
Pasalnya, buku humor politik tersebut yang lengkapnya berjudul Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Imania,2010), rupanya kini telah terbang jauh. Bahkan menyeberangi samudera, untuk sampai ke kota Ohio, di Amerika Serikat.
Nampak dalam foto momen saat peluncuran buku itu dalam acara reuni trah saya, Trah Martowirono XXVI di Polokarto, Sukoharjo, bulan September 2011 yang lalu.
Di bawah label subjek "Indonesian wit and humor," "Indonesia -- Social conditions -- Humor" dan "Indonesia -- Politics and government -- Humor", syukurlah buku bersampul warna biru telah ikut bisa mengisi rak Perpustakaan Universitas Ohio, 30 Park Place, Athens, Ohio, Amerika Serikat.
Di antara ratusan atau ribuan buku berbahasa Indonesia yang mereka akuisisi, sungguh suatu kehormatan pula bahwa gambar sampul, data buku dan salinan resensi yang ditulis Badhui A. Suban, Sarjana Sastra Indonesia dari Universitas Padjajaran Bandung, telah ikut ditampilkan di blog perpustakaan tersebut.
Informasi tentang buku tersebut detilnya bisa Anda klik disini. Sementara informasi mengenai lokasi penempatannya di Perpustakaan Vernon R. Alden Library, 30 Park Place, Athens, Ohio, Amerika Serikat, bisa Anda klik disini.
Sebelumnya, juga diketahui bahwa buku yang sama telah pula menjadi koleksi perpustakaan terbesar di dunia, Library of Congress di Amerika Serikat dan Perpustakaan Nasional Australia di Melbourne.
Itulah secuplik cerita tentang upaya pencinta humor Indonesia dalam upaya ikut menyumbangkan khasanah ilmu pengetahuan dan tawa untuk dunia. Siapa menyusul ?
Wonogiri, 5/12/2011
Email : humorliner (at) yahoo.com
The SBY Effect.
The Manmohan Singh Effect.
Dan The Komedikus Erektus Effect.
Nama pertama, SBY, adalah singkatan nama untuk presiden kita. Manmohan Singh adalah nama perdana menteri India. Komedikus Erektus, adalah judul buku humor politik saya.
Ketiganya bisa dimirip-miripkan memiliki kesamaan. Yaitu, ketiganya tidak begitu memperoleh apresiasi secara optimal di dalam negeri walau dihargai di manca negara.
Mungkin analogi itu berlebihan.
Tetapi untuk nasib buku Komedikus Erektus, semoga efek di atas itu menjadi kabar yang cukup bagus bagi para pencinta buku humor di Indonesia. Juga komunitas komedi di Indonesia.
Pasalnya, buku humor politik tersebut yang lengkapnya berjudul Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Imania,2010), rupanya kini telah terbang jauh. Bahkan menyeberangi samudera, untuk sampai ke kota Ohio, di Amerika Serikat.
Nampak dalam foto momen saat peluncuran buku itu dalam acara reuni trah saya, Trah Martowirono XXVI di Polokarto, Sukoharjo, bulan September 2011 yang lalu.
Di bawah label subjek "Indonesian wit and humor," "Indonesia -- Social conditions -- Humor" dan "Indonesia -- Politics and government -- Humor", syukurlah buku bersampul warna biru telah ikut bisa mengisi rak Perpustakaan Universitas Ohio, 30 Park Place, Athens, Ohio, Amerika Serikat.
Di antara ratusan atau ribuan buku berbahasa Indonesia yang mereka akuisisi, sungguh suatu kehormatan pula bahwa gambar sampul, data buku dan salinan resensi yang ditulis Badhui A. Suban, Sarjana Sastra Indonesia dari Universitas Padjajaran Bandung, telah ikut ditampilkan di blog perpustakaan tersebut.
Informasi tentang buku tersebut detilnya bisa Anda klik disini. Sementara informasi mengenai lokasi penempatannya di Perpustakaan Vernon R. Alden Library, 30 Park Place, Athens, Ohio, Amerika Serikat, bisa Anda klik disini.
Sebelumnya, juga diketahui bahwa buku yang sama telah pula menjadi koleksi perpustakaan terbesar di dunia, Library of Congress di Amerika Serikat dan Perpustakaan Nasional Australia di Melbourne.
Itulah secuplik cerita tentang upaya pencinta humor Indonesia dalam upaya ikut menyumbangkan khasanah ilmu pengetahuan dan tawa untuk dunia. Siapa menyusul ?
Wonogiri, 5/12/2011
Jumat, 28 Oktober 2011
Komedikus Erektus, Cerita 2 Toko Buku di Jakarta
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
Diminati maling. Buku-buku humor tampil “menyedihkan” di pelbagai toko buku. Di Solo, di sebuah toko buku terkenal, di dekat rak buku-buku humor itu terpasang tulisan peringatan bila ada yang tertangkap mencuri buku akan diproses menurut hukum.
Apakah buku-buku humor memang menjadi sasaran “cerdas” bagi para pencinta humor yang tak punya uang ? Boleh jadi. Tetapi dalam kunjungan terakhir, rak-rak buku humor menjadi lebih menjauh dari tempat pengumuman itu.
Jadi buku-buku humor kiranya tak lagi menjadi sasaran pencurian ? Menyedihkan. Mungkin ini cerminan perekonomian yang buruk, di mana pedagang yang sering ngemplang pun tidak lagi memesan barang bersangkutan.
Dalam kesempatan dolan-dolan di dua toko buku di Jakarta, posisi rak untuk buku-buku humor tidaklah eye catching. Bahasa Jawanya, njlepit, alias sulit terakses oleh lalu lalang pengunjung.
Di Toko Buku Gunung Agung, Kwitang (22/10/2011), saya mencoba mencari tahu nasib buku humor politik saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010). Sebelumnya saya membeli majalah Bloomberg Businews Week edisi 20-26 Oktober 2011. Edisi yang menyentuh hati saya, karena semua tulisannya tentang kenangan terhadap Steve Jobs (1955-2011).
Mengetikkan judul buku saya di komputer toko buku warisan Mas` Agung itu, memang muncul lemanya. Tetapi persediaan yang ada : 0. Nol. Apakah ini pertanda betapa stok buku saya itu habis, laris manis ? Atau sebaliknya, sehingga toko buku bersangkutan “tidak sudi” memajangnya lagi ?
Sehari sebelumnya (21/10/2011), di Toko Buku Gramedia, Matraman Raya (“toko buku favorit saya sejak 1980 ketika saya belajar di Kampus UI Rawamangun”), muncul fenomena berbeda. Sebelum utak-utik komputer di toko buku besar itu, saat keliling-keliling saya memergoki bukunya Thomas L. Friedman,Hot, Flat and Crowded : Why We Need Green Revolution (2009). Diiringi lagunya Spice Girls, “2 Become 1” saya memutuskan membeli buku setebal 500 halaman lebih itu.
Kini saatnya menguber posisi buku saya. Ketika mengetikkan lema judul buku saya, tersaji info bahwa di toko buku itu terdapat stok sejumlah 27 eksemplar. Tetapi juga tersaji keterangan aneh dan memicu penasaran. Karena tidak ada data lokasi buku bersangkutan.
Ketika pun menelisik ke rak buku-buku humor, dan harus bertanya kepada petugas dua kali karena njlepit letaknya, saya tidak berhasil memotret bagaimana buku saya itu terpajang pada sebuah toko buku besar ini.
Saya hanya bisa memotret tampilan data di komputernya.
Dan terus terbelit oleh tanda tanya, bagaimana semua itu bisa terjadi.
Kramat Jaya Baru, Jakarta, 29/10/2011
Selamat ulang tahun untuk Anissa Astrid Alifta
Email : humorliner (at) yahoo.com
Diminati maling. Buku-buku humor tampil “menyedihkan” di pelbagai toko buku. Di Solo, di sebuah toko buku terkenal, di dekat rak buku-buku humor itu terpasang tulisan peringatan bila ada yang tertangkap mencuri buku akan diproses menurut hukum.
Apakah buku-buku humor memang menjadi sasaran “cerdas” bagi para pencinta humor yang tak punya uang ? Boleh jadi. Tetapi dalam kunjungan terakhir, rak-rak buku humor menjadi lebih menjauh dari tempat pengumuman itu.
Jadi buku-buku humor kiranya tak lagi menjadi sasaran pencurian ? Menyedihkan. Mungkin ini cerminan perekonomian yang buruk, di mana pedagang yang sering ngemplang pun tidak lagi memesan barang bersangkutan.
Dalam kesempatan dolan-dolan di dua toko buku di Jakarta, posisi rak untuk buku-buku humor tidaklah eye catching. Bahasa Jawanya, njlepit, alias sulit terakses oleh lalu lalang pengunjung.
Di Toko Buku Gunung Agung, Kwitang (22/10/2011), saya mencoba mencari tahu nasib buku humor politik saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010). Sebelumnya saya membeli majalah Bloomberg Businews Week edisi 20-26 Oktober 2011. Edisi yang menyentuh hati saya, karena semua tulisannya tentang kenangan terhadap Steve Jobs (1955-2011).
Mengetikkan judul buku saya di komputer toko buku warisan Mas` Agung itu, memang muncul lemanya. Tetapi persediaan yang ada : 0. Nol. Apakah ini pertanda betapa stok buku saya itu habis, laris manis ? Atau sebaliknya, sehingga toko buku bersangkutan “tidak sudi” memajangnya lagi ?
Sehari sebelumnya (21/10/2011), di Toko Buku Gramedia, Matraman Raya (“toko buku favorit saya sejak 1980 ketika saya belajar di Kampus UI Rawamangun”), muncul fenomena berbeda. Sebelum utak-utik komputer di toko buku besar itu, saat keliling-keliling saya memergoki bukunya Thomas L. Friedman,Hot, Flat and Crowded : Why We Need Green Revolution (2009). Diiringi lagunya Spice Girls, “2 Become 1” saya memutuskan membeli buku setebal 500 halaman lebih itu.
Kini saatnya menguber posisi buku saya. Ketika mengetikkan lema judul buku saya, tersaji info bahwa di toko buku itu terdapat stok sejumlah 27 eksemplar. Tetapi juga tersaji keterangan aneh dan memicu penasaran. Karena tidak ada data lokasi buku bersangkutan.
Ketika pun menelisik ke rak buku-buku humor, dan harus bertanya kepada petugas dua kali karena njlepit letaknya, saya tidak berhasil memotret bagaimana buku saya itu terpajang pada sebuah toko buku besar ini.
Saya hanya bisa memotret tampilan data di komputernya.
Dan terus terbelit oleh tanda tanya, bagaimana semua itu bisa terjadi.
Kramat Jaya Baru, Jakarta, 29/10/2011
Selamat ulang tahun untuk Anissa Astrid Alifta
Selasa, 08 Maret 2011
Panduan Menikmati Buku Komedikus Erektus
Oleh : Isman H.Suryaman
Blog : http://bertanyaataumati.blogspot.com
Twitter : @ismanhs
Bambang Haryanto adalah pengamat dan praktisi komedi yang menulis berbagai hal tentang humor di blognya,Komedikus Erektus.
Bukunya yang berisi esai humor ala Arwah Setiawan sudah terbit, dengan nama sama seperti blog humornya.
Saat diminta menuliskan Sekapur Sirih untuk naskah tersebut, saya membuatkannya dalam bentuk panduan, seperti di bawah ini.
[Isman H. Suryaman]
______________________________________________
Langkah pertama: bayar dulu bukunya. Tertawa sambil baca DAN kabur dari kejaran petugas toko buku itu menyusahkan.
Langkah kedua: kalau sulit tertawa, ingatlah bahwa barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan. Minimal Anda bisa tertawa miris.
Kembali serius, sampul buku ini sebaiknya memuat Peringatan Pemerintah: tidak menggunakan efek suara tertawa berlebihan (“HUAHAHAHEHEHE WKWKWKWKW”) , pelesetan jorok, atau tanda baca berlebihan (!!!!!?????!!!????) yang sering diobral di buku humor lain.
Justru sebaliknya, humor di buku ini disampaikan dengan tata bahasa serius nan taat asas. Saking taatnya, saya curiga kata-kata dalam buku ini tidak langsung diketik, melainkan disuruh berbaris rapi dulu, sambil menaikkan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Bambang Haryanto juga memadukan dua hal dalam bukunya: lelucon dan membahas lelucon. Ini perjudian yang berbahaya bagi penulis humor.
Mengapa? Bayangkan seorang koki menghidangkan ayam panggang di meja kita. Wanginya memancing air liur kita. Saat kita potong dan masukkan ke mulut, terasa dagingnya yang empuk dan gurih... Saat itulah koki tersebut mengeluarkan seekor ayam hidup lantas menjelaskan cara memasak makanan tersebut, mulai dari penyembelihan.
Kalau masih cuek makan dengan lahap, bisa jadi Anda memang bekerja di pejagalan. Atau kantor pajak.
Itulah bahaya menyajikan lelucon SEKALIGUS membahasnya dalam satu buku. Namun, memang harus ada yang melakukannya. Karena dari situlah kita belajar: mengapa suatu hal dianggap lucu? Mengapa kita tertawa? Mengapa Ayu Azhari bisa kalah dalam pemilihan Bupati Sukabumi?
Oke, mungkin yang terakhir sih nggak meskipun materi lelucon dalam buku ini tidak jauh dari sosial dan politik (termasuk pemerintah). Hal ini wajar saja. Kolomnis Will Rogers pernah berkata bahwa menulis humor sangatlah mudah karena pemerintah akan membantu dengan bertindak konyol. Dan kita tinggal mencatat.
Sebagai contoh, Anda mungkin ingat pada tahun 2007 ada perbedaan hasil survei tingkat kemiskinan Indonesia. Berdasarkan World Bank, 49% penduduk kita berada di bawah garis kemiskinan. Sementara menurut BPS, hanya 16,5%. Walaupun ada perbedaan metoda dan tolok ukur, kok bedanya bisa mencolok sampai 32,5%?
Jangan-jangan pemerintah bingung sendiri karena form survei yang digunakan memiliki pertanyaan sebagai berikut:
Apakah Anda miskin? (Silangi jawaban yang paling Anda anggap sesuai. Kosong berarti "Tidak".)
a. Tidak.
b. Tidak sama sekali.
c. Sangat tidak sama sekali.
d. Miskin itu apa?
e. Saya hanya mampu beli makan sekali seminggu.
f. Maaf, saya tidak bisa baca.
Kalau memang begitu, bisa kita maklumi. Tentunya sampai sekarang pun para pengujinya masih memperdebatkan, "Makan sekali seminggu itu miskin!"
"Lho, bisa saja diet," tentang penguji lain.
Contoh lain pada tahun yang sama: kota Indramayu (Jawa Barat) geger akibat ulah sepasang anak SMA yang membuat video porno. Walikota Indramayu begitu geram sampai mengeluarkan instruksi agar setiap siswi sekolah di kotanya harus melalui uji keperawanan.
Sudah hampir tiga tahun berlalu dan saya masih belum mengerti juga kemajuan pendidikan macam apa yang walikota tersebut ingin capai dengan menyusun daftar nama para perawan. Jangan-jangan tadinya mau ia jadikan soal ujian nasional: “Tandai nama-nama di bawah ini yang masih perawan. Jawaban bisa lebih dari satu. Berikan alasan.”
Inilah salah satu fungsi humor. Membuat hal-hal absurd di kehidupan jadi lebih mudah diterima... dengan menertawakannya. Seperti yang dilakukan Bambang Haryanto dalam buku ini. Belum tentu karena ingin menyampaikan kritik dalam bentuk yang menghibur. Atau karena ingin mengajak para pembaca untuk berpikir kritis. Bisa jadi, sebagaimana diakui banyak komedian atau penulis humor, karena inilah cara paling efektif agar tetap waras.
Kecuali kalau jawaban Anda pada soal di atas adalah (f): Maaf, saya tidak bisa membaca. Sudah terlambat.
Bandung, 6 April 2010
[Sumber : http://bertanyaataumati.blogspot.com/2011/03/panduan-menikmati-buku-komedikus.html]
Blog : http://bertanyaataumati.blogspot.com
Twitter : @ismanhs
Bambang Haryanto adalah pengamat dan praktisi komedi yang menulis berbagai hal tentang humor di blognya,Komedikus Erektus.
Bukunya yang berisi esai humor ala Arwah Setiawan sudah terbit, dengan nama sama seperti blog humornya.
Saat diminta menuliskan Sekapur Sirih untuk naskah tersebut, saya membuatkannya dalam bentuk panduan, seperti di bawah ini.
[Isman H. Suryaman]
______________________________________________
Langkah pertama: bayar dulu bukunya. Tertawa sambil baca DAN kabur dari kejaran petugas toko buku itu menyusahkan.
Langkah kedua: kalau sulit tertawa, ingatlah bahwa barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan. Minimal Anda bisa tertawa miris.
Kembali serius, sampul buku ini sebaiknya memuat Peringatan Pemerintah: tidak menggunakan efek suara tertawa berlebihan (“HUAHAHAHEHEHE WKWKWKWKW”) , pelesetan jorok, atau tanda baca berlebihan (!!!!!?????!!!????) yang sering diobral di buku humor lain.
Justru sebaliknya, humor di buku ini disampaikan dengan tata bahasa serius nan taat asas. Saking taatnya, saya curiga kata-kata dalam buku ini tidak langsung diketik, melainkan disuruh berbaris rapi dulu, sambil menaikkan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Bambang Haryanto juga memadukan dua hal dalam bukunya: lelucon dan membahas lelucon. Ini perjudian yang berbahaya bagi penulis humor.
Mengapa? Bayangkan seorang koki menghidangkan ayam panggang di meja kita. Wanginya memancing air liur kita. Saat kita potong dan masukkan ke mulut, terasa dagingnya yang empuk dan gurih... Saat itulah koki tersebut mengeluarkan seekor ayam hidup lantas menjelaskan cara memasak makanan tersebut, mulai dari penyembelihan.
Kalau masih cuek makan dengan lahap, bisa jadi Anda memang bekerja di pejagalan. Atau kantor pajak.
Itulah bahaya menyajikan lelucon SEKALIGUS membahasnya dalam satu buku. Namun, memang harus ada yang melakukannya. Karena dari situlah kita belajar: mengapa suatu hal dianggap lucu? Mengapa kita tertawa? Mengapa Ayu Azhari bisa kalah dalam pemilihan Bupati Sukabumi?
Oke, mungkin yang terakhir sih nggak meskipun materi lelucon dalam buku ini tidak jauh dari sosial dan politik (termasuk pemerintah). Hal ini wajar saja. Kolomnis Will Rogers pernah berkata bahwa menulis humor sangatlah mudah karena pemerintah akan membantu dengan bertindak konyol. Dan kita tinggal mencatat.
Sebagai contoh, Anda mungkin ingat pada tahun 2007 ada perbedaan hasil survei tingkat kemiskinan Indonesia. Berdasarkan World Bank, 49% penduduk kita berada di bawah garis kemiskinan. Sementara menurut BPS, hanya 16,5%. Walaupun ada perbedaan metoda dan tolok ukur, kok bedanya bisa mencolok sampai 32,5%?
Jangan-jangan pemerintah bingung sendiri karena form survei yang digunakan memiliki pertanyaan sebagai berikut:
Apakah Anda miskin? (Silangi jawaban yang paling Anda anggap sesuai. Kosong berarti "Tidak".)
a. Tidak.
b. Tidak sama sekali.
c. Sangat tidak sama sekali.
d. Miskin itu apa?
e. Saya hanya mampu beli makan sekali seminggu.
f. Maaf, saya tidak bisa baca.
Kalau memang begitu, bisa kita maklumi. Tentunya sampai sekarang pun para pengujinya masih memperdebatkan, "Makan sekali seminggu itu miskin!"
"Lho, bisa saja diet," tentang penguji lain.
Contoh lain pada tahun yang sama: kota Indramayu (Jawa Barat) geger akibat ulah sepasang anak SMA yang membuat video porno. Walikota Indramayu begitu geram sampai mengeluarkan instruksi agar setiap siswi sekolah di kotanya harus melalui uji keperawanan.
Sudah hampir tiga tahun berlalu dan saya masih belum mengerti juga kemajuan pendidikan macam apa yang walikota tersebut ingin capai dengan menyusun daftar nama para perawan. Jangan-jangan tadinya mau ia jadikan soal ujian nasional: “Tandai nama-nama di bawah ini yang masih perawan. Jawaban bisa lebih dari satu. Berikan alasan.”
Inilah salah satu fungsi humor. Membuat hal-hal absurd di kehidupan jadi lebih mudah diterima... dengan menertawakannya. Seperti yang dilakukan Bambang Haryanto dalam buku ini. Belum tentu karena ingin menyampaikan kritik dalam bentuk yang menghibur. Atau karena ingin mengajak para pembaca untuk berpikir kritis. Bisa jadi, sebagaimana diakui banyak komedian atau penulis humor, karena inilah cara paling efektif agar tetap waras.
Kecuali kalau jawaban Anda pada soal di atas adalah (f): Maaf, saya tidak bisa membaca. Sudah terlambat.
Bandung, 6 April 2010
[Sumber : http://bertanyaataumati.blogspot.com/2011/03/panduan-menikmati-buku-komedikus.html]
Selasa, 04 Mei 2010
Ira Lathief, Lelucon iPad dan Piala DuniaTawa
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
Komedian itu mirip wartawan.
Sama-sama suka kabar buruk.
Tentang wartawan, saya akan mengutip isi blog kawan maya saya, Ira Lathief (foto). Ia telah menghasilkan buku-buku menarik.
Antara lain : Tukul Arwana : Kumis Lele Rezeki Arwana (Biografi, 2007), Kumpulan Rayuan Gombal (2007), Tebak-Tebakan Gokil Abiz Plus Humor Buat Gaul (2008), Kumpulan Rayuan Super Gombal (2009), Tebak-Tebakan & SMS Kocak (2009) dan Kumpulan Status Facebook Paling Seru (2009).
Ira yang memiliki blog dengan slogan “think globally, laugh locally” telah pula berkenan menulis endorsement yang inspiratif dan insinuatif untuk buku saya, Komedikus Erektus, yang kini dalam perampungan akhir oleh Faried Wijdan dan kawan-kawan di Etera Imania dan menunggu diluncurkan.
Ketika Ira Lathief menulis pengalamannya sebagai relawan di Aceh pasca-tsunami, ia sempat menyentil tentang membeludaknya kabar buruk tentang negeri ini yang mampir di benaknya dan atmosfir tempat dia bekerja. Ira menulis :
“Belakangan kayaknya kita ‘dibombardir’ rentetan berita buruk dari berbagai media massa. Ditambah lagi ….. orang “berlomba-lomba” mengkritik dan saling menyalahkan. ABCDEF. Aduh Booo…..Cape Deyyyy…Eikee Fusyiing!!! Koq…..seakan-akan bangsa ini gak berenti2 dirundung kemalangan :( TANYA KENAPA???
Berita buruk dan segala macam kritik adalah ‘makanan’ aku sehari-hari. Di lingkungan dunia pemberitaan yang bergelut dengan rating, tempatku mengais-ngais intan dan berlian, aku udah "kenyang" dikondisikan untuk mencari segala kekurangan dan kelemahan dari sebuah peristiwa atau juga orang lain. Well…bad news is always a good news, what can I say!
I love my job, I love what I’m doing. Tapi, sebenernya lingkungan seperti ini sangat memungkinkan aku untuk menjadi pribadi yang juga "negatif", kalo saja aku gak bisa ‘menyiasatinya.’ Untungnya, aku masih ‘diselamatkan’ oleh orang-orang luar biasa, yang selalu ‘menyadarkan,’ bahwa bertindak dan berbuat sesuatu adalah jauh lebih berarti daripada sekedar mengkritik.”
Ira yang beruntung. Beruntung pula mereka yang mau menjalani nasehat Andrew Weil, M.D. Ia ibarat sosok “nabi” dalam kancah pengobatan alternatif dunia, walau sebenarnya ia lulusan fakultas kedokteran Universitas Harvard. Dalam wawancara dengan majalah Housekeeping beberapa waktu lalu, di mana saya lupa mencatat nomor edisinya, tetapi saya fotokopi dari Perpustakaan LIA Jakarta Timur, 14 Januari 1998, ia mengajukan hal yang menarik dan kontroversial.
Sambil merujuk isi buku Weil terbaru yang laris, berjudul 8 Weeks to Optimum Health, Bonnie Rubin, si pewawancara, mengutarakan bahwa Andrew Weil menganjurkan agar orang puasa berita. Yaitu absen dari membaca media cetak, tidak mendengarkan radio dan absen nonton televisi, sebagai cara memperoleh ketenangan yang lebih optimal. “Tetapi bukankah terlibat secara aktif dengan keadaan yang terjadi di dunia merupakan nilai plus ?,” tanya Bonnie Rubin.
“Saya tidak menuntut agar orang menjadi buta informasi, tetapi kita harus melakukan pilihan terhadap asupan berita-berita itu,” jawabnya. “Mendengarkan berita dapat menjadi sumber agitasi atau gejolak mental yang tidak kita sadari. Terutama dengan membanjirnya cerita-cerita duka nestapa yang memicu perasaan marah, tidak berdaya dan keberingasan, di mana semua itu menjadi latar belakang kegaduhan bagi hidup kita, baik ketika kita sedang makan atau menyopir, sementara kita tidak memperhatikan dampak semua itu bagi kondisi mental kita.”
Betul juga. Mudah kita bayangkan apa yang terjadi bila tiap hari mental kita dihajar dengan asupan-asupan informasi semacam itu. Mungkin dampaknya berupa siklus tanpa henti : kekerasan, berita kekerasan, kekerasan yang lebih ganas lagi, berita kekerasan yang lebih mencekam lagi, dan seterusnya. Dan seterusnya lagi.
Bahan olok-olok. Lalu bagaimana kaitan antara kabar buruk dengan komedian ? Kabar buruk itu, utamanya yang menyangkut tokoh terkenal, baik artis, pebisnis, politisi atau birokrat yang korup, yang melakukan deviasi, senantiasa menjadi bahan santapan lezat para komedian untuk dijadikan bahan tertawaan secara bersama-sama.
Komedian terkenal Jon Stewart, menjelang tampil sebagai host penganugerahan Oscar di tahun 2006, mengatakan bahwa dirinya telah bersyukur kepada Tuhan. Pengarang buku humor politik laris America (The Book): A Citizen's Guide to Democracy Inaction itu merujuk munculnya peristiwa tragis yang tiba-tiba.
Ibarat ia dapat durian runtuh, karena melibatkan nama besar. Wakil Presiden Dick Cheney ketika itu berburu burung puyuh bersama rekan-rekannya. Lalu secara tidak sengaja justru menembak kawannya sendiri, pengacara sohor Harry Whittington. Jon Stewart melucukannya :
“Wapres AS Dick Cheney secara tidak sengaja menembak seseorang ketika berburu burung puyuh...membuat Harry Whittington sebagai orang pertama ditembak wakil presiden AS sejak Alexander Hamilton. Hamilton terlibat tembak-menembak dengan Aaron Burr demi mempertahankan kehormatan, integritas dan manuver politik. Whittington ? Tertembak karena dikira seekor burung !”
Lelucon Stewart yang satu ini menarik. Terutama karena peristiwa duel antara Alexander Hamilton (1755-1804) melawan Aaron Burr (1756-1836) itu sudah terjadi lebih dari 200 tahun yang lalu. Tetapi mengapa peristiwa tersebut masih hidup dalam ingatan bangsa Amerika ? Bahkan masih juga relevan menjadi bahan guyonan masa kini. Karena mereka memiliki fondamen budaya literasi, budaya baca dan tulis, yang telah kokoh.
Hikmahnya, bagi saya, barangkali itulah salah satu mukjijat humor. Sebagai media untuk melestarikan nurani bangsa agar tidak terkena amnesia sejarah. Sayangnya, nampaknya tidak banyak pemangku kepentingan dunia humor kita yang mampu merenung, lalu berusaha melahirkan, mengembangkan dan menanamkan keluhuran humor semacam ini sebagai penjaga moral kehidupan berbangsa dan bernegara selama ini.
Kita lebih sering seperti keledai, lupa dan lupa lagi, sehingga terantuk pada lubang yang sama lagi. Apalagi terhadap dinamika politik yang terjadi. Ingatan bangsa ini memang pendek, sentil sobat saya Effendi Gazali. Akibatnya, seperti kata filsuf George Santayana (1863–1952), “mereka yang tidak mampu mengingat masa lampau akan dikutuk untuk mengulanginya kembali.”
Sebagai pelaku aktif gejolak peradaban, komedian memang harus memiliki antena atau radar yang super peka terhadap gejolak masyarakat. Bekerjanya 24 jam per hari dan 7 hari seminggu pula. Karena hanya dengan metode ini pula leluconnya berpeluang memicu gelak, karena mampu seirama dengan detak jantung dan nurani audiensnya.
Sekadar contoh, adalah ulah komedian favorit saya Andy Borowitz. Di tengah heboh peluncuran gadget fenomenal karya Apple Corporations, yaitu iPad, pada tanggal 3 April 2010 yang lalu, ia pun mengiris dengan lelucon bergizi tinggi.
Katanya, sabak cerdas iPad itu diramalkan akan menjadi satu-satunya pemenang Hadiah Nobel Perdamaian yang bukan berwujud manusia. Seloroh tingkat tinggi dalam balutan idea-driven jokes dari lulusan magna cum laude Universitas Harvard (1980) ini sungguh mematikan. Katanya, “iPad yang baru diluncurkan 24 jam saja itu sudah dikabarkan mampu sebagai solusi untuk menyelamatkan industri surat kabar, industri penerbitan, dan bahkan menyelamatkan perkawinan Tiger Woods yang terancam berantakan.”
Komedi ular. Selain peka dan cerdas membingkai berita-berita hip yang hadir meledak-ledak, para komedian utamanya harus pula sensitif terhadap suasana hati rakyat yang sering menggumpal tetapi tidak serta merta muncul ke permukaan. Ketajaman dalam mengolah isu-isu yang menggumpal di benak rakyat itu, lalu menyuarakannya ketika banyak orang lain tidak berani, itulah yang membuat komedian sering disebut, meminjam istilah Jay Sankey (1998), sebagai sosok filsuf yang blak-blakan.
Sisanya, kepekaan komedian dalam menggarap sesuatu isu, sebenarnya juga dapat direncanakan sejak dini. Karena selain isu yang tiba-tiba hadir dan meledak, di kalangan masyarakat senantiasa juga dibeliti oleh isu-isu laten yang setiap rentang waktu akan hadir, atau muncul kembali, secara periodik. Saat hari raya, tahun baru, saat ujian nasional, penerimaan mahasiswa baru, saat tenggat membayar pajak, sampai saat musim kering atau musim hujan misalnya, semua gejolak dan atmosfirnya berpeluang dijadikan bahan lawakan.
Merujuk hal itu, di negara-negara yang industri humornya sudah mapan telah terdapat lembaga kajian lawakan dengan luaran jasa yang unik. Mereka setiap awal bulan selalu menerbitkan “ramalan cuaca humor” sebagai pemandu penciptaan lawakan sehingga isi atau pesannya mampu mencocoki suasana hati masyarakat ketika lawakan tersebut dipanggungkan.
Lembaga peramal cuaca humor semacam itu belum ada di Indonesia. Mungkin itu sebabnya, mengapa pemanggungan perdana acara humor Piala Duniatawa di stasiun televisi swasta TPI, tanggal 2 Mei 2010 yang lalu, memancing tanda tanya. Karena acara yang menurut direktur kreatifnya, yang juga sahabat saya, Harris Cinnamon, digagas mengambil momentum penyelenggaraan kejuaraan akbar sepakbola sejagat, Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, kok tiba-tiba justru tampil dengan kostum, dekor dan suasana berbau Cina.
Padahal, kita tahu, hari raya Imlek sudah lama berlalu. Apalagi dalam tayangan acara itu juga tak ada sentuhan terkait pertandingan sepak bola. Bahkan walau terbalut dekor dan kostum bernuansa Cina yang mewah dan mahal, saya telah menulis sentilan di wall-nya Harris Cinnamon antara lain berbunyi :
“Menurutku, sayang banget, totalitas sajian malam itu nampak tidak dirancang untuk mengeksploitasi kosmologi Cina secara komprehensif. Misalnya dimulai dari ajaran filsafat Cina yang luhur dan kaya, sampai sajian lelucon-lelucon khas Cina yang elegan, tanpa harus terjebak pendekatan berbau rasis atau stereotip yang dangkal.
Kostum dan dekor yang nampak mewah itu bagiku malah seperti membelenggu,memperkerdil para pelaku, juga karena tidak ada unsur-unsur yang dapat diolah secara cerdas sebagai sajian humor visual yang khas Cina pula.
Usul : kalau bisa, intro atau narasi ‘dalang’ oleh Oki dkk jangan sampai berkepanjangan. Mereka harus dibuatkan set (naskah lawakan) yang bernas dan terukur, muncul di saat tepat, membawakan 2-3 lelucon, lalu mundur lagi ke belakang. Jangan mereka dibiarkan ‘liar’ karena, maaf, stok lelucon yang ada di kepala dia nampak sangat-sangat terbatas.”
Pemilihan tema sampai setting dari Piala Duniatawa malam itu, menurut saya meleset terkait atmosfir yang hidup pada benak masyarakat. Ini jelas merupakan kabar buruk. Yang kemudian memicu lahirnya tulisan ini.
Tentu saja, bukan diniatkan sebagai ejekan atau aksi penistaan. Tetapi diajukan dengan harapan semoga mampu menjadi bahan diskusi, syukur-syukur menjadi bahan perenungan di sana-sini.
Komedi Indonesia harus bergerak seperti ular. Ia tak mampu bergerak maju bila berada di permukaan yang licin. Ia akan bergerak bila berada di permukaan yang kasar. Dalam konteks niatan memajukan dunia komedi kita, permukaan yang kasar itu bukan pujian, melainkan kritik.
Sayangnya, kritik seringkali didaulat oleh masyarakat kita sebagai bentuk perlawanan, bukan sebagai suatu bentuk kemitraan. Kita belum mampu menerima kritik secara elegan. Tak ayal, meniru teknik lawakan call back yang terkenal itu, bangsa yang tidak menghargai kritik berpeluang besar dikutuk untuk mengulangi kembali segala kesalahan dan kejahatannya sendiri di masa lampu.
Kabar buruk lagi.
Apakah kita akan menerimanya dengan senang hati ?
Wonogiri, 4-5/5/2010
Email : humorliner (at) yahoo.com
Komedian itu mirip wartawan.
Sama-sama suka kabar buruk.
Tentang wartawan, saya akan mengutip isi blog kawan maya saya, Ira Lathief (foto). Ia telah menghasilkan buku-buku menarik.
Antara lain : Tukul Arwana : Kumis Lele Rezeki Arwana (Biografi, 2007), Kumpulan Rayuan Gombal (2007), Tebak-Tebakan Gokil Abiz Plus Humor Buat Gaul (2008), Kumpulan Rayuan Super Gombal (2009), Tebak-Tebakan & SMS Kocak (2009) dan Kumpulan Status Facebook Paling Seru (2009).
Ira yang memiliki blog dengan slogan “think globally, laugh locally” telah pula berkenan menulis endorsement yang inspiratif dan insinuatif untuk buku saya, Komedikus Erektus, yang kini dalam perampungan akhir oleh Faried Wijdan dan kawan-kawan di Etera Imania dan menunggu diluncurkan.
Ketika Ira Lathief menulis pengalamannya sebagai relawan di Aceh pasca-tsunami, ia sempat menyentil tentang membeludaknya kabar buruk tentang negeri ini yang mampir di benaknya dan atmosfir tempat dia bekerja. Ira menulis :
“Belakangan kayaknya kita ‘dibombardir’ rentetan berita buruk dari berbagai media massa. Ditambah lagi ….. orang “berlomba-lomba” mengkritik dan saling menyalahkan. ABCDEF. Aduh Booo…..Cape Deyyyy…Eikee Fusyiing!!! Koq…..seakan-akan bangsa ini gak berenti2 dirundung kemalangan :( TANYA KENAPA???
Berita buruk dan segala macam kritik adalah ‘makanan’ aku sehari-hari. Di lingkungan dunia pemberitaan yang bergelut dengan rating, tempatku mengais-ngais intan dan berlian, aku udah "kenyang" dikondisikan untuk mencari segala kekurangan dan kelemahan dari sebuah peristiwa atau juga orang lain. Well…bad news is always a good news, what can I say!
I love my job, I love what I’m doing. Tapi, sebenernya lingkungan seperti ini sangat memungkinkan aku untuk menjadi pribadi yang juga "negatif", kalo saja aku gak bisa ‘menyiasatinya.’ Untungnya, aku masih ‘diselamatkan’ oleh orang-orang luar biasa, yang selalu ‘menyadarkan,’ bahwa bertindak dan berbuat sesuatu adalah jauh lebih berarti daripada sekedar mengkritik.”
Ira yang beruntung. Beruntung pula mereka yang mau menjalani nasehat Andrew Weil, M.D. Ia ibarat sosok “nabi” dalam kancah pengobatan alternatif dunia, walau sebenarnya ia lulusan fakultas kedokteran Universitas Harvard. Dalam wawancara dengan majalah Housekeeping beberapa waktu lalu, di mana saya lupa mencatat nomor edisinya, tetapi saya fotokopi dari Perpustakaan LIA Jakarta Timur, 14 Januari 1998, ia mengajukan hal yang menarik dan kontroversial.
Sambil merujuk isi buku Weil terbaru yang laris, berjudul 8 Weeks to Optimum Health, Bonnie Rubin, si pewawancara, mengutarakan bahwa Andrew Weil menganjurkan agar orang puasa berita. Yaitu absen dari membaca media cetak, tidak mendengarkan radio dan absen nonton televisi, sebagai cara memperoleh ketenangan yang lebih optimal. “Tetapi bukankah terlibat secara aktif dengan keadaan yang terjadi di dunia merupakan nilai plus ?,” tanya Bonnie Rubin.
“Saya tidak menuntut agar orang menjadi buta informasi, tetapi kita harus melakukan pilihan terhadap asupan berita-berita itu,” jawabnya. “Mendengarkan berita dapat menjadi sumber agitasi atau gejolak mental yang tidak kita sadari. Terutama dengan membanjirnya cerita-cerita duka nestapa yang memicu perasaan marah, tidak berdaya dan keberingasan, di mana semua itu menjadi latar belakang kegaduhan bagi hidup kita, baik ketika kita sedang makan atau menyopir, sementara kita tidak memperhatikan dampak semua itu bagi kondisi mental kita.”
Betul juga. Mudah kita bayangkan apa yang terjadi bila tiap hari mental kita dihajar dengan asupan-asupan informasi semacam itu. Mungkin dampaknya berupa siklus tanpa henti : kekerasan, berita kekerasan, kekerasan yang lebih ganas lagi, berita kekerasan yang lebih mencekam lagi, dan seterusnya. Dan seterusnya lagi.
Bahan olok-olok. Lalu bagaimana kaitan antara kabar buruk dengan komedian ? Kabar buruk itu, utamanya yang menyangkut tokoh terkenal, baik artis, pebisnis, politisi atau birokrat yang korup, yang melakukan deviasi, senantiasa menjadi bahan santapan lezat para komedian untuk dijadikan bahan tertawaan secara bersama-sama.
Komedian terkenal Jon Stewart, menjelang tampil sebagai host penganugerahan Oscar di tahun 2006, mengatakan bahwa dirinya telah bersyukur kepada Tuhan. Pengarang buku humor politik laris America (The Book): A Citizen's Guide to Democracy Inaction itu merujuk munculnya peristiwa tragis yang tiba-tiba.
Ibarat ia dapat durian runtuh, karena melibatkan nama besar. Wakil Presiden Dick Cheney ketika itu berburu burung puyuh bersama rekan-rekannya. Lalu secara tidak sengaja justru menembak kawannya sendiri, pengacara sohor Harry Whittington. Jon Stewart melucukannya :
“Wapres AS Dick Cheney secara tidak sengaja menembak seseorang ketika berburu burung puyuh...membuat Harry Whittington sebagai orang pertama ditembak wakil presiden AS sejak Alexander Hamilton. Hamilton terlibat tembak-menembak dengan Aaron Burr demi mempertahankan kehormatan, integritas dan manuver politik. Whittington ? Tertembak karena dikira seekor burung !”
Lelucon Stewart yang satu ini menarik. Terutama karena peristiwa duel antara Alexander Hamilton (1755-1804) melawan Aaron Burr (1756-1836) itu sudah terjadi lebih dari 200 tahun yang lalu. Tetapi mengapa peristiwa tersebut masih hidup dalam ingatan bangsa Amerika ? Bahkan masih juga relevan menjadi bahan guyonan masa kini. Karena mereka memiliki fondamen budaya literasi, budaya baca dan tulis, yang telah kokoh.
Hikmahnya, bagi saya, barangkali itulah salah satu mukjijat humor. Sebagai media untuk melestarikan nurani bangsa agar tidak terkena amnesia sejarah. Sayangnya, nampaknya tidak banyak pemangku kepentingan dunia humor kita yang mampu merenung, lalu berusaha melahirkan, mengembangkan dan menanamkan keluhuran humor semacam ini sebagai penjaga moral kehidupan berbangsa dan bernegara selama ini.
Kita lebih sering seperti keledai, lupa dan lupa lagi, sehingga terantuk pada lubang yang sama lagi. Apalagi terhadap dinamika politik yang terjadi. Ingatan bangsa ini memang pendek, sentil sobat saya Effendi Gazali. Akibatnya, seperti kata filsuf George Santayana (1863–1952), “mereka yang tidak mampu mengingat masa lampau akan dikutuk untuk mengulanginya kembali.”
Sebagai pelaku aktif gejolak peradaban, komedian memang harus memiliki antena atau radar yang super peka terhadap gejolak masyarakat. Bekerjanya 24 jam per hari dan 7 hari seminggu pula. Karena hanya dengan metode ini pula leluconnya berpeluang memicu gelak, karena mampu seirama dengan detak jantung dan nurani audiensnya.
Sekadar contoh, adalah ulah komedian favorit saya Andy Borowitz. Di tengah heboh peluncuran gadget fenomenal karya Apple Corporations, yaitu iPad, pada tanggal 3 April 2010 yang lalu, ia pun mengiris dengan lelucon bergizi tinggi.
Katanya, sabak cerdas iPad itu diramalkan akan menjadi satu-satunya pemenang Hadiah Nobel Perdamaian yang bukan berwujud manusia. Seloroh tingkat tinggi dalam balutan idea-driven jokes dari lulusan magna cum laude Universitas Harvard (1980) ini sungguh mematikan. Katanya, “iPad yang baru diluncurkan 24 jam saja itu sudah dikabarkan mampu sebagai solusi untuk menyelamatkan industri surat kabar, industri penerbitan, dan bahkan menyelamatkan perkawinan Tiger Woods yang terancam berantakan.”
Komedi ular. Selain peka dan cerdas membingkai berita-berita hip yang hadir meledak-ledak, para komedian utamanya harus pula sensitif terhadap suasana hati rakyat yang sering menggumpal tetapi tidak serta merta muncul ke permukaan. Ketajaman dalam mengolah isu-isu yang menggumpal di benak rakyat itu, lalu menyuarakannya ketika banyak orang lain tidak berani, itulah yang membuat komedian sering disebut, meminjam istilah Jay Sankey (1998), sebagai sosok filsuf yang blak-blakan.
Sisanya, kepekaan komedian dalam menggarap sesuatu isu, sebenarnya juga dapat direncanakan sejak dini. Karena selain isu yang tiba-tiba hadir dan meledak, di kalangan masyarakat senantiasa juga dibeliti oleh isu-isu laten yang setiap rentang waktu akan hadir, atau muncul kembali, secara periodik. Saat hari raya, tahun baru, saat ujian nasional, penerimaan mahasiswa baru, saat tenggat membayar pajak, sampai saat musim kering atau musim hujan misalnya, semua gejolak dan atmosfirnya berpeluang dijadikan bahan lawakan.
Merujuk hal itu, di negara-negara yang industri humornya sudah mapan telah terdapat lembaga kajian lawakan dengan luaran jasa yang unik. Mereka setiap awal bulan selalu menerbitkan “ramalan cuaca humor” sebagai pemandu penciptaan lawakan sehingga isi atau pesannya mampu mencocoki suasana hati masyarakat ketika lawakan tersebut dipanggungkan.
Lembaga peramal cuaca humor semacam itu belum ada di Indonesia. Mungkin itu sebabnya, mengapa pemanggungan perdana acara humor Piala Duniatawa di stasiun televisi swasta TPI, tanggal 2 Mei 2010 yang lalu, memancing tanda tanya. Karena acara yang menurut direktur kreatifnya, yang juga sahabat saya, Harris Cinnamon, digagas mengambil momentum penyelenggaraan kejuaraan akbar sepakbola sejagat, Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, kok tiba-tiba justru tampil dengan kostum, dekor dan suasana berbau Cina.
Padahal, kita tahu, hari raya Imlek sudah lama berlalu. Apalagi dalam tayangan acara itu juga tak ada sentuhan terkait pertandingan sepak bola. Bahkan walau terbalut dekor dan kostum bernuansa Cina yang mewah dan mahal, saya telah menulis sentilan di wall-nya Harris Cinnamon antara lain berbunyi :
“Menurutku, sayang banget, totalitas sajian malam itu nampak tidak dirancang untuk mengeksploitasi kosmologi Cina secara komprehensif. Misalnya dimulai dari ajaran filsafat Cina yang luhur dan kaya, sampai sajian lelucon-lelucon khas Cina yang elegan, tanpa harus terjebak pendekatan berbau rasis atau stereotip yang dangkal.
Kostum dan dekor yang nampak mewah itu bagiku malah seperti membelenggu,memperkerdil para pelaku, juga karena tidak ada unsur-unsur yang dapat diolah secara cerdas sebagai sajian humor visual yang khas Cina pula.
Usul : kalau bisa, intro atau narasi ‘dalang’ oleh Oki dkk jangan sampai berkepanjangan. Mereka harus dibuatkan set (naskah lawakan) yang bernas dan terukur, muncul di saat tepat, membawakan 2-3 lelucon, lalu mundur lagi ke belakang. Jangan mereka dibiarkan ‘liar’ karena, maaf, stok lelucon yang ada di kepala dia nampak sangat-sangat terbatas.”
Pemilihan tema sampai setting dari Piala Duniatawa malam itu, menurut saya meleset terkait atmosfir yang hidup pada benak masyarakat. Ini jelas merupakan kabar buruk. Yang kemudian memicu lahirnya tulisan ini.
Tentu saja, bukan diniatkan sebagai ejekan atau aksi penistaan. Tetapi diajukan dengan harapan semoga mampu menjadi bahan diskusi, syukur-syukur menjadi bahan perenungan di sana-sini.
Komedi Indonesia harus bergerak seperti ular. Ia tak mampu bergerak maju bila berada di permukaan yang licin. Ia akan bergerak bila berada di permukaan yang kasar. Dalam konteks niatan memajukan dunia komedi kita, permukaan yang kasar itu bukan pujian, melainkan kritik.
Sayangnya, kritik seringkali didaulat oleh masyarakat kita sebagai bentuk perlawanan, bukan sebagai suatu bentuk kemitraan. Kita belum mampu menerima kritik secara elegan. Tak ayal, meniru teknik lawakan call back yang terkenal itu, bangsa yang tidak menghargai kritik berpeluang besar dikutuk untuk mengulangi kembali segala kesalahan dan kejahatannya sendiri di masa lampu.
Kabar buruk lagi.
Apakah kita akan menerimanya dengan senang hati ?
Wonogiri, 4-5/5/2010
Selasa, 20 April 2010
Dibalik Lelucon Seks Prof. Sarlito
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
"Cantik-cantik mana, mahasiswi Fakultas Psikologi UI atau Fakultas Sastra UI ?"
Pertanyaan sulit itu diajukan oleh Suprantyo "Yoyok" Jarot. Ia adalah adiknya aktor kawakan Slamet Raharjo Jarot. Juga adik dari seniman/pencipta lagu/aktivis dan politisi Eros Jarot.
Yoyok mengajukannya kepada saya di tengah-tengah syuting film yang dibintangi Frans Tumbuan, di kampus Fakultas Sastra UI Rawamangun, tahun 1983-an.
Sungguh suatu kejutan bisa ketemu Yoyok di Jakarta ini. Sebelumnya kami ketemu di desa Sawahan Bantul, tahun 1978. Saat itu berlangsung syuting film November 1828-nya Teguh Karya. Ia jadi kru penata artistik, dan saya sekitar 2 minggu ngekos di desa Sawahan semata ingin menonton pembuatan film bersangkutan. Kerennya, ingin belajar sinematografi. Juga banyak ngobrol sama Labbes Widar, dosen film IKJ saat itu.
Tetapi sebelumnya lagi, di tahun 1975, walau saat itu kami belum saling kenal, Yoyok pernah manggung bersama kelompok teater Jakarta di Sasonomulyo, Baluwarti, Solo. Bintangnya antara lain Deddy Mizwar. Dari rombongan Jakarta itu yang saya kenal hanya Sri Husin. Seusai pertunjukan, ditemani pula Victoria Monk, cewek bule yang artistik dan bermata biru asal Australia yang tetangga saya di Baluwarti, Solo, kami mengobrol sampai larut malam.
Pertanyaan Yoyok tadi sulit saya jawab. Sambil nongkrong di kupel Taman Sastra UI , ia saya persilakan cuci mata melihat-lihat kaum "WTS" yang berkeliaran saat itu. Dan saya biarkan ia yang memutuskannya sendiri. Benarkah kaum WTS berkeliaran di kampus UI, pada siang hari ? WTS adalah singkatan dari Wanita Taman Sastra.
Saat itu kalau Yoyok bertanya, lebih lucuan mana dosen Fakultas Sastra atau dosen Fakultas Psikologi, saya mungkin agak sok tahu jawabnya. Saya akan menjawab : dosen Fakultas Psikologi. Namanya : Prof. Sarlito Wirawan Sarwono. Kadang-kadang di sms atau email, saya memanggil dengan sebutan Prof atau julukan populernya yang mencitrakan semangat tetap awet muda : Mas Ito.

Kenangan 2004. Prof. Sarlito Wirawan Sarwono (paling kanan) di Hotel Borobudur, Jakarta (2004) bersama 10 Pemenang Mandom Resolution Award 2004. Beliau sebagai ketua juri, didampingi Maria Hartiningsih (wartawan senior Kompas) dan artis/psikolog Tika Bisono.
Para pemenangnya adalah : Hariyadi (Yogyakarta, nomor 3 dari kiri), Dian Safitri (Jakarta), Bagyo Anggono (Wonogiri), Hisyam Zamroni (Karimunjawa), Dr. Slamet Sudarmadji (Yogyakarta), Deny Wibisono (Blitar), Ilham Prayudi (Jakarta), Bambang Haryanto (Wonogiri), Soleman Betawai (Jakarta) dan Tarjum Samad (Subang).
Saya saat itu mencita-citakan resolusi meluncurkan 100 blog untuk komunitas epistoholik, kaum pencandu penulisan surat-surat pembaca di Indonesia.
Humor seks. Walau kampus kami jaraknya hanya sepelemparan batu ("kalau melemparnya melenceng bisa mengenai genting gedung FISIP, FH, IKIP Jakarta atau Pusat Bahasa"), saat itu jelas Mas Ito tak mengenal saya. Saya yang mengenal beliau, karena beliau sering menulis di koran-koran, dengan topik hot saat itu. Pendidikan seks. Ia memang dikenal luas sebagai guru besar yang ahli main sex. Maksud saya, ahli main sax. Saxophone.
"Kalau organ seks pria, penampilannya lebih sederhana," begitu tutur Mas Ito. Terdengar seisi aula FSUI tergelak. Bergemuruh. Potongan menggelitik dari ceramah pendidikan seks itu hanya saya dengar melalui kaset, yang saya temukan di Lab Bahasa FSUI.
Saat itu saya sebagai asisten dosen JIP-FSUI melakukan rekaman suara untuk pembuatan program pandang-dengar berupa sound slide untuk promosi perpustakaan. Saya yang menulis skrip, juga pengisi suara, dibantu mahasiswi Sastra Indonesia yang pernah menjadi penyiar radio, Mien Lindim Pongoh. Teman cantiknya, Gustinia Farida, di mana saat itu saya bersama Hartadi Wibowo menjulukinya sebagai "Lady Diana," yang sayang, konon kabarnya ("info dari mBak Yayi") pindah ke Australia.
Ditilik dari kacamata kajian humor, tuturan ilmiah dari Prof. Sarlito itu sebenarnya "tidak bergerigi" dan "tidak menjurus" untuk mengundang tawa. Tetapi mengapa justru mampu mengundang ledakan tawa ?
Gene Perret dalam bukunya Comedy Writing Step-By-Step : How to Write and Sell Your Sense of Humor (1982), menulis bahwa sense of humor itu menyangkut tiga keterampilan. Pertama, to see things as they are, melihat sesuatu apa adanya. Kedua, to recognize things as they are, memahami/mengerti sesuatu apa adanya. Dan ketiga, to accept things as they are, menerima sesuatu apa adanya.
Ujaran Mas Ito tentang konfigurasi organ seks pria di depan mahasiswa- mahasiswi FSUI tadi mencocoki ketiga rumusan Perret tentang sense of humor tersebut. Harap Anda catat bahwa saat itu Mas Ito sedang tidak melucu.
Beliau yang pernah berkuliah di Universitas Edinburgh, Skotlandia, hingga saya curiga berat kegemaran Mas Ito melawak itu gara-gara ketemplokan virus pelawak-pelawak dalam acara tahunan Festival Lawak Antarbangsa di Edinburgh yang terkenal itu, semata-mata mengemukakan suatu realitas. Tetapi karena realitas tersebut dilihat, difahami dan diterima oleh banyak orang, mereka pun serempak meledak dalam tawa.
Prof. Liek Wilardjo dalam artikelnya berjudul "Logika Samin" (Kompas, 20/3/2010 : hal.7) juga mengamini rumusan di atas. Beliau mengambil contoh logika orang Samin yang menurutnya harafiah, denotatif dan apa adanya. Beliau memberi ilustrasi tentang sekelompok orang Samin yang protes kepada pemilik toko yang menimbun pupuk. Tetapi juragan itu ingkar.
Kelompok orang Samin tersebut kemudian ramai-ramai membongkar gudang milik sang juragan. Mengambil pupuk-pupuk yang ada, sambil mereka tidak merasa bersalah. Logika denotatif mereka, sambil merujuk kilah sang juragan yang mengaku tidak menimbun pupuk membuat orang Samin berkesimpulan bahwa pupuk-pupuk di gudang tadi memang bukan milik sang juragan tamak tersebut. Mereka pun lalu bebas mengambilnya.
Sayangnya, fondamen lawakan tersebut belum banyak difahami oleh banyak pelawak-pelawak kita. Lelucon mereka tentang hantu-hantuan, banci-bancian sampai gubrak-gubrakan yang cenderung merendahkan kecerdasan, sekaligus makin menjauh dari premis-premis kebenaran.
Hal konyol itu merupakan bukti ketidakmampuan mereka membuat lawakan yang mampu memiliki kaitan dengan apa yang dilihat, difahami dan diterima oleh banyak orang, atau penonton. Karena lelucon mereka yang semacam itu semata perwujudan sifat egosentris, yang sebenarnya hanya lucu bagi dirinya sendiri belaka.
Dihibur Orang Mati dan Stres. Harian Jawapos (11/4/2010) ketika menulis laporan tentang acara lawak Opera Van Java, menunjukkan bukti menarik. Sebetulnya menyedihkan. Koran itu telah mengutip Bremoro Kunto, asisten produser OVJ, yang mengatakan bahwa para pelaku utama acara itu dengan penilaian : "Kalau saya bilang, mereka bukan kategori orang lucu lagi, melainkan orang stres."
Kalau dalam film-film Indonesia mutakhir yang ramai dengan genre hantu dan pocong, sehingga Ketua LSF Mukhlis PaEni di Kompas (28/3/2010) menyatakan hal itu sebagai "kekonyolan budaya kita karena orang yang hidup sudah tidak bisa memberikan hiburan sehingga hiburan itu diserahkan kepada hantu-hantu," maka dalam komedi hiburan itu kini diserahkan kepada orang-orang yang stres.
Tayangan Piala Duniatawa TPI yang akan meluncur 2 Mei 2010, saya duga kuat ("sori, Momon") hanya akan menambah panjang daftar tayangan lawakan di televisi kita yang semata bermodalkan komedian-komedian yang stres pula.
Staf ahli Mendagri. Lawakan-lawakan stres itu kini kita kuatirkan semakin menular. Memengaruhi psike masyarakat Indonesia dalam pelbagai faset kehidupan. Aksi tindak kekerasan yang meruyak di negeri ini, boleh jadi, juga ikut dipengaruhi oleh tayangan komedi-komedi yang tidak mengajarkan keluhuran itu.
Bisakah insan-insan komedi Indonesia diajak kembali ke khittah, bahwa nilai melawak yang luhur akan muncul bila kita berani menertawai diri sendiri ? Bukan menertawai hantu, kaum banci atau pocongan. Sehingga dengan sikap jujur dan rendah hati itu mungkin mereka akan lebih mudah tergerak menyetrum diri dengan energi-energi kreatif baru yang bukan berlandaskan kekonyolan demi kekonyolan.
Mungkinkah Prof. Sarlito memiliki saran dan kritik sebagai solusi atas dekadensi tayangan komedi Indonesia dewasa ini ? Tentu saja, beliau pasti punya. Dan dipastikan manjur. Tetapi sayang, nampaknya pemangku kepentingan dunia komedi Indonesia tidak memiliki kepekaan sampai kesadaran diri betapa arah langkah mereka kini sudah memasuki ranah kekonyolan dan kebodohan yang luar biasa.
Semoga suatu saat Mas Ito akan ikut memberikan saran. Tetapi saya tak akan memintanya untuk saat ini. Mungkin nanti sesudah permohonan saya agar beliau sudi menulis endorsement untuk buku saya, Komedikus Erektus, paripurna beliau penuhi. Kini penerbit saya berusaha segera mengirimkan dummy buku tersebut kepada beliau. Hari-hari mendatang saya akan rada merasa deg-degan menunggu, karena buru-buru ingin meresapi apa saja yang hendak Mas Ito nanti tuliskan.
Tetapi saya tidak kuatir. Karena, mungkin ia termasuk dalam mazhab psikologi kebahagiaan dengan pentolan Martin Seligman dari Universitas Pennsylvania (AS), maka masukannya senantiasa mencerahkan dan menumbuhkan optimisme. Itu terbukti dalam email terakhir beliau, saat kami mengobrolkan pola kepemimpinan Joko Widodo sebagai walikota Solo yang melakukan pendekatan secara menang-menang, win-win, dalam mengatasi masalah kemasyarakatan di Solo.
Bandingkan dengan pendekatan model gubrak-gubrak atau lose-win dan lose-lose yang meledak dalam aksi tindak kekerasan aparat sehingga jatuh korban tewas dan luka-luka di Tanjung Priuk, Jakarta Utara, baru-baru ini.
Merujuk prestasi walikota Solo itu, beliau rada menyayangkan mengapa Joko Widodo hari ini "hanya" sebagai walikota saja. Kemudian terkait cerita saya bahwa di tahun 1998 saya bersama Mayor Haristanto mendirikan Forum Bisnis Solo/Forbis dan mengadakan seminar dengan mengundang Dr. Sri Mulyani Indrawati, sementara Joko Widodo sebagai sponsor acara, Mas Ito mencita-citakan Joko Widodo sebagai Menteri Dalam Negeri.
Lalu imbuhnya, "Bambang Haryanto kemudian sebagai staf ahlinya."
Memperoleh endorsement seorang maha guru ternama dari Universitas Indonesia itu, langsung saja, impian saya tiba-tiba melambung warna-warni. Terbius keinginan menjadi staf ahli Menteri Dalam Negeri. Tetapi, lupakanlah, karena pada akhir email Mas Ito itu masih ada tambahannya : "ha-ha-ha-ha."
Wonogiri, 20 April 2010
UP-DATE : 24 April 2010 : Artikel ini juga saya pajang di Facebook. Berikut di bawah ini terdapat beberapa komentar dan sambutan dari teman-teman saya, dan juga tanggapan saya terhadap isi komentar mereka. Semoga makin memperkaya obrolan yang ada. Terima kasih.
Hartadi Wibowo : "Ketika dulu saya (pernah) 4 tahun nongkrong di FSUI, saya merasa (dan tentu saja mata saya melihat ), mahasiswi Fak. Psikologi UI lebih cantik-cantik dibanding mahasiswi Sastra. Mungkin karena yang di Sastra sudah sering lihat, sedangkan yang di Psikologi jarang ketemu. Atau berlaku hukum "rumput tetangga lebih hijau" ? Bagaimana Oom BH ?"
Sunu Wasono : Mas, ditunggu lho buku tentang humor itu. Kabari kalau sudah terbit. Omong-omong soal humor, saya jadi teringat pelawak Bagyo. Dia bilang bahwa humor itu serius. Benar kiranya diperlukan kecerdasan untuk menampilkan humor. Moga-moga segera muncul humoris-humoris yang mau dan mampu mentertawakan diri sehingga setiap hari kita tidak disuguhi adegan orang stres melulu. Makasih Mas. Tulisan njenengan memberikan pencerahan.
Bambang Haryanto : @ Hartadi Wibowo : Thanks, Ted. Kayaknya kau sudah menjawab pertanyaanmu itu. Aku setuju bila sindrom rumput di seberang pagar, yang tak hanya rumput hijau tetapi juga rumput hitam, juga sering memengaruhi kita. C’est la vie. Itulah kehidupan
Bambang Haryanto : @Sunu Wasono : Thanks, Mas Sunu. Bila kelar, Anda akan segera memperoleh kabar. Tentang kajian humor secara serius, Sastra Indonesia UI apa tidak ada minat ya ? Suara dari FSUI yang ada dalam kliping saya adalah pendapat (kolega Anda ?), I. Yoedhi Soenarto, tentang Ketoprak Humor di Gatra, Desember 2001 yang lama lewat.
Literatur serius tentang humor justru pertama kali saya pergoki di perpustakaannya mBak Yayi/FSUI, tahun 1982-an. Pada bukunya Arthur Koestler, The Act of Creation (1964). Ia yang idolanya Sting dari The Police itu bilang, bahwa kebudayaan terbagi tiga ranah : agama, ilmu pengetahuan dan humor.
Sayang, saya tak sempat menfotokopi bab tentang humor dari buku ini, yang antara lain bilang : bila komedian terampil mengolah gagasan ia akan mampu mendekati peran sebagai seorang pemikir atau filsuf, tetapi bila terampil mengolah bahasa, maka komedian bersangkutan mampu hadir sebagai seorang penyair. Ini saya kutip dari almarhum George Carlin, komedian solo legendaris AS, tentang bukunya Koestler itu. Salam.
Harris Cinnamon : “....hanya akan menambah panjang daftar tayangan lawakan di televisi kita yang semata bermodalkan komedian-komedian yang stres pula....”
Sangat benar itu, mBang. tapi alhamdulillahnya, kita tim "penggodoknya" yang ada di balik layar, sesungguhnya sangat tidak ingin hal itu terjadi, sampai detik ini, kita sangat berharap bahwa yang akan kita tampilkan sevisi dengan kita. tapi kalau kenyataannya nanti melenceng, walahualam, berarti: kita tetap akan terus belajar, tapi nggak nemu ilmu kanuragarannya humor (kalo gitu) ha ha...tq
Hari Juniar : Seorang teman bertanya kpd saya, mengapa di pantai itu udaranya panas sekali dibandingkan udara di pegunungan yang sejuk... saya hanya menjawab ringan... Tuhan menciptakan pantai dengan udaranya yg panas, penuh sinar matahari, penuh kegembiraan dan keceriaan.. karena Tuhan menciptakan 'BIKINI'.....
Ugh.. alih2 mo melawak.. teman saya men'cap' saya..sebagai melawan 'Tuhan'.. SARA.. dan predikat2 lain yg menenmpatkan saya sebagai orang yg melecehkan' Tuhan'.. finally saya harus jelaskan panjang lebar dimana letak lucunya... dan dia tetap ga tertawa... ha3...
Mungkin itu yg menyebabkan 'lawakan komedian stress' yg 'laku'.. pemirsa nya males mikir.... dan menurut mas BH kan lawakan itu menjadi ngga lucu lagi ketika sebuah 'punch' yg diharapkan langsung meledakkan tawa, tetapi pemirsa nya 'bengong-bengong'... dan komediannya jadi salah tingkah karena punch nya ngga bikin 'gerrr' dan akhirnya dia harus menjelaskan punch nya panjang lebar dan... pemirsanya tetap tidak tertawa... ha3... tetap semangat mas.. smoga selalu bisa berbagi pemikiran... amiin
Bambang Haryanto : @ Harris Cinnamon. Thanks untuk komentarmu. Komedi itu ibarat gedung dengan “lawang sewu,” di mana setiap orang bisa memasukinya dari pintu yang mana saja. Mungkin kau dan kawan-kawan di TPI dalam menggarap Piala Duniatawa masuk dari pintu 600, dan saya dari pintu 346, teman lain dari pintu 875, semuanya sah-sah saja.
Tetapi menurutku tetap harus ada satu pegangan, meminjam kata Gene Perret : “All comedy must be relevant” dan “The best humor is based on truth.” Dalam pemahaman saya, ya kira-kira begitu itulah inti ilmu kanuragan dalam komedi. Artinya, di dalam tayangan komedi itu kita bisa melihat diri-diri kita di sana dan ketika komedi itu semakin mendekati kasunyatan, kebenaran, realitas, atau kejujuran, akan semakin berpeluang jenaka pula sajian komedi bersangkutan. Sukses selalu.
Bambang Haryanto : @ Hari Juniar : komedian itu, menurutku, harus rendah hati. Kalau sesuatu lelucon tidak meledak [bombed], cepat-cepat ganti yang lain, dan jangan sesekali menyalahkan audiens. Kata Mas Jaya Suprana, sesuatu lelucon akan mendapat sambutan memadai [killing], bila antara komedian dan audiens berada dalam “satu gelombang” yang sama. Repotnya, meraba “gelombang” merupakan skill tersendiri, sehingga komedian top di manca negara perlu survei detil dulu tentang calon audiensnya sebelum ia tampil.
Tetapi tetap ada resep dan solusi manjur untuk itu : carilah KEKURANGAN yang menonjol yang ada pada dirimu sendiri, lalu jadikanlah kekurangan itu sebagai bahan lawakan ! Ingat kata wasiat ibu mentor komedian, Judy Carter, tentang misi luhur komedian dalam peradaban :
“Kita para jenakawan sejati itu makhluk yang bener-bener aneh. Kalau sebagian besar orang berusaha sekuat mungkin menyembunyikan cacat dan celanya, tetapi kita para jenakawan sejati sengaja mempertontonkan semua cacat dan cela kita itu ke muka dunia !”
[PS: beranikah para pemuka agama, birokrat dan politisi melakukan hal yang sama ?].
Harris Cinnamon : "Insya Allah, Bang, karena sesungguhnya itulah yang ingin kita tetapkan, kita ingin mendakati realnya. Terima kasih atas segala masukannya, yang sulit tergantikan dengan apapun."
Email : humorliner (at) yahoo.com
"Cantik-cantik mana, mahasiswi Fakultas Psikologi UI atau Fakultas Sastra UI ?"
Pertanyaan sulit itu diajukan oleh Suprantyo "Yoyok" Jarot. Ia adalah adiknya aktor kawakan Slamet Raharjo Jarot. Juga adik dari seniman/pencipta lagu/aktivis dan politisi Eros Jarot.
Yoyok mengajukannya kepada saya di tengah-tengah syuting film yang dibintangi Frans Tumbuan, di kampus Fakultas Sastra UI Rawamangun, tahun 1983-an.
Sungguh suatu kejutan bisa ketemu Yoyok di Jakarta ini. Sebelumnya kami ketemu di desa Sawahan Bantul, tahun 1978. Saat itu berlangsung syuting film November 1828-nya Teguh Karya. Ia jadi kru penata artistik, dan saya sekitar 2 minggu ngekos di desa Sawahan semata ingin menonton pembuatan film bersangkutan. Kerennya, ingin belajar sinematografi. Juga banyak ngobrol sama Labbes Widar, dosen film IKJ saat itu.
Tetapi sebelumnya lagi, di tahun 1975, walau saat itu kami belum saling kenal, Yoyok pernah manggung bersama kelompok teater Jakarta di Sasonomulyo, Baluwarti, Solo. Bintangnya antara lain Deddy Mizwar. Dari rombongan Jakarta itu yang saya kenal hanya Sri Husin. Seusai pertunjukan, ditemani pula Victoria Monk, cewek bule yang artistik dan bermata biru asal Australia yang tetangga saya di Baluwarti, Solo, kami mengobrol sampai larut malam.
Pertanyaan Yoyok tadi sulit saya jawab. Sambil nongkrong di kupel Taman Sastra UI , ia saya persilakan cuci mata melihat-lihat kaum "WTS" yang berkeliaran saat itu. Dan saya biarkan ia yang memutuskannya sendiri. Benarkah kaum WTS berkeliaran di kampus UI, pada siang hari ? WTS adalah singkatan dari Wanita Taman Sastra.
Saat itu kalau Yoyok bertanya, lebih lucuan mana dosen Fakultas Sastra atau dosen Fakultas Psikologi, saya mungkin agak sok tahu jawabnya. Saya akan menjawab : dosen Fakultas Psikologi. Namanya : Prof. Sarlito Wirawan Sarwono. Kadang-kadang di sms atau email, saya memanggil dengan sebutan Prof atau julukan populernya yang mencitrakan semangat tetap awet muda : Mas Ito.

Kenangan 2004. Prof. Sarlito Wirawan Sarwono (paling kanan) di Hotel Borobudur, Jakarta (2004) bersama 10 Pemenang Mandom Resolution Award 2004. Beliau sebagai ketua juri, didampingi Maria Hartiningsih (wartawan senior Kompas) dan artis/psikolog Tika Bisono.
Para pemenangnya adalah : Hariyadi (Yogyakarta, nomor 3 dari kiri), Dian Safitri (Jakarta), Bagyo Anggono (Wonogiri), Hisyam Zamroni (Karimunjawa), Dr. Slamet Sudarmadji (Yogyakarta), Deny Wibisono (Blitar), Ilham Prayudi (Jakarta), Bambang Haryanto (Wonogiri), Soleman Betawai (Jakarta) dan Tarjum Samad (Subang).
Saya saat itu mencita-citakan resolusi meluncurkan 100 blog untuk komunitas epistoholik, kaum pencandu penulisan surat-surat pembaca di Indonesia.
Humor seks. Walau kampus kami jaraknya hanya sepelemparan batu ("kalau melemparnya melenceng bisa mengenai genting gedung FISIP, FH, IKIP Jakarta atau Pusat Bahasa"), saat itu jelas Mas Ito tak mengenal saya. Saya yang mengenal beliau, karena beliau sering menulis di koran-koran, dengan topik hot saat itu. Pendidikan seks. Ia memang dikenal luas sebagai guru besar yang ahli main sex. Maksud saya, ahli main sax. Saxophone.
"Kalau organ seks pria, penampilannya lebih sederhana," begitu tutur Mas Ito. Terdengar seisi aula FSUI tergelak. Bergemuruh. Potongan menggelitik dari ceramah pendidikan seks itu hanya saya dengar melalui kaset, yang saya temukan di Lab Bahasa FSUI.
Saat itu saya sebagai asisten dosen JIP-FSUI melakukan rekaman suara untuk pembuatan program pandang-dengar berupa sound slide untuk promosi perpustakaan. Saya yang menulis skrip, juga pengisi suara, dibantu mahasiswi Sastra Indonesia yang pernah menjadi penyiar radio, Mien Lindim Pongoh. Teman cantiknya, Gustinia Farida, di mana saat itu saya bersama Hartadi Wibowo menjulukinya sebagai "Lady Diana," yang sayang, konon kabarnya ("info dari mBak Yayi") pindah ke Australia.
Ditilik dari kacamata kajian humor, tuturan ilmiah dari Prof. Sarlito itu sebenarnya "tidak bergerigi" dan "tidak menjurus" untuk mengundang tawa. Tetapi mengapa justru mampu mengundang ledakan tawa ?
Gene Perret dalam bukunya Comedy Writing Step-By-Step : How to Write and Sell Your Sense of Humor (1982), menulis bahwa sense of humor itu menyangkut tiga keterampilan. Pertama, to see things as they are, melihat sesuatu apa adanya. Kedua, to recognize things as they are, memahami/mengerti sesuatu apa adanya. Dan ketiga, to accept things as they are, menerima sesuatu apa adanya.
Ujaran Mas Ito tentang konfigurasi organ seks pria di depan mahasiswa- mahasiswi FSUI tadi mencocoki ketiga rumusan Perret tentang sense of humor tersebut. Harap Anda catat bahwa saat itu Mas Ito sedang tidak melucu.
Beliau yang pernah berkuliah di Universitas Edinburgh, Skotlandia, hingga saya curiga berat kegemaran Mas Ito melawak itu gara-gara ketemplokan virus pelawak-pelawak dalam acara tahunan Festival Lawak Antarbangsa di Edinburgh yang terkenal itu, semata-mata mengemukakan suatu realitas. Tetapi karena realitas tersebut dilihat, difahami dan diterima oleh banyak orang, mereka pun serempak meledak dalam tawa.
Prof. Liek Wilardjo dalam artikelnya berjudul "Logika Samin" (Kompas, 20/3/2010 : hal.7) juga mengamini rumusan di atas. Beliau mengambil contoh logika orang Samin yang menurutnya harafiah, denotatif dan apa adanya. Beliau memberi ilustrasi tentang sekelompok orang Samin yang protes kepada pemilik toko yang menimbun pupuk. Tetapi juragan itu ingkar.
Kelompok orang Samin tersebut kemudian ramai-ramai membongkar gudang milik sang juragan. Mengambil pupuk-pupuk yang ada, sambil mereka tidak merasa bersalah. Logika denotatif mereka, sambil merujuk kilah sang juragan yang mengaku tidak menimbun pupuk membuat orang Samin berkesimpulan bahwa pupuk-pupuk di gudang tadi memang bukan milik sang juragan tamak tersebut. Mereka pun lalu bebas mengambilnya.
Sayangnya, fondamen lawakan tersebut belum banyak difahami oleh banyak pelawak-pelawak kita. Lelucon mereka tentang hantu-hantuan, banci-bancian sampai gubrak-gubrakan yang cenderung merendahkan kecerdasan, sekaligus makin menjauh dari premis-premis kebenaran.
Hal konyol itu merupakan bukti ketidakmampuan mereka membuat lawakan yang mampu memiliki kaitan dengan apa yang dilihat, difahami dan diterima oleh banyak orang, atau penonton. Karena lelucon mereka yang semacam itu semata perwujudan sifat egosentris, yang sebenarnya hanya lucu bagi dirinya sendiri belaka.
Dihibur Orang Mati dan Stres. Harian Jawapos (11/4/2010) ketika menulis laporan tentang acara lawak Opera Van Java, menunjukkan bukti menarik. Sebetulnya menyedihkan. Koran itu telah mengutip Bremoro Kunto, asisten produser OVJ, yang mengatakan bahwa para pelaku utama acara itu dengan penilaian : "Kalau saya bilang, mereka bukan kategori orang lucu lagi, melainkan orang stres."
Kalau dalam film-film Indonesia mutakhir yang ramai dengan genre hantu dan pocong, sehingga Ketua LSF Mukhlis PaEni di Kompas (28/3/2010) menyatakan hal itu sebagai "kekonyolan budaya kita karena orang yang hidup sudah tidak bisa memberikan hiburan sehingga hiburan itu diserahkan kepada hantu-hantu," maka dalam komedi hiburan itu kini diserahkan kepada orang-orang yang stres.
Tayangan Piala Duniatawa TPI yang akan meluncur 2 Mei 2010, saya duga kuat ("sori, Momon") hanya akan menambah panjang daftar tayangan lawakan di televisi kita yang semata bermodalkan komedian-komedian yang stres pula.
Staf ahli Mendagri. Lawakan-lawakan stres itu kini kita kuatirkan semakin menular. Memengaruhi psike masyarakat Indonesia dalam pelbagai faset kehidupan. Aksi tindak kekerasan yang meruyak di negeri ini, boleh jadi, juga ikut dipengaruhi oleh tayangan komedi-komedi yang tidak mengajarkan keluhuran itu.
Bisakah insan-insan komedi Indonesia diajak kembali ke khittah, bahwa nilai melawak yang luhur akan muncul bila kita berani menertawai diri sendiri ? Bukan menertawai hantu, kaum banci atau pocongan. Sehingga dengan sikap jujur dan rendah hati itu mungkin mereka akan lebih mudah tergerak menyetrum diri dengan energi-energi kreatif baru yang bukan berlandaskan kekonyolan demi kekonyolan.
Mungkinkah Prof. Sarlito memiliki saran dan kritik sebagai solusi atas dekadensi tayangan komedi Indonesia dewasa ini ? Tentu saja, beliau pasti punya. Dan dipastikan manjur. Tetapi sayang, nampaknya pemangku kepentingan dunia komedi Indonesia tidak memiliki kepekaan sampai kesadaran diri betapa arah langkah mereka kini sudah memasuki ranah kekonyolan dan kebodohan yang luar biasa.
Semoga suatu saat Mas Ito akan ikut memberikan saran. Tetapi saya tak akan memintanya untuk saat ini. Mungkin nanti sesudah permohonan saya agar beliau sudi menulis endorsement untuk buku saya, Komedikus Erektus, paripurna beliau penuhi. Kini penerbit saya berusaha segera mengirimkan dummy buku tersebut kepada beliau. Hari-hari mendatang saya akan rada merasa deg-degan menunggu, karena buru-buru ingin meresapi apa saja yang hendak Mas Ito nanti tuliskan.
Tetapi saya tidak kuatir. Karena, mungkin ia termasuk dalam mazhab psikologi kebahagiaan dengan pentolan Martin Seligman dari Universitas Pennsylvania (AS), maka masukannya senantiasa mencerahkan dan menumbuhkan optimisme. Itu terbukti dalam email terakhir beliau, saat kami mengobrolkan pola kepemimpinan Joko Widodo sebagai walikota Solo yang melakukan pendekatan secara menang-menang, win-win, dalam mengatasi masalah kemasyarakatan di Solo.
Bandingkan dengan pendekatan model gubrak-gubrak atau lose-win dan lose-lose yang meledak dalam aksi tindak kekerasan aparat sehingga jatuh korban tewas dan luka-luka di Tanjung Priuk, Jakarta Utara, baru-baru ini.
Merujuk prestasi walikota Solo itu, beliau rada menyayangkan mengapa Joko Widodo hari ini "hanya" sebagai walikota saja. Kemudian terkait cerita saya bahwa di tahun 1998 saya bersama Mayor Haristanto mendirikan Forum Bisnis Solo/Forbis dan mengadakan seminar dengan mengundang Dr. Sri Mulyani Indrawati, sementara Joko Widodo sebagai sponsor acara, Mas Ito mencita-citakan Joko Widodo sebagai Menteri Dalam Negeri.
Lalu imbuhnya, "Bambang Haryanto kemudian sebagai staf ahlinya."
Memperoleh endorsement seorang maha guru ternama dari Universitas Indonesia itu, langsung saja, impian saya tiba-tiba melambung warna-warni. Terbius keinginan menjadi staf ahli Menteri Dalam Negeri. Tetapi, lupakanlah, karena pada akhir email Mas Ito itu masih ada tambahannya : "ha-ha-ha-ha."
Wonogiri, 20 April 2010
UP-DATE : 24 April 2010 : Artikel ini juga saya pajang di Facebook. Berikut di bawah ini terdapat beberapa komentar dan sambutan dari teman-teman saya, dan juga tanggapan saya terhadap isi komentar mereka. Semoga makin memperkaya obrolan yang ada. Terima kasih.
Hartadi Wibowo : "Ketika dulu saya (pernah) 4 tahun nongkrong di FSUI, saya merasa (dan tentu saja mata saya melihat ), mahasiswi Fak. Psikologi UI lebih cantik-cantik dibanding mahasiswi Sastra. Mungkin karena yang di Sastra sudah sering lihat, sedangkan yang di Psikologi jarang ketemu. Atau berlaku hukum "rumput tetangga lebih hijau" ? Bagaimana Oom BH ?"
Sunu Wasono : Mas, ditunggu lho buku tentang humor itu. Kabari kalau sudah terbit. Omong-omong soal humor, saya jadi teringat pelawak Bagyo. Dia bilang bahwa humor itu serius. Benar kiranya diperlukan kecerdasan untuk menampilkan humor. Moga-moga segera muncul humoris-humoris yang mau dan mampu mentertawakan diri sehingga setiap hari kita tidak disuguhi adegan orang stres melulu. Makasih Mas. Tulisan njenengan memberikan pencerahan.
Bambang Haryanto : @ Hartadi Wibowo : Thanks, Ted. Kayaknya kau sudah menjawab pertanyaanmu itu. Aku setuju bila sindrom rumput di seberang pagar, yang tak hanya rumput hijau tetapi juga rumput hitam, juga sering memengaruhi kita. C’est la vie. Itulah kehidupan
Bambang Haryanto : @Sunu Wasono : Thanks, Mas Sunu. Bila kelar, Anda akan segera memperoleh kabar. Tentang kajian humor secara serius, Sastra Indonesia UI apa tidak ada minat ya ? Suara dari FSUI yang ada dalam kliping saya adalah pendapat (kolega Anda ?), I. Yoedhi Soenarto, tentang Ketoprak Humor di Gatra, Desember 2001 yang lama lewat.
Literatur serius tentang humor justru pertama kali saya pergoki di perpustakaannya mBak Yayi/FSUI, tahun 1982-an. Pada bukunya Arthur Koestler, The Act of Creation (1964). Ia yang idolanya Sting dari The Police itu bilang, bahwa kebudayaan terbagi tiga ranah : agama, ilmu pengetahuan dan humor.
Sayang, saya tak sempat menfotokopi bab tentang humor dari buku ini, yang antara lain bilang : bila komedian terampil mengolah gagasan ia akan mampu mendekati peran sebagai seorang pemikir atau filsuf, tetapi bila terampil mengolah bahasa, maka komedian bersangkutan mampu hadir sebagai seorang penyair. Ini saya kutip dari almarhum George Carlin, komedian solo legendaris AS, tentang bukunya Koestler itu. Salam.
Harris Cinnamon : “....hanya akan menambah panjang daftar tayangan lawakan di televisi kita yang semata bermodalkan komedian-komedian yang stres pula....”
Sangat benar itu, mBang. tapi alhamdulillahnya, kita tim "penggodoknya" yang ada di balik layar, sesungguhnya sangat tidak ingin hal itu terjadi, sampai detik ini, kita sangat berharap bahwa yang akan kita tampilkan sevisi dengan kita. tapi kalau kenyataannya nanti melenceng, walahualam, berarti: kita tetap akan terus belajar, tapi nggak nemu ilmu kanuragarannya humor (kalo gitu) ha ha...tq
Hari Juniar : Seorang teman bertanya kpd saya, mengapa di pantai itu udaranya panas sekali dibandingkan udara di pegunungan yang sejuk... saya hanya menjawab ringan... Tuhan menciptakan pantai dengan udaranya yg panas, penuh sinar matahari, penuh kegembiraan dan keceriaan.. karena Tuhan menciptakan 'BIKINI'.....
Ugh.. alih2 mo melawak.. teman saya men'cap' saya..sebagai melawan 'Tuhan'.. SARA.. dan predikat2 lain yg menenmpatkan saya sebagai orang yg melecehkan' Tuhan'.. finally saya harus jelaskan panjang lebar dimana letak lucunya... dan dia tetap ga tertawa... ha3...
Mungkin itu yg menyebabkan 'lawakan komedian stress' yg 'laku'.. pemirsa nya males mikir.... dan menurut mas BH kan lawakan itu menjadi ngga lucu lagi ketika sebuah 'punch' yg diharapkan langsung meledakkan tawa, tetapi pemirsa nya 'bengong-bengong'... dan komediannya jadi salah tingkah karena punch nya ngga bikin 'gerrr' dan akhirnya dia harus menjelaskan punch nya panjang lebar dan... pemirsanya tetap tidak tertawa... ha3... tetap semangat mas.. smoga selalu bisa berbagi pemikiran... amiin
Bambang Haryanto : @ Harris Cinnamon. Thanks untuk komentarmu. Komedi itu ibarat gedung dengan “lawang sewu,” di mana setiap orang bisa memasukinya dari pintu yang mana saja. Mungkin kau dan kawan-kawan di TPI dalam menggarap Piala Duniatawa masuk dari pintu 600, dan saya dari pintu 346, teman lain dari pintu 875, semuanya sah-sah saja.
Tetapi menurutku tetap harus ada satu pegangan, meminjam kata Gene Perret : “All comedy must be relevant” dan “The best humor is based on truth.” Dalam pemahaman saya, ya kira-kira begitu itulah inti ilmu kanuragan dalam komedi. Artinya, di dalam tayangan komedi itu kita bisa melihat diri-diri kita di sana dan ketika komedi itu semakin mendekati kasunyatan, kebenaran, realitas, atau kejujuran, akan semakin berpeluang jenaka pula sajian komedi bersangkutan. Sukses selalu.
Bambang Haryanto : @ Hari Juniar : komedian itu, menurutku, harus rendah hati. Kalau sesuatu lelucon tidak meledak [bombed], cepat-cepat ganti yang lain, dan jangan sesekali menyalahkan audiens. Kata Mas Jaya Suprana, sesuatu lelucon akan mendapat sambutan memadai [killing], bila antara komedian dan audiens berada dalam “satu gelombang” yang sama. Repotnya, meraba “gelombang” merupakan skill tersendiri, sehingga komedian top di manca negara perlu survei detil dulu tentang calon audiensnya sebelum ia tampil.
Tetapi tetap ada resep dan solusi manjur untuk itu : carilah KEKURANGAN yang menonjol yang ada pada dirimu sendiri, lalu jadikanlah kekurangan itu sebagai bahan lawakan ! Ingat kata wasiat ibu mentor komedian, Judy Carter, tentang misi luhur komedian dalam peradaban :
“Kita para jenakawan sejati itu makhluk yang bener-bener aneh. Kalau sebagian besar orang berusaha sekuat mungkin menyembunyikan cacat dan celanya, tetapi kita para jenakawan sejati sengaja mempertontonkan semua cacat dan cela kita itu ke muka dunia !”
[PS: beranikah para pemuka agama, birokrat dan politisi melakukan hal yang sama ?].
Harris Cinnamon : "Insya Allah, Bang, karena sesungguhnya itulah yang ingin kita tetapkan, kita ingin mendakati realnya. Terima kasih atas segala masukannya, yang sulit tergantikan dengan apapun."
Jumat, 09 April 2010
Budaya Literasi dan Dunia Komedi Kita
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
Calon pelawak itu kebanyakan orang miskin.
George Burns (1896-1996), contohnya.
“Kami tahu, ayah berasal dari keluarga yang sangat miskin. Dia memiliki saudara lelaki dan perempuan sebanyak sebelas orang, semuanya tidur pada karpet yang sama pada apartemen satu kamar. Tetapi ayah tidak menceritakan semua itu dengan cara biasa. Semua itu tidak menyenangkan. Semua itu tidaklah lucu.”
Sebaliknya, demikian cerita putranya, Ronnie Burns, ayahnya “membuat semua kisah penderitaan itu sebagai cerita-cerita yang lucu. Sebagai tukang cerita ia menyajikan cerita-cerita ringan yang bersumberkan dari realitas hidupnya.”
Sebagaimana dikutip oleh Martin Gottfried dalam buku biografi berjudul George Burns And The Hundred Year Dash (1996), George Burns mengatakan : “Bagi saya, kehidupan nyata adalah bisnis pertunjukan.”
Cerita serupa, atau yang kurang lebih sama, boleh jadi juga akan kita temui pada pelbagai buku biografi untuk pelawak-pelawak kita. Tetapi ketika menerjuni arena audisi Piala Dunia Tawa-nya TPI di Yogyakarta (2/4/2009), dan momen sesudahnya, saya merasakan adanya “kemiskinan” jenis lain pada calon-calon penghibur, termasuk calon pelawak-pelawak kita.
Hal yang sama mungkin sekaligus diderita para pemangku kepentingan terhadap dunia tarik tawa kita selama ini. Tegasnya adalah : kemiskinan dalam budaya literasi.
Bukan pesta intelektual. Stasiun televisi swasta TPI telah menyelenggaraan 5 kali audisi untuk merekrut bibit-bibit baru pelawak Indonesia. Yang bertajuk Audisi Pelawak TPI (API) sudah berlangsung 4 kali (2004, 2005, 2006, 2008) dan yang kelima dengan tajuk Piala Dunia Tawa (2010) sekarang ini.
Kesan yang saya peroleh, semua acara ini kemasannya zakelijk kegiatan audisi semata. Anda datang, mendaftar, melakukan audisi, dan lalu menunggu keputusan tentang lolos atau tidak. Selesai.
Padahal dalam waktu-waktu kosong, baik saat menunggu audisi atau menunggu saat pengumuman, dapat diadakan beragam kegiatan yang bersifat informasional dan edukasional. Katakanlah, pengelola televisi yang membidang dunia lawak-melawak itu membuka isi jeroan-nya kepada masyarakat luas.
Misalnya dengan mengadakan pemutaran film-film pendek komedi, pameran skrip-skrip komedi di televisi, film dokumentasi dibalik layar tentang penyiapan tayangan komedi, pameran bahan-bahan pustaka komedi, sampai pengenalan terhadap situs-situs bimbingan komedi di Internet.
Diramaikan misalnya dengan acara open mic bagi peserta untuk bisa saling mengenalkan diri atau membuang stres, sesi diskusi dengan penulis komedi sampai sutradara acara komedi, sampai arena penjualan pelbagai benda kenangan acara bersangkutan.
Dengan hadirnya beragam kegiatan ini, yang hadir diharapkan bukan hanya para calon-calon komedian, tetapi juga beragam pemangku kepentingan terhadap perkembangan dunia komedi kita. Sebaiknya pada acara pengumuman tentang siapa-siapa saja yang lolos bisa dibuatkan panggung tersendiri, dengan seremoni tertentu pula.
Syukur-syukur pula bila bisa diadakan lomba menulis catatan di Facebook, baik bagi peserta audisi tentang kesan dan pesan mereka, atau pun yang melibatkan audiens, sehingga secara tidak langsung akan menjadi publikasi yang meluas untuk acara bersangkutan.
Merujuk hal-hal di atas, saya agak heran juga : mengapa para penerbit/penulis buku-buku humor dan komedi, sampai buku seputar panduan berkarier sebagai komedian, tidak membuat lapak dalam acara seperti ini ? Bahkan ada lembaga yang berambisi sebagai pusat dokumentasi komedi, tetapi mengapa mereka juga tidak memiliki perhatian terhadap hajatan sebesar ini pula ?
Apakah justru para calon komedian itu bukan dianggap sebagai pasar bagi produk-produk mereka ?
Saya tidak tahu. Kalau saja buku humor/komedi saya Komedikus Erektus saya sudah terbit, saya akan membuka lapak. Kalau di dalam arena tidak boleh atau tidak bisa, di trotoar pun jadi.
Indonesia butuh komedian. Seusai mengikuti audisi Piala Dunia Tawa di Gedung Wanitatama Yogya sore itu, saya memutuskan berjalan kaki sampai Janti. Saya melihat pusat pertokoan, kantor perusahaan swasta dan pemerintah, sampai restoran, kafe dan hotel. Hemat saya, semua lembaga itu memerlukan kehadiran para komedian.
Bahkan di era demokrasi ini, Indonesia sebenarnya semakin banyak membutuhkan jasa komedian. Utamanya komedian yang pemarah a la Lewis Black, untuk garang melucukan, menghardik dan sekaligus melecehkan para pejabat negara dan juga penegak hukum yang melakukan tindak korupsi yang membuat kita terkejut-kejut akhir-akhir ini. Semua tindakan culas sampai sikap munafik mereka itu pantas diberi hukuman secara sosial.Mereka harus menjadi bahan tertawaan. Agar nurani bangsa ini tetaplah waras.
Kata Jay Sankey dalam bukunya Zen and The Art of Stand-Up Comedy (1998), bahwa setiap lelucon yang dahsyat haruslah mampu menimbulkan korban bergelimpangan. Semakin jelas korban yang dimaksud, semakin menggigit pula lawakan bersangkutan.
Tetapi untuk mampu mencapai taraf itu, bukan hal yang mudah. Utamanya bagi pelawak kita. Karena lawakan yang mampu menggigit ulah pejabat-pejabat culas itu, merujuk kaidah piramid komedi dari Steve Ray, merupakan puncak dari pencapaian komedi itu sendiri. Ia telah menggolongkan komedi dalam tujuh tingkat, yaitu komedi fisik, komedi porno, storyline, bahasa, imitasi, kontradiksi karakter dan yang paling puncak adalah satir.
Agar mampu meraih keandalan dalam menyajikan satir, bahkan juga pada enam tingkat komedi di bawahnya, fondamennya kurang lebih tetaplah sama : dibutuhkan topangan budaya literasi, budaya baca-tulis yang kuat. Kevin Kelly, seorang maverick dari majalah gaya hidup digital Wired mengatakan dalam salah satu artikelnya betapa orang yang tumbuh dalam lingkungan teknologi baca dan tulis berfikir dengan cara berbeda.
“Saya tidak bermaksud mengatakakan bahwa orang berfikir berbeda ketika membaca. Membaca dan menulis merupakan sarana kognitif yang begitu kita kuasai akan merubah cara otak dalam mengingat fakta dan mengkonseptualisasikan gagasan, dan pelbagai perubahan tersebut akan merangsang kinerja pemikiran secara abstraks.”
Terima kasih, Kevin.
Sebagai orang yang berusaha menumbuh-numbuhkan embrio lawakan berdasarkan gagasan, idea-driven jokes, pendapat Kevin Kelly itu semakin membuat saya percaya diri. Saya rupanya, mudah-mudahan, telah menempuh arah yang benar.
Belajar dari CSI. Beberapa hari kemudian, saya memperoleh sms. Rupanya dari peserta audisi di Yogya yang gagal, tetapi nampaknya ia ingin mengikuti lagi di Bandung. Semangat yang pantas dihargai.
Ia bertanya apakah saya memiliki konsep lawakan. Maksudnya mungkin set, naskah lawakan. Saya bilang, saya tidak punya. Lalu saya usulkan : silakan baca koran dan lihat TV. Di sana banyak materi untuk bisa dijadikan bahan lawakan. Setiap berita headline berpeluang ditekuk sana-sini menjadi materi komedi !
Sekadar contoh, koran Kompas Minggu (4/4/2010) memajang laporan tentang kisah-kisah di balik pembuatan film seri terkenal, CSI, di Amerika Serikat. Yang menonjol antara lain cerita bahwa, begitu muncul berita tentang tindakan kriminal tertentu, di media massa, para awak kreatif dan penulis naskah dari film seri itu segera mendiskusikannya sebagai bahan cerita serial film itu berikutnya.
Usul saya itu mungkin membuatnya patah hati. Tetapi, itulah realitanya. Jalan untuk menjadi komedian memang seringkali juga bukan jalan yang mudah. Utamanya bagi mereka yang miskin. Tentu saja tidak hanya menyangkut masalah miskin dalam harta, tetapi terutama yang miskin wawasan, miskin semangat untuk teguh dan kukuh, miskin untuk terus dan terus belajar memperkaya isi kepala mereka dengan wawasan-wawasan baru pula.
Pesan singkat yang lain, kemudian juga saya terima. Dari nomor berbeda. Balasan dari sebuah kelompok yang berhasil lolos ke Jakarta, yang sebelumnya saya usulkan agar memiliki akun Facebook dan blog untuk menulis kisahnya di sana. Sebagai sarana promosi mereka sejak dini. Pimpinan kelompok itu hanya menjawab dengan “ha-ha-ha.” Sembari mengaku dirinya sebagai gaptek, apa adanya.
Masih muda kok mistek.Miskin teknologi.
Apa kata dunia ?
Wonogiri, 9/4/2010
Email : humorliner (at) yahoo.com
Calon pelawak itu kebanyakan orang miskin.
George Burns (1896-1996), contohnya.
“Kami tahu, ayah berasal dari keluarga yang sangat miskin. Dia memiliki saudara lelaki dan perempuan sebanyak sebelas orang, semuanya tidur pada karpet yang sama pada apartemen satu kamar. Tetapi ayah tidak menceritakan semua itu dengan cara biasa. Semua itu tidak menyenangkan. Semua itu tidaklah lucu.”
Sebaliknya, demikian cerita putranya, Ronnie Burns, ayahnya “membuat semua kisah penderitaan itu sebagai cerita-cerita yang lucu. Sebagai tukang cerita ia menyajikan cerita-cerita ringan yang bersumberkan dari realitas hidupnya.”
Sebagaimana dikutip oleh Martin Gottfried dalam buku biografi berjudul George Burns And The Hundred Year Dash (1996), George Burns mengatakan : “Bagi saya, kehidupan nyata adalah bisnis pertunjukan.”
Cerita serupa, atau yang kurang lebih sama, boleh jadi juga akan kita temui pada pelbagai buku biografi untuk pelawak-pelawak kita. Tetapi ketika menerjuni arena audisi Piala Dunia Tawa-nya TPI di Yogyakarta (2/4/2009), dan momen sesudahnya, saya merasakan adanya “kemiskinan” jenis lain pada calon-calon penghibur, termasuk calon pelawak-pelawak kita.
Hal yang sama mungkin sekaligus diderita para pemangku kepentingan terhadap dunia tarik tawa kita selama ini. Tegasnya adalah : kemiskinan dalam budaya literasi.
Bukan pesta intelektual. Stasiun televisi swasta TPI telah menyelenggaraan 5 kali audisi untuk merekrut bibit-bibit baru pelawak Indonesia. Yang bertajuk Audisi Pelawak TPI (API) sudah berlangsung 4 kali (2004, 2005, 2006, 2008) dan yang kelima dengan tajuk Piala Dunia Tawa (2010) sekarang ini.
Kesan yang saya peroleh, semua acara ini kemasannya zakelijk kegiatan audisi semata. Anda datang, mendaftar, melakukan audisi, dan lalu menunggu keputusan tentang lolos atau tidak. Selesai.
Padahal dalam waktu-waktu kosong, baik saat menunggu audisi atau menunggu saat pengumuman, dapat diadakan beragam kegiatan yang bersifat informasional dan edukasional. Katakanlah, pengelola televisi yang membidang dunia lawak-melawak itu membuka isi jeroan-nya kepada masyarakat luas.
Misalnya dengan mengadakan pemutaran film-film pendek komedi, pameran skrip-skrip komedi di televisi, film dokumentasi dibalik layar tentang penyiapan tayangan komedi, pameran bahan-bahan pustaka komedi, sampai pengenalan terhadap situs-situs bimbingan komedi di Internet.
Diramaikan misalnya dengan acara open mic bagi peserta untuk bisa saling mengenalkan diri atau membuang stres, sesi diskusi dengan penulis komedi sampai sutradara acara komedi, sampai arena penjualan pelbagai benda kenangan acara bersangkutan.
Dengan hadirnya beragam kegiatan ini, yang hadir diharapkan bukan hanya para calon-calon komedian, tetapi juga beragam pemangku kepentingan terhadap perkembangan dunia komedi kita. Sebaiknya pada acara pengumuman tentang siapa-siapa saja yang lolos bisa dibuatkan panggung tersendiri, dengan seremoni tertentu pula.
Syukur-syukur pula bila bisa diadakan lomba menulis catatan di Facebook, baik bagi peserta audisi tentang kesan dan pesan mereka, atau pun yang melibatkan audiens, sehingga secara tidak langsung akan menjadi publikasi yang meluas untuk acara bersangkutan.
Merujuk hal-hal di atas, saya agak heran juga : mengapa para penerbit/penulis buku-buku humor dan komedi, sampai buku seputar panduan berkarier sebagai komedian, tidak membuat lapak dalam acara seperti ini ? Bahkan ada lembaga yang berambisi sebagai pusat dokumentasi komedi, tetapi mengapa mereka juga tidak memiliki perhatian terhadap hajatan sebesar ini pula ?
Apakah justru para calon komedian itu bukan dianggap sebagai pasar bagi produk-produk mereka ?
Saya tidak tahu. Kalau saja buku humor/komedi saya Komedikus Erektus saya sudah terbit, saya akan membuka lapak. Kalau di dalam arena tidak boleh atau tidak bisa, di trotoar pun jadi.
Indonesia butuh komedian. Seusai mengikuti audisi Piala Dunia Tawa di Gedung Wanitatama Yogya sore itu, saya memutuskan berjalan kaki sampai Janti. Saya melihat pusat pertokoan, kantor perusahaan swasta dan pemerintah, sampai restoran, kafe dan hotel. Hemat saya, semua lembaga itu memerlukan kehadiran para komedian.
Bahkan di era demokrasi ini, Indonesia sebenarnya semakin banyak membutuhkan jasa komedian. Utamanya komedian yang pemarah a la Lewis Black, untuk garang melucukan, menghardik dan sekaligus melecehkan para pejabat negara dan juga penegak hukum yang melakukan tindak korupsi yang membuat kita terkejut-kejut akhir-akhir ini. Semua tindakan culas sampai sikap munafik mereka itu pantas diberi hukuman secara sosial.Mereka harus menjadi bahan tertawaan. Agar nurani bangsa ini tetaplah waras.
Kata Jay Sankey dalam bukunya Zen and The Art of Stand-Up Comedy (1998), bahwa setiap lelucon yang dahsyat haruslah mampu menimbulkan korban bergelimpangan. Semakin jelas korban yang dimaksud, semakin menggigit pula lawakan bersangkutan.
Tetapi untuk mampu mencapai taraf itu, bukan hal yang mudah. Utamanya bagi pelawak kita. Karena lawakan yang mampu menggigit ulah pejabat-pejabat culas itu, merujuk kaidah piramid komedi dari Steve Ray, merupakan puncak dari pencapaian komedi itu sendiri. Ia telah menggolongkan komedi dalam tujuh tingkat, yaitu komedi fisik, komedi porno, storyline, bahasa, imitasi, kontradiksi karakter dan yang paling puncak adalah satir.
Agar mampu meraih keandalan dalam menyajikan satir, bahkan juga pada enam tingkat komedi di bawahnya, fondamennya kurang lebih tetaplah sama : dibutuhkan topangan budaya literasi, budaya baca-tulis yang kuat. Kevin Kelly, seorang maverick dari majalah gaya hidup digital Wired mengatakan dalam salah satu artikelnya betapa orang yang tumbuh dalam lingkungan teknologi baca dan tulis berfikir dengan cara berbeda.
“Saya tidak bermaksud mengatakakan bahwa orang berfikir berbeda ketika membaca. Membaca dan menulis merupakan sarana kognitif yang begitu kita kuasai akan merubah cara otak dalam mengingat fakta dan mengkonseptualisasikan gagasan, dan pelbagai perubahan tersebut akan merangsang kinerja pemikiran secara abstraks.”
Terima kasih, Kevin.
Sebagai orang yang berusaha menumbuh-numbuhkan embrio lawakan berdasarkan gagasan, idea-driven jokes, pendapat Kevin Kelly itu semakin membuat saya percaya diri. Saya rupanya, mudah-mudahan, telah menempuh arah yang benar.
Belajar dari CSI. Beberapa hari kemudian, saya memperoleh sms. Rupanya dari peserta audisi di Yogya yang gagal, tetapi nampaknya ia ingin mengikuti lagi di Bandung. Semangat yang pantas dihargai.
Ia bertanya apakah saya memiliki konsep lawakan. Maksudnya mungkin set, naskah lawakan. Saya bilang, saya tidak punya. Lalu saya usulkan : silakan baca koran dan lihat TV. Di sana banyak materi untuk bisa dijadikan bahan lawakan. Setiap berita headline berpeluang ditekuk sana-sini menjadi materi komedi !
Sekadar contoh, koran Kompas Minggu (4/4/2010) memajang laporan tentang kisah-kisah di balik pembuatan film seri terkenal, CSI, di Amerika Serikat. Yang menonjol antara lain cerita bahwa, begitu muncul berita tentang tindakan kriminal tertentu, di media massa, para awak kreatif dan penulis naskah dari film seri itu segera mendiskusikannya sebagai bahan cerita serial film itu berikutnya.
Usul saya itu mungkin membuatnya patah hati. Tetapi, itulah realitanya. Jalan untuk menjadi komedian memang seringkali juga bukan jalan yang mudah. Utamanya bagi mereka yang miskin. Tentu saja tidak hanya menyangkut masalah miskin dalam harta, tetapi terutama yang miskin wawasan, miskin semangat untuk teguh dan kukuh, miskin untuk terus dan terus belajar memperkaya isi kepala mereka dengan wawasan-wawasan baru pula.
Pesan singkat yang lain, kemudian juga saya terima. Dari nomor berbeda. Balasan dari sebuah kelompok yang berhasil lolos ke Jakarta, yang sebelumnya saya usulkan agar memiliki akun Facebook dan blog untuk menulis kisahnya di sana. Sebagai sarana promosi mereka sejak dini. Pimpinan kelompok itu hanya menjawab dengan “ha-ha-ha.” Sembari mengaku dirinya sebagai gaptek, apa adanya.
Masih muda kok mistek.Miskin teknologi.
Apa kata dunia ?
Wonogiri, 9/4/2010
Langganan:
Postingan (Atom)






